Category Archives: Esai

Jadilah Muslim Dunia Akhirat ! Bukan ‘Sufi Loncat’ !

#3

Dunia kini terlihat semnakin menjepit, umat Islam tidak lagi mendapatkan kejayaannya. Bayangkan saja, umat Islam yang notabene adalah umat terbesar di dunia bahkan tidak mampu menghentikan perbuatan nista Zionis terhadap Palestina. Seringkali dipertanyakan, apa sebenarnya yang membuat umat Islam begitu terpuruk saat ini, padahal dulunya merupakan imperium terbesar yang mampu menaklukkan dua imperium penguasa dunia?

Dalam buku “HEBAT” yang ditulis oleh Kang Mujib, Rektor Unissula, Professor Laode menyatakan bahwa sebab lemahnya umat Islam saat ini adalah lantaran dominan pikiran umat Islam, bahwa ketakwaan tak bisa beriringan dengan kekayaan dan ilmu dunia. Semakin takwa seseorang  hendaknya semakin jauh dari kekayaan dan dunia. Cara berpikir seperti ini membuat umat Islam malas bekerja, berkarya, dan hanya sibuk memikirkan urusan ibadah. Padahal sejatinya Rasulullah sendiri telah mengajarkan kita untuk tidak melupakan mu’amalah kepada sesame dan dunia. Bisa kita bayangkan, bagaimana mungkin umat Islam kini saling membantu, karena bahkan untuk menafkahi diri sendiri saja susah. Bagaimana mungkin umat Islam kini bisa dibilang maju kalau untuk belajar ilmu dunia saja setengah setengah atau bahkan tidak sama sekali.

Sebagai seorang muslim haqiqi, tentunya kita tidak boleh melupakan mu’amalah akan dunia. Bahkan Rasulullah juga tidak hanya mementingkan akhirat dan melupakan dunia. Hal ini terlihat jelas dari do’a yang sering beliau panjatkan “Rabbana Aatina fiddun ya hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qina ‘adzabannar”. Simak dengan benar do’a tersebut, sebelum Rasulullah meminta kebaikan akhirat, beliau meminta dulu kebaikan dunia. Karena jika umat Islam tidak bisa menguasai dunianya, bagaimana mungkin umat Islam bisa menjadi khalifah dan masuk jannatunna’im.

Sekarang, mari kita mundur ke belakang, ke zaman dimana Islam mendapatkan kejayaannya, dimana Islam diagungkan bahkan oleh umat non-Islam. Jika ditilik dengan seksama, zaman-zaman keemasan tersebut bisa terwujud karena umat Islam tidak pernah melupakan dunia walau tetap berorientasi pada akhirat. Mereka hidup sederhana namun bukan berarti mereka miskin. Coba jawab, apakah seorang Usman bin Affan, Umar Bin Khattab, Abdurrahman Bin Auf, dan Abu Bakar Shiddiq adalah seorang pedagang biasa? Tidak, mereka adalah pedagang yang sangat sukses. Untuk ukuran zaman ini, mungkin kekayaan mereka bisa berupa perusahaan-perusahaan yang telah memiliki cabang di seluruh pelosok Indonesia.

Nabi Muhammad sendiri adalah seorang yang juga sangat mapan ekonominya. Lihat saja, ketika melamar Khadijah, dikisahkan bahwa Rasulullah memberikan mahar sebanyak 200 ekor unta (riwayat lain mengatakan 150, 100, dan yang paling sedikitnya 7 unta). Jika dilihat dari segi ekonominya, unta yang saat itu merupakan kendaraan terbaik dunia bisa jadi sama mahalnya dengan BMW yang juga merupakan kendaraan terbaik masa ini. Bayangkan saja, pernahkah kita melihat seseorang pada zaman ini memberikan mahar pernikahan senilai 200 BMW?

