Category Archives: Cerpen

Kak Anya

#4

Aku menatap batu nisan itu sendu. Masih basah atasnya dipenuhi bunga. Memang, baru pagi itu aku tak lagi melihatnya. Bukan untuk satu dua hari tapi untuk selamanya. Makin lama waktu berjalan, para pengantar jenazah mulai meninggalkan tempat pemakaman itu. Kini hanya aku dan ibuku yang berdiri mematung di depan batu nisan baru itu. Aku teringat dulu, cerita waktu ia masih tertawa. Wajahnya yang ayu dan menyejukkan tak pernah berhenti membuatku bahagia melihatnya. Ya, aku memang tak akan lagi melihatnya. Namun, aku coba memutar ingatanku tentangnya, tentang semua cerita hidupnya.

Namanya sederhana saja, Anya. Aku memanggilnya kakak, maka jadilah panggilanku untuknya adalah Kak Anya. Hari itu aku bertemu dirinya. Ia tengah membenarkan jilbabnya di mushola dekat rumahku. Tiba-tiba ia bertanya padaku, “dek, sekarang jam berapa, ya?” Aku menjawabnya ragu-ragu, “16.00,kak”. Mencurigakan. Pikirku. Setelah bertanya hal itu, ia mengucapkan terimakasih padaku dan bergegas keluar mushola.

Esoknya kami bertemu lagi di mushola itu. Kini ia tengah memegang Alquran di tangan. Kelihatannya sedang menghafal ayat, karena kulihat Alquran itu tertutup. Aku pun duduk di sampingnya dan ikut membuka Alquran kecilku. Setelah aku mengakhiri bacaan Alquranku, tiba-tiba ia menglurkan tangan kanannya hendak bersalaman. Aku menyambutnya. “Nama saya Anya, adik yang kemarin memberi tahu saya jam kan? Terimakasih ya, karena adik saya jadi tepat waktu menghadiri agenda saya”. Merasa tak enak, akhirnya aku juga memperkenalkan diri. “Saya Nita, kak. Iya kak. Sama-sama”. Percakapan kami pun berlanjut. Entah karena apa aku mudah akrab dengannya.

Semakin lama, kami semakin akrab. Kini aku tahu bahwa ia seorang penghafal Alquran. Dia juga seorang mahasiswa jurusan Alquran dan Hadits di Universitas Islam Negeri. Ia bercerita padaku bahwa cita-citanya sangat sederhana. Ia ingin semua muslimah tahu batasan aurat menurut Alquran dan hadits dengan benar. Aku tersenyum mendengarnya. Dia bilang itu sederhana, tapi bagiku itu luar biasa. Kak Anya termasuk sosok wanita yang ceria. Ia mudah berbicara dengan orang lain, malah kadang bercanda dengan sangat lucu hingga membuatku susah menahan tawa.

Suatu hari, aku diajaknya mengunjungi rumahnya. Aku sempat terkejut. Keluarga Kak Anya adalah orang yang sangat mampu. Namun yang kukenal Kak Anya adalah orang yang sangat sederhana. Di rumahnya, aku bertemu ibunya yang ia panggil ummi. Perawakan ibunya persis seperti Kak Anya. Ia banyak bercerita tentang Kak Anya dan seakan menganggapku sebagai anaknya sendiri.

Lalu hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Aku dan Kak Anya seperti layaknya adik kakak saja. Kami selalu bepergian bersama, membeli jibab bersama, lalu mengikuti kajian bersama. Kini aku tahu hafalan Alquran Kak Anya sudah 16 juz. Aku iri mendengarnya. Namun, Kak Anya terus menyemangatiku untuk terus menghafal Alquran.

Suatu hari, kami bertemu lagi di mushola. Memang selama ini tempat bertemu dan janjian kami selalu di mushola tempar pertama kami bertemu. Saat itu aku baru datang. Kuliahat Kak Anya tengah duduk sambil memegang Alqurannya seperti biasa. Awalnya aku tidak menyadari kondisinya. Ia tiba-tiba terjatuh dari posisi duduknya. Aku segera mendatanginya. Kukira ia tertidur, namun sepertinya tidak. Dengan panik, aku memanggil bantuan untuk membopong Kak Anya ke rumahnya.

