Category Archives: Karya

Kini Telah Kutemukan Cinta

8

“Setiap orang memiliki keinginan yg mendalam untuk dicintai, disayangi, dan dilindungi
Segala upaya akan dilakukan demi mengapai pengharapan hati
Tapi apakah kita sadar bahwa kita telah mendapatkannya?”

Entah perasaan apa itu, tapi sungguh ia sangat mengganggu.
Bahkan seringkali diri lupa harus menjadi siapa dan bagaimana
Itu terjadi saat pengharapan semu menghinggapi hati

Sungguh sakit terasa, saat pengharapan itu tak terpenuhi
Ia menjadi angan-angan kosong yang memenuhi pikiran
Entahlah apa yang mempengaruhi
Yang pasti ia bisa mengubah diri
Hingga bahkan tak bisa dikenali diriku saat itu

Entah tinta apa yang dipakai dalam menulis pengharapan itu
Pengharapan pada ia yang tak kunjung bertemu
Hingga saat ini tak bisa kutemukan apapun tuk mengapusnya

Hati tak bisa berhenti meminta
Meski akal telah memaksa untuk menghilangkannya
Bahkan peperangan ada tiap waktu
Dimana yang menang hanyalah rasa rindu

Sangat ingin kuhapus rindu dalam harapan
Namun hati seakan melawan
Meminta agar tetap memendam rindu dalam kalbu

Kusadari pengharapan itu hanya bisa menyiksa
Seakan tenggelamkan diri dalam asam pekat yang melelehkan kulit
Seandai daging yang dilempar ke dalam sarang singa lapar
Hancur dan habis dalam cengkraman pemangsa
Hingga aku mati tak berdaya karenanya

————————————-

Namun, dikala hati memaksa tuk menyadari
Bahwa apa yang kuharapkan itu salah
Sang Pemilik hati pun memberi pesan
Bahwa ada cinta di setiap apa yang aku punya

Ada cinta di setiap napasku
Ada cinta di setiap detak jantungku
Ada cinta di setiap kedipan mataku
Ada cinta yang membuat aku bisa menulis kalimat ini
Ada cinta yang membuat ku bisa mengerti segala hal
Ada cinta yang membuatku bisa tumbuh besar
Ada cinta di setiap langkah kakiku
Ada cinta di setiap pakaian yg ku pakai
Ada cinta di setiap apapun yang ku miliki

Karena cinta ibu bapaku aku bisa hidup hingga sekarang
Meski lelah dan susah selalu mewarnai kehidupanku
Karena cinta Allah, Dia tutupi aibku dan beriku petunjuk hingga aku bisa seperti sekarang
Hingga semua cinta dari setiap orang aku bisa seperti di detik ini

Cinta dan kasih sayang orang tua melahirkan pengorbanan
Dulu aku kira mereka tak pernah merasakan sakit demi menghidupi aku
Tapi itu salah
Mereka rela menahan kantuk demi aku
Menahan lapar demi aku
Menahan rindu demi aku
Menahan lelah demi aku
Menahan sakit demi aku
Menahan beban demi aku
Menahan panas demi aku

Hingga tubuh yang indah berubah menjadi lelah dan tua demi aku

Begitu pula cinta Allah
Dia jalankan malam dan siang untukku
Dia tundukkan sungai, danau, dan lautan untukku
Dia Ciptakan planet-planet melayang beraturan tanpa tiang untukku
Dia tinggikan langit untukku
Dia hamparkan bumi untuk ku
Dia turunkan hujan untukku
Dia hidupkan tumbuhan untukku
Dia sediakan sumberdaya untukku

Lalu apa lagi yang bisa aku dustakan

Tak meminta Dia beri
Dipinta apalagi
Bersalah dimaafkan
Bahkan diingatkan
Berbuat baik diberi balasan berlipat

Bukankah itu cinta?

Apakah tak aku sadari,
Aku merasa sakit saat cinta bertepuk sebelah tangan

Coba renungkan, meski aku sering tak membalas cinta tadi
CintaNya dan cinta mereka tak pernah bertepuk sebelah tangan

Sadarilah
Cinta adalah kekuatan
Yang menggerakan otot dan tulang
Tanpa cinta aku tak bisa hidup

Sadarilah jangan menyiksa diri dalam harapan pada seseorang yang tak pasti
Tetapi lupa merasakan cinta yang ada di setiap inci diri

Kini telah kutemukan cinta
Ya, selalu ada cinta
Selalu ada kasih sayang
Namun aku saja yang selalu mendustakan

TELAK

#7

Ia kalah. Telak. Bahkan sebelum memulai.

