Siapa Yang Lebih Gila?

Siapa yang Lebih Gila?

Oleh: Siti Hayati Zakiyah

Siapa yang lebih gila dari yang gila dari yang gila. Sementara yang gila tidak merasa gila lantaran sudah tergila-gila. Orang-orang juga tidak menyebutnya gila. Barangkali itu adalah sebutan bagi orang sakit yang dirinya sendiri juga tidak tahu apakah dirinya sendiri tahu apakah dirinya sendiri memang gila atau tidak gila. Tetapi bagaimana jika orang gila itu memang tidak tahu apakah dirinya sendiri tahu apakah dirinya sendiri memang sudah gila atau tidak gila karena orang-orang tidak menganggapnya gila.

Lalu apa itu normal?

Aku duduk di depan seorang psikolog yang menyebut dirinya normal. Dengan gaya khas ala-ala; baju putih bertumpang kaki. Aku juga tidak paham apakah bertumpang kaki termasuk disebut normal dengan gaya khas ala-ala. Sinar kacamatanya akan terpantul kala terkena sinar matahari, juga tanda pengenal dengan huruf belakang S,Psi yang bergengsi. Aku tidak paham mengapa orang-orang mati-matian mengambil jurusan psikologi yang katanya sulit. Jika saja jurusan itu memang ada sebagai jawaban atas kebinalan mental manusia yang tidak terkendali, mengapa pula bukan penyebab gangguan mental itu yang dihilangkan. Nyatanya, orang normal juga mengapresiasi kehebatan orang lain dengan bilang, “Gila!” ketika melihat hal yang tidak biasa.

“Apa itu normal?”

“Jauh-jauh menemuiku hanya untuk menanyakan itu?”

“Waktumu tidak banyak dan kamu harus bekerja”

“Kau ini”

Akhirnya psikolog itu bilang bercerita tentang seluk-beluk ilmu yang mampet kucerna. Dia juga berbicara tentang meditasi, pernapasan, dan apa-apa yang berhubungan dengan manajemen emosi dan perasaan. Segenap cara meditasi dengan menarik napas berulang kali, memfokuskan perhatian dan perasaan, duduk lalu mengucap doa-doa.

“Hey bukan aku yang gila!”

***

Aku duduk di depan seorang dokter yang menyebut dirinya orang normal. Dengan gaya khas ala-ala; jas putih dengan alat stetoskop yang masih melingkar di leher tanpa kalung. Aku pernah mengira apakah alat itu dapat benar-benar mendengar degup jantung seseorang? Apakah termasuk yang disembunyikan seorang anak saat ngompol di kasur kemudian tertangkap basah ibunya? Juga perasaan tidak enak saat melakukan kebohongan?

“Kau sungguh tidak bisa membedakannya?”

Si dokter malah tertawa cekikikan dengan perut berguncang. Di tangannya terselip sebatang rokok dengan asap mengepul ke atas. Aku paham bahwa teori memang kerap kali dikhianati. Tapi aku tidak paham apakah tertawa memang jawaban normal untuk sebuah pertanyaan. Mestinya kudatangi orang lain kalau pertanyaan itu tidak jadi serumit ini. Tapi diantara segala ketidaklogisan yang dilogis-logiskan, aku jadi penasaran tentang tanda tanya yang seperti sedang mencari jawabannya sendiri. Aku berfikir keras dan keras berfikir aku! lalu otakku kosong dan tanda tanya keluar dari otakku.

Tanda tanya keluar dari otakku. Aku jadi setengah bodoh karena ia melucuti kerutan berharga dari dahiku. Aku baru tahu kalau otak akan seringan dan sehampa ini jika tidak ada tanda tanya. Orangtua tidak sabaran akan marah jika anaknya banyak bertanya dan guru kurang pintar juga begitu. Padahal anak juga sering marah ketika orangtuanya bertanya berkali-kali tentang teknologi. Pun orang bersalah yang sudah malas menjelaskan kesalahannya kepada awak media; pertanyaan bertubi. Entah diracik sendiri entah diracik orang biar netizen penasaran. Tapi, Bani Israil juga bertanya hanya untuk menghindari kewajiban.

