Iman kepada Allah

 

(Rina Fajrin Jurusan: Bahasa Dan Sastra Inggris 2009)
…“Bukankah aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”… (QS. Al-A’raf:172)
Sahabat, ingatkah ketika kita masih berada di alam ruh? Kita melakukan sebuah persaksian bahwa kita adalah seorang hamba dari Tuhan kita. Tentu saja tidak akan ada yang sadar, tapi itulah salah satu ayat yang Allah firmankan kepada kita apa yang kita tidak tahu. Hal tersebut merupakan sebuah langkah awal bagi kita selaku umat manusia untuk beriman kepada Allah.
Sudah sepantasnya kita sebagai manusia menyadari pentingnya beriman kepada Allah SWT. Bukan cuman dinyanyikan saja, tapi juga diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan. Iman kepada wujud Allah dibuktikan dengan fitrah, akal, syara’ dan indera.
1.      Bukti Fitrah
Setiap makhluk mempunyai fitrah untuk beriman kepada sang Pencipta. Meskipun orang tersebut menganggap bahwa dirinya tidak beragama, tapi di dalam hatinya pasti masih merasa bahwa ada kekuatan yang lebih hebat bahkan sangat hebat dibandingkan dirinya.
2.      Bukti akal
Semua makhluk pasti ada yang menciptakan, tidak mungkin tidak ada yang menciptakan. Dan juga tidak mungkin makhluk menciptakan dirinya sendiri. Tidak hanya makhluk, benda-benda mati seperti batu, angin, air dan lain-lain pasti ada yang menciptakan, tidak mungkin ada secara kebetulan. Allah berfirman dalam surat Ath-Thur:
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak  meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Robbmu atau merekalah yang berkuasa?” (Q.S. Ath-Thur: 35-37)
3.      Bukti Syara’
Bukti syara’ tentang wujud Allah SWT ada dalam kitab-kitab samawi. Seluruh hukum yang mengandung kemaslahatan manusia, berita-berita alam semesta dll, merupakan bukti bahwa kitab-kitab tersebut berasal dari Allah SWT.
4.      Bukti Indera
Bukti indera tentang wujud Allah dibagi menjadi dua:
a.       Kita mendengar dan menyaksikan orang-orang yang terkabul do’anya. Sebagaimana firman Allah SWT:
Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Robbmu, lalu diperkenankannya bagimu …” ( QS. Al-Anfal : 9)
b.      Mukjizat-mukjizat yang diturunkan kepada para nabi merupakan bukti bahwa Allah menurunkan para utusan-Nya ke dunia. Contoh mukjizat yang pertama adalah tongkat Nabi Musa, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukul laut dengan tongkatnya, lalu terbelah laut tersebut menjadi sebuah jalan. Sebagaiman firman Allah SWT yang berbunyi:
“Lalu Kami mewahyukan kepada Musa : ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” ( QS. Asy-Syuara’ : 63).
Yang kedua adalah mukjizat Nabi Isa AS yang bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati, lalu mengeluarkanya dari kubur dengan seizin Allah, yang dibuktikan dengan Q.S Al-Imran:49 dan Q.S. Al-Maidah:10:
“…dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah…” (QS. Al-Imran : 49).
“…dan (ingatlah) ketika kamu mengeluarkan orang mati dari kuburnya (menjadi hidup) dengan izinKu…”
( QS. Al-Maidah : 110).
Yang ketiga adalah mukjizat Nabi Muhammad SAW, yaitu beliau mengisyaratkan pada bulan, lalu terbelahlah bulan itu menjadi dua, dan orang-orang dapat menyaksikannya.  Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Q.S. Al-Qomar 1-2:
“Telah dekat (datangnya) saat (kiamat) dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrik) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata : ‘(ini adalah) sihir yang terus-menerus’.”
Selain itu kita pun harus mengimani Rububiyah Allah SWT. Maksudnya adalah kita harus mengimani bahwa Allah SWT adalah Pencipta, Penguasa, dan Pengatur segala yang ada di alam semesta ini. Dari segi uluhiyah, yaitu kita harus mengimani Allah adalah Illah (sembahan) Yang hak , yang patut kita sembah. Selain daripada itu adalah batil. Keimanan seseorang pun belum lah lengkap, jika dia tidak mengimani Asma’ul Husna. Asma’ul Husna adalah Nama-nama yang baik sekaligus sifat-sifat yang maha sempurna dan luhur. Dan kita juga mengimani keesaan Allah, bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya baik dalam rububiyah, uluhiyah, maupun Asma’ dan sifat-sifat-Nya.  Allah berfirman dalam Q.S. Maryam ayat 56:
(Dia adalah) Tuhan seluruh langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Adakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya (yang patut disembah)?”.
            Setelah kita mengetahui pentingnya beriman kepada Allah, jangan lagi kita melalaikan perintah-Nya. Misalnya, ketika sudah memasuki waktu shalat dan terdengar adzan, segeralah kita melaksanakan shalat, jangan ditunda-tunda. Meskipun kita dalam keadaan sibuk sedang mengerjakan tugas atau hal lainnya, karena yang memanggil kita untuk bertemu bukanlah manusia, melainkan Rabb yang menciptakan dan mengatur segala kehidupan kita. Ketika kita merasa pintar dan berhasil dalam mencapai apa yang kita inginkan, ingatlah semuanya datang dari Allah. Karena tanpa bantuan-Nya kita tidak akan menjadi seperti itu.
            Semoga apa yang dijelaskan diatas, dapat menjadi pelajaran bagi sahabat-sahabat dan dapat menambah keimanan kepada Allah SWT.
 (Sumber : Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Yayasan Al-Sofwa Jakarta 1995) dan http://yudhim.blogspot.com/2008/10/beriman-kepada-allah.html