Perhatikan lagi diri kita masing-masing, lakukan muhasabah berulang kali. Apakah kita sudah mengikuti apa yang telah Rasulullah dan para sahabat lakukan? Ketahuilah, agar umat Islam bisa mendapatkan kembali kejayaannya, tentulah harus dimulai dari pribadi masing-masing. Maka hendaknya perspektif ‘Sufi Loncat’  itu harus segera dihilangkan dari benak kita. Jangan menjadi seorang muslim yang hanya tau ibadah ilahiyah, yang ketika menghadapi dunia cepat menyerah dan putus asa. Jangan menjadi sufi loncat yang menganggap dunia tidak penting. Dan jangan menjadi seorang muslim yang pasrah akan IPTEK dan Cuma mementingkan ilmu agama saja. Jadilah Muslim Dunia Akhirat ! Muslim yang tidak ketinggalan zaman dan akan menjadi Ahli Surga. Aamiin.

Rahzad, Bandung Juni 2016

10 Kesalahan Dosen kepada Mahasiswanya:

Oleh: Enggi Julianto (Mahasiswa PGSD angktan 2013)

1. Memberi tugas (PR) yang tidak pernah diperiksa, apalagi dibahasnya.
2. Sering menghabiskan waktu di dalam kelas untuk ngomel-ngomel agar mahasiswanya menjadi takut dan ia menjadi dosen yang disegani (berwibawa).
3. Menghindari pemberian nilai sempurna (100) atau A untuk mahasiswanya, dengan alasan nilai tersebut hanya milik Tuhan.
4. Menetapkan aturan disiplin yang keras bagi mahasiswanya, tetapi tidak berlaku bagi dirinya.
5. Memberi pelajaran yang tidak terarah, sehingga mahasiswa tidak tahu di mana titik startnya, dan akan kemana titik akhir (semester)nya.
6. Merasa diri paling pandai di kelas, sehingga tak seorangpun mahasiswa boleh menyanggahnya.
7. Tidak memberi kesempatan untuk mahasiswa bertanya apalagi menyanggah
8. Tidak jujur pada mahasiswanya apa yang dketahui dan yang belum.
9. Menilai mahasiswa atas dasar suka-tidak suka bukan atas dasar obyektifitas.
10. Merasa berjasa apabila mahasiswannya kelak menjadi orang yang berhasil.

Memaafkan = Membuang Benci, Bukan Menampungnya Diam-diam

Memaafkan Bukan Memendam Dendam

oleh: Ayu Rakhwawati (Mahasiswa Pendidikan Teknik Elektro UPI 2012)

Memaafkan itu bagaimana sih?? Memaafkan ya memaafkan, menganulir kesalahan seseorang yang menyakiti kita.
Kalau dia menyakiti lagi, ya dimaafkan lagi. Kalau terus-menerus begitu? Ya dimaafkan juga. Sampai kapan? Sampai orang yang menyakiti itu bosan dimaafkan terus-menerus. Kalau dia tidak sadar juga? Ya tetap maafkan. Memangnya mendendam bisa menyadarkan seseorang dengan rela?

Memaafkan memang tidak serta-merta menyelesaikan masalah. Tapi, seperti kata Bang Tere Liye, memaafkan itu bukan perkara siapa yang salah. Kita memaafkan karena kita berhak menerima kedamaian dalam hati. Continue reading Memaafkan = Membuang Benci, Bukan Menampungnya Diam-diam

UAS = Ujian Atau Siksaan?

UAS, ujian akhir semester. Memang sih itu ujian, tapi bisa juga jadi siksaan. Kok bisa?
Gini, tulisan ini saya adaptasi dari ceramah Alm. K.H. A.F Ghazali. Ada dua tipe orang yang akan ditolong oleh Allah azza wa jalla ketika mereka dalam kesusahan. Mereka adalah orang yang mengerti bahwa mereka sedang diuji dan mengerti bahwa mereka sedang disiksa. Ujian atau siksaan secara bentuk hampir sama, yaitu kesulitan atau kesusahan. Yang membedakan adalah orang yang menerima kesulitan itu. Ujian diberikan kepada orang yang telah mempersiapkan diri, sedangkan siksaan diberikan kepada orang yang tidak mempersiapkan diri.