Setelah kejadian itu, aku mulai jarang melihatnya. Suatu malam ibunya meneleponku. Kak Anya masuk rumah sakit katanya. Aku bingung harus menanggapi kabar itu seperti apa. Bagiku Kak Anya sudah seperti kakakku sendiri. Aku berjanji pada ibunya untuk menjenguk Kak Anya bersama ibuku minggu depan. Pada senin minggu depannya, Kak Anya berulang tahun. Aku hanya bisa mengucapkan selamat dari sosial media. Ia menjawabnya dengan nada gembira. Entah mengapa aku bisa membaca perasaan senangnya walau hanya membaca tulisannya. Bada maghrib pada hari rabunya, aku menelepon ibu Kak Anya. Aku mengatakan akan menjenguk Kak Anya esok hari. Ibunya hanya mengucapkan terimakasih dan bilang akan menungguku.

Malam itu, aku sulit terlelap. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00. Aku masih belum menutup mataku. Teleponlu berbunyi. Aku mengangkatnya dan bersyukur aku belum terlelap.

“Assalamualaikum, Nita” suara di sana adalah suara ibu Kak Anya. Terdengar habis menangis. Hatiku tak berhenti berdegup kencang.

“Anya barusan meninggal dengan senyuman, ummi sudah ikhlas Nita”

Aku tak sempat berkata. Hanya mengatakan esok aku akan kesana. Aku terlelap dengan risau. Dengan sedih yang menggantung. Dan kini disinilah aku di depan makam Kak Anya. Seorang wanita penghafal Alquran yang sederhana. Pribadi yang sering mengingatkan orang di sekelilingnya untuk berhusnudzon. Aku baru tahu, Kak Anya menderita penyakit lupus. Itulah penyebabnya meninggal. Ya. Mungkin Tuhan lebih menyayanginya. Aku meninggalkan makamnya dengan tersenyum. Ya. Aku tahu, ia juga tak senang aku bersedih.

Afiyah Lintang, Bandung, 180416
Teruntuk sahabatku, Almarhumah Qonita Luthfiyah

Derap | Sebuah Cerpen

Derap

Aku melihatnya beridiri tepat 20 meter di hadapanku. Ia memakai jaket oranye dan menggendong tas ransel. Rambutnya acak-acakan. Kupikir dia belum mandi. Dia berdiri di sebrang jalan. Tidak jelas dia sedang apa, mungkin sedang mencoba menstop angkot, atau mungkin sedang mencoba menyebrang jalan. Namun yang pasti saat itulah hatiku mulai berdegup kencang.

Aku melangkahkan kakiku dengan kikuk. Apa yang harus kulakukan jika kita benar-benar berpapasan. Terlebih posisiku memang tengah menuju ke sebrang jalan. Ke arah nya. Apa yang harus kukatakan kepadanya?

“Hai, lama tidak berjumpa… apa kabarmu.” Ah! Tidak-tidak itu terlalu mainstream.

“Eh, kamu… kita ketemu lagi, sedang apa disini?”Oh my god! itu terlalu dibuat-buat.

“Hei, kamu mau kemana?” Aduh, sepertinya itu terlalu blak-blakan.

Aku menatap ke seberang jalan. Oh tidak, dia ternyata menyebrang, dan kini jarakku dengannya semakin dekat. Ah! Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus memutar arah? Tidak-tidak… sepertinya dia sudah melihatku.

Baiklah ayo bersikap biasa saja. Hem! Lagian kenapa haru tidak biasa. Memangnya siapa dia? Memangnya siapa aku di matanya? Kita hanya pernah berjumpa tiga kali, kan. Sekali untuk ngobrol biasa, sekali untuk urusan pekerjaan, dan sekali hanya untuk basa-basi saja. Tidak ada yang spesial bukan?

Kecuali, ya! Kecuali kebiasaan sering melihat profilnya di Facebook. Hei! Kupikir itu tidak berlebihan, kau setuju denganku, kan? Apa salahnya terbiasa dengan melihat statusnya, toh kita semua sering melakukan kebiasaan membaca, seperti membaca koran misalnya. Oke analogikan statusnya itu sebagai koran saja.

