Category Archives: Syair untuk Mesir

Ebook Gratis “Syair Untuk Mesir”

Al Qolam

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah Swt, akhirnya buku antologi puisi ”Syair untuk Mesir” selesai penggarapannya. Setelah menjalani proses yang cukup panjang, buku kumpulan puisi yang dikhususkan sebagai bentuk kepedulian terhadap konflik di Mesir bulan Agustus kemarin. Awal rencananya, buku ini akan terbit cepat sekitar dua minggu setelah ditutupnya sayembara dalam bentuk e-book. Sayangnya, karena ada beberapa halangan yang akhirnya membuat buku ini baru bisa diterbitkan sekarang. Kami dari segenap panitia memohon maaf atas hal ini.

Buku ini berisikan 63 puisi yang menyuarakan kepeduliaannya atas peristiwa berdarah di Mesir yang terjadi pada kurun Agustus 2013 lalu. Peristiwa ini memakan banyak korban jiwa dari kaum muslimin dan menjadi kenangan yang takkan terlupakan oleh seluruh manusia di dunia.

Puisi-puisi ini merupakan kumpulan dari hasil karya berbagai kalangan, mulai dari para penulis, karyawan, mahasiswa, hingga pelajar. Semoga puisi ini dapat mengingatkan pada para saudara kita di Mesir sana serta saudara-saudara muslim kita di negara lain yang juga sedang mengalami ujian yang tak kalah beratnya. Setidaknya, dengan puisi-puisi ini, kita dapat terketuk untuk mendoakan mereka.

Bagi Shohibul Qolam yang ingin mendapatkan ebook “Syair Untuk Mesir” versi PDF, silakan klik di sini.

Mesir Dalam Kelabu

oleh Muhammad Agya

Bulan kembali buram
Dengan gulita yang mencekam
Pasir-pasir ikut terdiam
Saat datang pasukan kelam
Menyapa salam temaram
Dengan senjata bungkam
Skenario kudeta paling Kejam

Resah mata memandang,
isak tangis anak malang
Dengan kaki bergetar kencang,
membawa jasad orang tua telah terganyang,

Gelisah hati meradang,
senjata tajam meluncur tak terhalang
Menembus gumpalan daging seperti bawang,
yang dengan mudah diiris pedang

Jerit suara membayang,
penantian suami untuk pulang,
Hanya tinggal kenangan kerontang,
Jihad dalam perang

Di bawah panggung wayang,
militer berdiskusi strategi pecundang
Strategi As-Sisi sebagai Dalang

Sketsa militer penuh pembantaian

Wanita, anak tak berdosa kian menjadi korban
Siang malam timah panas berpacu penuh desingan
Gas air mata, senjata api menjadi sebuah kebiasaan
Kebiasaan militer mesir membubarkan para demonstran
Rumah tak lagi aman
Saat sekolah dan rumah sakit menjadi saksi pembakaran
Al-Adawiya pun dibumihanguskan
Sniper semakin lantang
Dengan pelan
Membinasakan para pejuang kebenaran
Bersembunyi dibalik atap dinding ketakutan

Apakah kita akan terus mengabaikan?
Apakah kita akan terus menutup mata akan segala pembantaian?
Masih pantas kah kita mengagung-agungkan media hiburan?
Sementara darah dan air mata mereka tak kunjung pelan
Sementara telinga-telinga kecil terbiasa mendengar suara tembakan

Dan tidur beralaskan ketakutan
Berselimutkan gelisah pembantaian
Atas manusia yang tidak memiliki rasa kemanusiaan

Apakah masih pantas disebut manusia?

Sungai Nil menjadi saksi,
Gurun Sahara ikut menangisi,
Atas perjuangan jihad para mujahid
Mengemban islam hingga mati syahid

Merekapun juga melawan!
Air mata menghiasi shalat malam para penggenggam kebenaran
Alunan do’a mengalun menghiasi langit langit yang tak berkian
Ibadah menjadi pilar utama mereka mengumpulkan kekuatan
Dengan bersenjatakan al Qur’an
menghiasi hati para mujahid mujahidah penuh dengan kedamaian
Dengan nilai indah islam.

Buka mata, buka telinga!
Saat media tak lagi dapat dipercaya
Saat pembantaian menjadi sebuah rencana
Untuk memutar balikan fakta
Dengan kedzaliman sebagai tumbal utama

Rapatkan barisan kita
Siapkan do’a terbaik untuk mereka
Do’a untuk negara para nabi
Semoga Allah senantiasa mengampuni

Mesir, dalam kelabu
Kami terus berdoa untukmu
Seiring meluncurnya peluru
Dan sebanyak pasir-pasir yang bisu
Semoga Allah senantiasa menjaga dan meneguhkanmu
Akan pemimpin islam penghafal quran mu
Terus berjuang dengan akhlak dan tauhid yang tak terkalahkan oleh waktu
Sampai kedzaliman kembali menjadi tabu
Dari waktu lalu hingga tak tertuju waktu
Kami akan terus bersamamu

Muhammad Agya_Bekasi_Universitas Gunadarma_Hamba Allah

Duka Dunia

oleh Melati P Putri

Kami terus berduka
Lewat kering air mata
Luka batin menganga basah
darah sanak saudara di atas tanah
leluhur jadi gersang campur debu
pasukan berpeluru penuh nafsu

Kami masih berduka
Tiap pasang mata dunia berdoa
Biar rela terbuka mata hati
juga seluruh nurani negeri ini

(21/08/13)
Oleh:
Melati P Putri_Bekasi_Universitas Indonesia Depok_Makhluk ciptaan Tuhan Semesta Alam

Langit Merah di Rab’ah El-Adawiyah

oleh Salwa Abi

Ramadhan mengisyaratkan kematian
seperti dedahanan kurma yang berguguran
berkas-berkas ingatanku sejenak lumpuh
menonton laki-laki dahaga membantai saudaranya,
monumen sadat.
Membuatku berfikir apakah aku gila
ada lelaki berjenggot lebat mendiamkan pembantaian

sungai nil menyerpih sedih
seperti anakmu meminta bantuanmu

Ramadhan lalu seakan rintik hujan dimata seluruh jiwa
mata yang terjaga oleh hembus sejarah
sejarah yang tercemari
sisa-sisa otakku menjadi pecah
memaklumi pembantaian yang disponsori
Lapangan Rabe’a.
Menjadikanku bertanya apakah aku gila
ada lelaki bersorban putih mentertawai pembunuhan

seluruh kota bersidekap
menyimak lirih nafas puasa
seluruh daun-daun kurma yang beterbangan

ramadhan kali ini, debu menafsirkan debu
kabut-kabut berebut tempat sembunyi
tentang An Nahdah yang banjir darah
dan orang-orang berebut suara untuk mendebatkan
hak-hak orang-orang yang telah menjadi mayat

dan hari ini kita menjadi saksi sejarah,
tentang merah di Rabah El-adawiyah.
Dan kita menjadi pendebat tiba-tiba tanpa berbuat apa-apa.

Achmad Miladi alumni SMK MUHAMMADIYAH TEGAL ini anggota aktif FLP TEGAL dan menjadi ketua Pemuda Muhamadiyah Pakulaut. Menyukai menulis, karyanya sudah diterbitkan di media-media berupa cerpen , puisi dan lain-lain