Gadis ini tak lagi berani seperti dulu. Hatinya telah mengerut, kecil, dan nyaris musnah karena kering.

Tak lagi mau mencinta. Tak lagi mencinta.

Topeng yang ia pasang susah payah, masih alpa menutupi cela keluguan yang kerap mengintip. Membuat gadis ini semakin tersiksa.

Tak lagi mau mencinta. Tak lagi mencinta.

Tapi, ia masih senang memerhatikan senyum pemuda itu. Menerima tatapan tepat pada kornea matanya. Gembira menjadi objek candaan, dan menjadi … teman.

Tak lagi mau lugu. Tak lagi mencinta. Katanya.

Namun masih menyungging senyum ketika pemuda itu meminta diseduhkan segelas kopi setiap pagi.

Tak lagi mau lugu. Tak lagi mencinta.

Lamat-lamat senyum berfatamorgana ketika gadis ini menyadari kehangatan pria itu pada wanita lain.

Lugu. Gadis ini masih menanti.

Tak lagi mau lugu. Gadis ini mundur, dikalahkan telak oleh kedekatan sang pemuda dengan wanita lain. Dibuat malu dengan keluguan yang membuat ia percaya pemuda itu merasakan desakan untuk memilihnya. Telak, ia malu telak. Pemuda itu tak pernah memandangnya sebagai ‘gadis’.

Tak lagi mau lugu. Tak lagi mencinta.

Seperti petir yang menyambar cepat, gadis ini mengubah haluan.

Tak lagi mau lugu. Tak lagi mencinta.

Ia mundur.

Khairiyah Kurnia
Bandung, 18  April 2016

Jadilah Muslim Dunia Akhirat ! Bukan ‘Sufi Loncat’ !

#3

Dunia kini terlihat semnakin menjepit, umat Islam tidak lagi mendapatkan kejayaannya. Bayangkan saja, umat Islam yang notabene adalah umat terbesar di dunia bahkan tidak mampu menghentikan perbuatan nista Zionis terhadap Palestina. Seringkali dipertanyakan, apa sebenarnya yang membuat umat Islam begitu terpuruk saat ini, padahal dulunya merupakan imperium terbesar yang mampu menaklukkan dua imperium penguasa dunia?

Dalam buku “HEBAT” yang ditulis oleh Kang Mujib, Rektor Unissula, Professor Laode menyatakan bahwa sebab lemahnya umat Islam saat ini adalah lantaran dominan pikiran umat Islam, bahwa ketakwaan tak bisa beriringan dengan kekayaan dan ilmu dunia. Semakin takwa seseorang  hendaknya semakin jauh dari kekayaan dan dunia. Cara berpikir seperti ini membuat umat Islam malas bekerja, berkarya, dan hanya sibuk memikirkan urusan ibadah. Padahal sejatinya Rasulullah sendiri telah mengajarkan kita untuk tidak melupakan mu’amalah kepada sesame dan dunia. Bisa kita bayangkan, bagaimana mungkin umat Islam kini saling membantu, karena bahkan untuk menafkahi diri sendiri saja susah. Bagaimana mungkin umat Islam kini bisa dibilang maju kalau untuk belajar ilmu dunia saja setengah setengah atau bahkan tidak sama sekali.

Sebagai seorang muslim haqiqi, tentunya kita tidak boleh melupakan mu’amalah akan dunia. Bahkan Rasulullah juga tidak hanya mementingkan akhirat dan melupakan dunia. Hal ini terlihat jelas dari do’a yang sering beliau panjatkan “Rabbana Aatina fiddun ya hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qina ‘adzabannar”. Simak dengan benar do’a tersebut, sebelum Rasulullah meminta kebaikan akhirat, beliau meminta dulu kebaikan dunia. Karena jika umat Islam tidak bisa menguasai dunianya, bagaimana mungkin umat Islam bisa menjadi khalifah dan masuk jannatunna’im.