Continue reading UAS = Ujian Atau Siksaan?

Jurnalis Mahasiswa

Tradisi menulis literasi saat ini mulai dilupakan mahasiswa. Mahasiswa sebagai generasi penentu nasib bangsa sepatutnya berkontribusi terhadap negara, khususnya masyarakat. Mahasiswa haruslah menjadi barometer pemerintah. Betapa penting bagi mahasiswa untuk mengeluarkan idealismenya kepada khalayak. Maka dari itu sudah sewajarnyalah mahasiswa mempunyai jiwa jurnalistik yang tinggi dalam menanggapi segala peristiwa yang terjadi di sekitarnya.

Jurnalistik sebenarnya mempunyai makna yang sederhana, yaitu seni menulis catatan harian. Beberapa aspek penting dalam jurnalistik, diantaranya adalah fungsi jurnalistik itu sendiri. Jurnalistik berfungsi sebagai the voice the voiceless, ia harus bisa menjadi suara bagi masyarakat kecil. Educate the public, ia mendidik masyarakat agar lebih baik dan hendaknya memberikan pandangan yang positif dalam menyikapi peristiwa-peristiwa yang terjadi. Fungsi jurnalistik yang terakhir adalah serve the public, pers haruslah bisa melayani apa yang diinginkan masyarakat dengan mengesampingkan kepentingan-kepentingan lain di luar kepentingan masyarakat. Masyarakat kita sekarang ini butuh sebuah inspirative jounalism, jurnalistik yang bisa membuat objek sasarannya termotivasi untuk maju.
Seorang jurnalis sebenarnya mempunyai fungsi yang sangat penting untuk memperlihatkan secara utuh kondisi suatu masyarakat. Mereka juga secara tidak langsung menyampaikan aspirasi serta turut berkontribusi dalam mencari solusi bagi setiap persoalan yang muncul. Betapa pentingnya peran seorang jurnalis karena ia mampu menghimpun opini publik. Peran media massa disadari sangat berpengaruh, mampu mengubah perilaku pembacanya. Itulah mengapa jurnalistik berfungsi untuk mendidik, mengarahkan orang lain dalam menyikapi suatu peristiwa.
Akan celaka bila eksistensi seorang jurnalis dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar kepentingan masyarakat. Jika apa yang disampaikan mempunyai tujuan tertentu, misalnya untuk mencitrakan suatu hal agar terlihat baik, atau bahkan membuat persepsi buruk untuk menjatuhkan seseorang, maka jurnalistik tak lagi bisa menyuarakan aspirasi rakyat. Di era digital seperti ini memang banyak pihak yang memanfaatkan kemudahan mendapatkan informasi untuk kepentingan mereka pribadi. Suatu informasi tak lagi dapat dinilai apakah murni untuk mewakili masyarakat ataukah tidak.
Sebagai mahasiswa yang dilatih intuisinya dan dituntut kekritisannya, tak salah bila ikut menjadi kacamata masyarakat, ambil bagian untuk benar-benar mewakili kepentingan masyarakat. Mahasiswa yang terlepas dari tekanan suatu pihak bahkan mungkin akan lebih leluasa menyampaikan aspirasinya ketimbang jurnalis itu sendiri. Bila beberapa tahun ke belakang, identitas mahasiswa sangat lekat dengan predikat aktivis, turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasinya agar terdengar oleh pemerintah, bukan tidak mungkin jika kini mahasiswa lekat dengan aktivitas jurnalistik. Bukan hal yang baru bila terkadang kekuatan tulisan justru lebih hebat. Jurnalistik tak melihat siapa yang menyampaikan tapi apa yang disampaikan.