Apakah koran akan membuatmu kecanduan? Oh my god! Aku tersedak menemukan kata candu itu.
Dia sudah berjarak lima meter dihadapnku. Tunggu! Mengapa kakiku lebih berat untuk melangkah. Jantungku malah sesak. Gangguan setan macam apa ini?

Tarik napas dalam-dalam. Bersikap biasa saja. Oke… biasa saja. Apapun yang terjadi biasa saja, bertegurlah seperlunya. Tak usah berlebihan.

Kini tibalah waktunya. Aku mengatur napas yang semakin berat seirama dengan langkah kakiku. Tentu saja karena langkah kakinya semakin dekat.

Aku menundukkan kepalaku, tak kuasa lagi rasanya melihat wajahnya. Entah kenapa ada yang ingin merangsak keluar dar hatiku. Duh, aku sekuat tenaga menahannya. Perih.

“Basss….”

Aku merasakan sosoknya berdiri di sampingku. Aku memejamkan mata. Mencium aroma angin yang berlalu bersama tubuhnya. Ada sedikit kenyamanan, namun lebih banyak getir. Ada suara deruan napas. Aku tak tahu itu suara napasku atau napasnya. Selanjutnya suara langkah kaki kian terdengar pelan. Menjauh.

Apakah dia sudah pergi?

Tanpa kata?

Tanpa senyum?

Ah! Sudah kubilangkan semua akan biasa-biasa saja. Sebiasa ia memandangku. Ya! Tidak ada yang spesial. []

Cerita Fiksi oleh: Dini Sri Mulyati (Divisi Produksi Al-Qolam 2015)
Baca Cerita Pendek (Cerpen) lainnya di http://alqolam.ukm.upi.edu/category/goresan-inspirasi/

Ia Mengecupku Setiap Malam

Ibu dan Putrinya

Oleh: Dini Sri Mulyati | Divisi Pelatihan dan Bimbingan 2015

Malam ini aku tak bisa tidur. Padahal sudah pukul 11.20. Adikku sudah mendengkur hebat di kamarnya. Aku menengok tudung saji di meja makan. kosong. Tempe mendoan yang tersisa tiga biji setelah makan tadi, raib digondol tikus. Dapur berubah menjadi berantakan sekali. Duh, masa iya malam-malam harus rapi-rapi?

Kesal benar aku. Tak bisa tidur sungguh menyiksa. Ya! Menahan letih dan menahan lapar… tapi yang paling menyiksa adalah menahan sepi.

Sepi adalah bagian dari hidupku. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, kami–aku dan adikku– bagaikan dua anak tanpa orang tua. Tak kutemui Ibu di dapurku. Tak kutemui ayah di ruang tamu. Ah! Kau, tudung saji adalah sumber kebahagiaanku. Kadang-kadang aku berpikir di sanalah bukti aku masih punya ibu. Continue reading Ia Mengecupku Setiap Malam

Abu, Uma dan Sepotong Kue Brownies

Jangan Mubadzir

Oleh: Dini Sri Mulyati (Mahasiswa Bimbingan Konseling 2014)

“Sekilo…”
“Dua Kilo…”
“Sekilo, Abu. Nanti gak ada yang makan, kamu tahu kan aku lagi diet.” Ujar Uma.
“Kamu tenang saja, kalau kamu gak mau makan biar aku saja yang makan.” Jawab Abu sambil memicing-micingkan matanya.
Uma tidak bisa lagi berkata banyak.
Ya! Siang itu Uma dan Abu tengah berdebat tentang berapa kilo terigu yang harus dibelinya untuk membuat kue bolu brownies. Sebentar lagi lebaran, seperti biasanya mereka selalu membuat kue untuk dimakan bersama.