Sekarang, mari kita mundur ke belakang, ke zaman dimana Islam mendapatkan kejayaannya, dimana Islam diagungkan bahkan oleh umat non-Islam. Jika ditilik dengan seksama, zaman-zaman keemasan tersebut bisa terwujud karena umat Islam tidak pernah melupakan dunia walau tetap berorientasi pada akhirat. Mereka hidup sederhana namun bukan berarti mereka miskin. Coba jawab, apakah seorang Usman bin Affan, Umar Bin Khattab, Abdurrahman Bin Auf, dan Abu Bakar Shiddiq adalah seorang pedagang biasa? Tidak, mereka adalah pedagang yang sangat sukses. Untuk ukuran zaman ini, mungkin kekayaan mereka bisa berupa perusahaan-perusahaan yang telah memiliki cabang di seluruh pelosok Indonesia.

Nabi Muhammad sendiri adalah seorang yang juga sangat mapan ekonominya. Lihat saja, ketika melamar Khadijah, dikisahkan bahwa Rasulullah memberikan mahar sebanyak 200 ekor unta (riwayat lain mengatakan 150, 100, dan yang paling sedikitnya 7 unta). Jika dilihat dari segi ekonominya, unta yang saat itu merupakan kendaraan terbaik dunia bisa jadi sama mahalnya dengan BMW yang juga merupakan kendaraan terbaik masa ini. Bayangkan saja, pernahkah kita melihat seseorang pada zaman ini memberikan mahar pernikahan senilai 200 BMW?

Perhatikan lagi diri kita masing-masing, lakukan muhasabah berulang kali. Apakah kita sudah mengikuti apa yang telah Rasulullah dan para sahabat lakukan? Ketahuilah, agar umat Islam bisa mendapatkan kembali kejayaannya, tentulah harus dimulai dari pribadi masing-masing. Maka hendaknya perspektif ‘Sufi Loncat’  itu harus segera dihilangkan dari benak kita. Jangan menjadi seorang muslim yang hanya tau ibadah ilahiyah, yang ketika menghadapi dunia cepat menyerah dan putus asa. Jangan menjadi sufi loncat yang menganggap dunia tidak penting. Dan jangan menjadi seorang muslim yang pasrah akan IPTEK dan Cuma mementingkan ilmu agama saja. Jadilah Muslim Dunia Akhirat ! Muslim yang tidak ketinggalan zaman dan akan menjadi Ahli Surga. Aamiin.

Rahzad, Bandung Juni 2016

Kak Anya

#4

Aku menatap batu nisan itu sendu. Masih basah atasnya dipenuhi bunga. Memang, baru pagi itu aku tak lagi melihatnya. Bukan untuk satu dua hari tapi untuk selamanya. Makin lama waktu berjalan, para pengantar jenazah mulai meninggalkan tempat pemakaman itu. Kini hanya aku dan ibuku yang berdiri mematung di depan batu nisan baru itu. Aku teringat dulu, cerita waktu ia masih tertawa. Wajahnya yang ayu dan menyejukkan tak pernah berhenti membuatku bahagia melihatnya. Ya, aku memang tak akan lagi melihatnya. Namun, aku coba memutar ingatanku tentangnya, tentang semua cerita hidupnya.

Namanya sederhana saja, Anya. Aku memanggilnya kakak, maka jadilah panggilanku untuknya adalah Kak Anya. Hari itu aku bertemu dirinya. Ia tengah membenarkan jilbabnya di mushola dekat rumahku. Tiba-tiba ia bertanya padaku, “dek, sekarang jam berapa, ya?” Aku menjawabnya ragu-ragu, “16.00,kak”. Mencurigakan. Pikirku. Setelah bertanya hal itu, ia mengucapkan terimakasih padaku dan bergegas keluar mushola.

Esoknya kami bertemu lagi di mushola itu. Kini ia tengah memegang Alquran di tangan. Kelihatannya sedang menghafal ayat, karena kulihat Alquran itu tertutup. Aku pun duduk di sampingnya dan ikut membuka Alquran kecilku. Setelah aku mengakhiri bacaan Alquranku, tiba-tiba ia menglurkan tangan kanannya hendak bersalaman. Aku menyambutnya. “Nama saya Anya, adik yang kemarin memberi tahu saya jam kan? Terimakasih ya, karena adik saya jadi tepat waktu menghadiri agenda saya”. Merasa tak enak, akhirnya aku juga memperkenalkan diri. “Saya Nita, kak. Iya kak. Sama-sama”. Percakapan kami pun berlanjut. Entah karena apa aku mudah akrab dengannya.