ANTOLOGI PUISI PESERTA DISKUSI KEPENULISAN

Komunitas Menulis Al-Qolam
(Selasa 20 Desember 2011 @Mesjid Al-Furqan UPI)


Sampah
(Karya: Fikri)
Aaaaah…..
Salahkah bila aku marah?
Marah pada seonggok sampah,
Penebar penyakit yang mewabah,
Penyebab banjir yang melimpah ruah,
Apa salah sampah?
Manusialah yang bersalah,
Membuang sampah tak tentu arah,
Buanglah sampah pada tempat sampah,
Yah, yah, yah……
Sang Idola
(Karya: Setiawan)
Ya…Rasul…
Bila kutapaki jejak perjuanganmu
Engkau emban amanah amat mulia
Menuntun umat manusia menuju cahaya…
Sungguh… engkaulah dambaanku.
Tirai Cahaya
(Karya: Indra)
Melodi indah terlantun dalam nyanyian angin
Menerpa ombak dalam keheningan
Lentera hati menyala terang
Menyinari kelemahan dalam tirai cahaya
Tiap insan.
Hijrah
(Karya: N.Fitriani)
Gurun pasir yang membentang
Mentari yang menyengat
Lelah yang menyergap
Musuh yang mengejar
Tak goyahkan langkahmu
Wahai Nabi…
Meninggalkan rumah
Meninggalkan tanah air
Karena titah-Nya
Menyambut perintah-Nya
Menuju Madinah.
Rindu
(Karya: Yani)
Air mata yang berlinang
Menyelimuti kalbu
Menahan sang mentari
Yang akan menyinari kehidupan
Lebah Madu
(Karya: Reni)
Ibuku lebah madu
Lebah yang siap menyengat
Ketika terusik
Sakit sengatan itu tersimpan
Makna di dalamnya
Sebuah madu yang manis
Berbuah kebahagiaan
Kenangan
(karya: Arsil Rahmatillah)
Kupejamkan mata ini
Untuk lebih membuka mata hati
Waktu mengajak imajinasiku menari
Menari dan terhanyut dalam
Masa yang indah takan pernah kembali
Dirimu Satu
Disaat aku terpuruk dan jatuh
Engkau selalu ada dan menemaniku
Menjadi api dalam dukaku
Yang membara tak pernah padam
Begitupun disaat aku senang
Engkau selalu hadir dengan senyuman
Seakan ikut merasakan kebahagiaanku
Engkau selalu mengingatkanku dalam segala hal.


Penyesalan Seorang Anak
(Karya: Imas Masyitoh)
Ya..Allah aku tak tahu apa rencanamu berikutnya terhadap hambaMu ini,
Aku masih ingin bersama ibu di dunia ini
Meskipun aku berusaha sabar dan kusadari
semua orang akan kembali padaMu
Namun, beri aku kesempatan lagi untuk bias membuat ibu tersenyum.
Ya Allah aku ingin ibu menjadi satu-satunya orang yang paling bahagia di dunia ini, melihat aku bias sukses seperti orang lain yang sukses.
Aku sering jauh darinya karena tugas dan amanahMu untuk menuntut ilmu.
Aku masih asyik dalam dunia yang sementara dan asyik menikmati masa muda,
sungguh aku sering lupa jasa-jasa ibu selama ini.
Aku tersadar ketika sekarang ibu sedang berbaring sakit di kasur kumuh ini.
Aku bahkan tidak bias berbuat apa-apa ketika dia sakit,
padahal saat aku sakit ibu selalu mendampingi dan mengobati.
Aku sungguh anak yang tidak bisa membalas jasa ibu.
Ya Allah sudah terlalu banyak salahku padaMu,
karena aku jarang sekali membaca kitab panduanku,
padahal jika aku mendalami firmanMu,
sedikitnya aku bias membahagiakan ibuku.
Dengan lantunan bacaan ayat-ayat firmanMu.
Ya Allah sudah terlalu sering suaraku kasar kepada ibu.
Sudah terlalu banyak kekurangsopanan sikapku padanya.
Sudah tak bisa terlampaui lagi dosaku pada ibu.
Aku mohon maafkanlah kesalahanku ini,
sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa,
dan hamba mohon sembuhkanlah ibu,
berilah kesempatan buat hambamu ini,
untuk bisa membuat senyum manis ibuku tercinta.

Goresan Inspirasi Penggugah Hati