Uma, nama panjangnya Khumaira Azahra. Banyak orang bilang dia sudah kurus seperti pensil. Tapi berat badan 40 kg dengan tinggi 170 cm bukanlah bentuk tubuh yang ideal baginya. Ia masih tetap nekat untuk berdiet. Entah doktrin apa yang merasuki pikirannya soal tubuh impiannya itu. Continue reading Abu, Uma dan Sepotong Kue Brownies

Nesya Vs. Rafka

Nesya Vs. Rafka (sumber: www.youtube.com)
“Kamu ya… benar-benar sama sekali gak ada sopan santunnya sama sekali sama kakak!” Nesya menyerungut kesal sambil melempar bantal angry bird kesayangannya ke arah Rafka yang sedang asyik menjulurkan lidahnya dengan ekspresi wajah mengejek.
“Wwwekk-Wekk!”
“Sana pergi jauh-jauh deh dari hidup aku! Dasar pengacau…” gerutu Nesya.
Begitulah jika Nesya bertemu dengan Rafka. Selalu terlihat seperti sepasang Tom and Garry yang tidak pernah akur. Ada saja hal yang membuat mereka berseteru. Ya, contohnya saja seperti malam ini ketika Nesya hendak belajar. Tiba-tiba Rafka yang usil sengaja mengganggunya dengan tembakan air yang baru dibelikan Ibu tadi pagi di pasar.
Nesya, si gadis imut yang sedang duduk di kelas tiga SMP itu mungkin sangat kewalahan dengan adiknya Rafka yang super usil. Setiap kali mereka bertemu, maka setiap kali itu pula mereka bertengkar. Barangkali inilah yang dikatakan orang serunya punya saudara. Hehe… Seru?? Ya bisa dibilang seperti itu. Bukankah perseteruan itu diciptakan sebagai pemberi warna bagi kehidupan? Tapi jangan kelamaan yah, karena bisa berakibat jauh dari kasih sayang Allah Swt.
***
Walaupun hari itu cuaca sangat panas, namun tidak mengurangi semangat Nesya untuk terus berlatih PBB di eskul PASKIBRA di sekolahnya. Nesya memang termasuk gadis yang selalu gigih dan pantang menyerah. Semangatnya dalam berorganisasi terlihat dari kekonsistensiannya dalam belajar dan berkarya. Makanya jangan heran kalau prestasinya membludak. Selain itu, prestasi di kelasnya pun patut diacungi sepuluh jempol.
Setelah latihannya selesai, Nesya kemudian berjalan menuju pohon mangga yang berada di sudut lapangan upacara. Ia berencana pulang bersama temannya, Zaky. Tiba-tiba ingatan Nesya melayang pada perlakuan adiknya yang seringkali membuatnya jengkel. Ingatan itu membuatnya benar-benar merasa kesal berkali-kali lipat. Wajahnya memerah saat ia sibuk memutar ingatannya.
Sebesar apapun kekesalan Nesya terhadap adiknya, tetap saja ia adalah seorang kakak. Meski pertengkarannya masih tergolong dalam taraf wajar. Namun terbesit keinginan untuk berdamai dengan adiknya. Ia tidak ingin ada pertengkaran lagi dengan adiknya yang baru menginjak sembilan tahun itu.
 “Tapi.. Apa bisa?” Gumam Nesya kemudian.
Tiba-tiba tanpa sepengetahuan Nesya, Zaky datang dan mengagetkannya.
“Nes! Ngapain sih? Wajahnya merah tuh. Melamun ya? Sore-sore begini melamun. Pamali tahu! Apalagi melamunnya di bawah pohon mangga. Enggak serem apa?” Celoteh Zaky sambil menenteng dua kantong plastik putih besar sebesar tong sampah. Perhatian Nesya tertumpah pada kantong yang dibawa Zaky.
“Ky, itu apa?” Tanya Nesya penasaran.
“Ini seragam kita buat lomba PBB besok” Jawab Zaky sambil memperlihatkan isi kantong yang tidak begitu ringan.
“Kenapa dibawa? Enggak berat?” Tanya Nesya penasaran.
“Kelihatannya?” Zaky malah berbalik bertanya.
“Oke. Sini aku bantu bawakan satu” Pinta Nesya sambil menggait salahsatu kantong tersebut. Mereka kemudian berjalan beriringan.