Semakin lama, kami semakin akrab. Kini aku tahu bahwa ia seorang penghafal Alquran. Dia juga seorang mahasiswa jurusan Alquran dan Hadits di Universitas Islam Negeri. Ia bercerita padaku bahwa cita-citanya sangat sederhana. Ia ingin semua muslimah tahu batasan aurat menurut Alquran dan hadits dengan benar. Aku tersenyum mendengarnya. Dia bilang itu sederhana, tapi bagiku itu luar biasa. Kak Anya termasuk sosok wanita yang ceria. Ia mudah berbicara dengan orang lain, malah kadang bercanda dengan sangat lucu hingga membuatku susah menahan tawa.

Suatu hari, aku diajaknya mengunjungi rumahnya. Aku sempat terkejut. Keluarga Kak Anya adalah orang yang sangat mampu. Namun yang kukenal Kak Anya adalah orang yang sangat sederhana. Di rumahnya, aku bertemu ibunya yang ia panggil ummi. Perawakan ibunya persis seperti Kak Anya. Ia banyak bercerita tentang Kak Anya dan seakan menganggapku sebagai anaknya sendiri.

Lalu hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Aku dan Kak Anya seperti layaknya adik kakak saja. Kami selalu bepergian bersama, membeli jibab bersama, lalu mengikuti kajian bersama. Kini aku tahu hafalan Alquran Kak Anya sudah 16 juz. Aku iri mendengarnya. Namun, Kak Anya terus menyemangatiku untuk terus menghafal Alquran.

Suatu hari, kami bertemu lagi di mushola. Memang selama ini tempat bertemu dan janjian kami selalu di mushola tempar pertama kami bertemu. Saat itu aku baru datang. Kuliahat Kak Anya tengah duduk sambil memegang Alqurannya seperti biasa. Awalnya aku tidak menyadari kondisinya. Ia tiba-tiba terjatuh dari posisi duduknya. Aku segera mendatanginya. Kukira ia tertidur, namun sepertinya tidak. Dengan panik, aku memanggil bantuan untuk membopong Kak Anya ke rumahnya.

Setelah kejadian itu, aku mulai jarang melihatnya. Suatu malam ibunya meneleponku. Kak Anya masuk rumah sakit katanya. Aku bingung harus menanggapi kabar itu seperti apa. Bagiku Kak Anya sudah seperti kakakku sendiri. Aku berjanji pada ibunya untuk menjenguk Kak Anya bersama ibuku minggu depan. Pada senin minggu depannya, Kak Anya berulang tahun. Aku hanya bisa mengucapkan selamat dari sosial media. Ia menjawabnya dengan nada gembira. Entah mengapa aku bisa membaca perasaan senangnya walau hanya membaca tulisannya. Bada maghrib pada hari rabunya, aku menelepon ibu Kak Anya. Aku mengatakan akan menjenguk Kak Anya esok hari. Ibunya hanya mengucapkan terimakasih dan bilang akan menungguku.

Malam itu, aku sulit terlelap. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00. Aku masih belum menutup mataku. Teleponlu berbunyi. Aku mengangkatnya dan bersyukur aku belum terlelap.

“Assalamualaikum, Nita” suara di sana adalah suara ibu Kak Anya. Terdengar habis menangis. Hatiku tak berhenti berdegup kencang.

“Anya barusan meninggal dengan senyuman, ummi sudah ikhlas Nita”

Aku tak sempat berkata. Hanya mengatakan esok aku akan kesana. Aku terlelap dengan risau. Dengan sedih yang menggantung. Dan kini disinilah aku di depan makam Kak Anya. Seorang wanita penghafal Alquran yang sederhana. Pribadi yang sering mengingatkan orang di sekelilingnya untuk berhusnudzon. Aku baru tahu, Kak Anya menderita penyakit lupus. Itulah penyebabnya meninggal. Ya. Mungkin Tuhan lebih menyayanginya. Aku meninggalkan makamnya dengan tersenyum. Ya. Aku tahu, ia juga tak senang aku bersedih.

Afiyah Lintang, Bandung, 180416
Teruntuk sahabatku, Almarhumah Qonita Luthfiyah

Menyesap Rindu

#1
M.Ginanjar Eka Arli

Kita masih duduk berdua dalam suasana haru
Kala itu, kau tengah tersenyum kepadaku
Tak ada satu patah kata pun terucap
Hanya rindu, yang terus bergumul menjadi satu dalam ingatanku

Kala hujan, 27 April 2016