Warna jingga pada ornamen cakrawala di ufuk barat menampilkan selaksa senja yang begitu indah. Burung-burung terbang hilir mudik meramaikan langit yang begitu sangat luas tiada batas. Nesya dan Zaky takjub atas kuasa Allah yang tiada tandingannya. Mereka pun mengucap tahmid sebanyak-banyaknya.
“Oya. Tadi kenapa kamu melamun?” Zaky mencoba membuka pembicaraan. “Karena nunggu aku kelamaan ya? Maaf ya. Kalau tidak karena dipanggil kakak pelatih tadi…”
Nesya yang diajak bicara malah diam seribu bahasa. Pikirannya kembali melayang pada adik semata wayangnya yang berada di rumah kini. Ah, seandainya Nesya bisa melupakan perilaku adiknya yang masih kecil itu, mungkin persoalannya tidak akan memanjang dan mengganggunya seperti ini.
“Nes. Nes!” Lamunan Nesya dihancurkan lagi oleh Zaky. Ia kemudian menoleh ke arah teman sekelasnya itu. Badannya yang semampai membuat dirinya tidak perlu bersusah payah untuk menemukan wajahnya yang hitam legam terbakar matahari akibat latihan PBB di siang bolong tadi. Matanya yang bulat teduh dengan alisnya yang hitam serupa ulat bulu menggambarkan keteguhan hatinya. Kemudian terlintas dalam benak Nesya untuk bercerita pada Zaky tentang adiknya.
“Ky, kamu punya adik?” Tanya Nesya.
“Ya punya. Ada apa?” Jawab Zaky. Tanpa basa-basi, Nesya langsung memulai bercerita tentang ia dan adiknya.
“Jadi, menurut kamu bagaimana? Aku harus bagaimana?” Tanya Nesya penasaran.
“Nes, kamu tahu enggak kalau setiap manusia itu terlahir sebagai seorang pemimpin?” tanya Zaky.
“Ya tahu. Aku pernah denger itu dari tayangan pildacil dulu” jawab Nesya sambil cengar-cengir.
“Nah, itu kamu tahu”
“Oke. Terus hubungannya sama masalah aku?” Tanya Nesya yang jidatnya mulai membentuk kerutan.
“Sebelum kamu marah dengan tingkah Rafka yang membuatmu jengkel, sebaiknya kamu memarahi diri kamu sendiri. Apakah kamu sudah berlaku layaknya seorang kakak bagi Rafka?” Penjelasan Zaky yang panjang lebar semakin mempertebal kerutan di jidat Nesya.
“Maksudnya begini, semua manusia yang terlahir di muka bumi secara otomatis telah menjadi seorang pemimpin. Bisa pemimpin bagi negerinya, pemimpin bagi keluarganya, dan yang pasti pemimpin bagi dirinya sendiri. Dengan kata lain, minimalnya kamu harus mampu memimpin emosi diri kamu terhadap adikmu yang berlaku menjengkelkan bagimu. Dengan begitu, kamu akan paham bagaimana kamu harus bersikap pada adikmu. Sebagai seorang kakak kita patut menjadi contoh dan teladan yang baik untuk adik kita. Mulailah segala sesuatu hal dengan memahami diri kamu sendiri, maka kamu akan dapat memahami orang lain dan mulailah kamu memimpin diri kamu sendiri sebelum  memimpin orang lain termasuk adik kamu.” Tutur Zaky panjang lebar. Nesya yang mendengarkan hanya manggut-manggut mengiyakan. Kini Ia sadar. Sebagai seorang kakak, Ia gagal untuk menjadi panutan bagi adiknya.
“Oya, satu lagi semuanya harus dilakukan dengan hati maka Allah akan bersamamu.” Kata Zaky menutup pidato sorenya. Hati Nesya semakin mantap dan ingin segera sampai ke rumah untuk bertemu adik semata wayangnya itu. Dalam hatinya kini Ia berjanji untuk selalu menjadi pemimpin yan terbaik bagi adiknya dan tidak akan marah saat adiknya bertindak usil lagi.
Matahari semakin tenggelam. Warna jingga keemasan yang tadi sempat menggantung di langit, sudah hilang entah kemana. Malam semakin nyata dan temaram. Zaky dan Nesya segera mempercepat langkah agar segera tiba di rumah mereka masing-masing.
Oleh : Layla Nusaibah (Pendidikan Luar Sekolah 2012).