“Kau ini bagaimana, sih? Malah bertanya yang bukan-bukan. Kau harusnya sadar pada apa yang membuatmu bertanya begini-begitu. Bukannya malah ngaler-ngidul kesana kemari kayak orang gila”

Nah, sekarang malah si tanda tanya yang ngatain-ngatain aku gila. Tapi aku jadi ingat sesuatu. Dan aku gak bisa jawab apa-apa sih. Lah yang nanya juga tanda tanya, ya aku bisa apa?

***

Aku duduk di depan seorang klien dengan mata sayu. Petani kecil kepala enam, bercelana lusuh sambil bersila. Kakek ini juga menyebut dirinya normal. Dengan gaya khas ala-ala; kopeah putih di kepalanya yang gundul. Aku pernah mengira kalau kopeah adalah tanda seseorang dikatakan alim dan layak diampuni. Tetapi Snouck Hungronje juga dikopeah dan lebih alim dari ini. Lebih dari itu, aku tidak pernah tahu apakah ia memang layak diampuni atau tidak.

“Coba terangkan”

Aku berusaha peduli

 “Apa yang salah dari kakek, Nak?”

Mata sayunya bicara. Menembus realita dan dunia. Mata yang bercerita. Mata yang meratapi keadilan dan jeritan. Mata yang seperti minta dikasihani dan dikasih hati. Orang bilang mata bisa berkata lebih jujur dari lidah. Dan aku bisa menangkap itu.

Aku juga bingung pada tuntutan empat tahun tiga miliar yang harus ia hadapi – di usia sesenja ini. Ada enam anak, masih ada istri. Si istri kaget melihat suami ditangkap akibat pantikan korek – di lahan miliknya sendiri, 20×20 meter dengan pasak batas agar api tidak menyebar. Bukan lahan gambut dan dipakai menanam ubi. Si kakek menjalaninya sebagai kearifan lokal.

Tapi masyarakat lokal sekarang…

Belum tentu arif memandang persoalan.

“Dengan tidak terbuktinya dakwaan yang didakwakan, maka demi keadilan dan kebenaran, kami mohon kepada Majelis Hakim untuk membebaskan terdakwa dari segala tuntutan!” belaku dulu.

Nihil.

***

Aku tengah duduk di depan seorang korporat yang mendapat sanksi dari kasus karhutla 2019 lalu. Korporat itu juga menganggap dirinya normal. Ia adalah salah satu gegedug dari 22 perusahaan yang disegel akibat terjangkit kasus karhutla. Dengan gaya khas ala-ala; sapuan rambut klimis yang kinclong kalau kena sinar matahari. Ia memakai jas hitam yang entah terbuat dari kulit apa. Aku juga tidak paham mengapa bisa sebegitu kejam memakai kulit hewan untuk pakaian. Zaman modern semakin primitif saja!

“Apa yang akan kamu lakukan jika berada di posisiku?”

Kemudian ia tertawa. Lalu bercerita tentang jasa yang ia torehkan. Berapa devisa negara yang ia gelontorkan, berapa pegawai yang ia pekerjakan, berapa luas lahan yang ia manfaatkan, berapa keuntungan, berapa penghasilan, berapa balas budi, berapa banyak jasa, berapa ilmu yang dengan murah hati ia ajarkan kepada masyarakat yang menurutnya bodoh – sekarang bisa sepaham itu dengan teknologi dan industri. Dan, berapa-berapa lain yang tidak seberapa. Bangga menyebut dirinya pahlawan.

Adalah pahlawan untuk 20 juta orang yang terkena polusi udara dan air. Adalah pahlawan bagi hilangnya 72,95 Trilliun kerugian negara. Adalah pahlawan untuk terbakarnya delapan provinsi. Adalah pahlawan untuk terbakarnya lahan seluas 1, 64 juta Ha. Adalah pahlawan untuk, apa?

“Dimana?”

“Di delapan provinsi itu, masa tak tahu?”

“Dimana letak kelucuannya?”

***

Aku tengah duduk di depan seorang petani yang katanya membuka lahan. Petani itu juga menganggap dirinya normal. Dengan gaya khas ala-ala – dan kau barangkali sudah tahu bagaimana kelanjutannya. Ia akan berkata bahwa jika bukan karena kebutuhan hidup; anak harus sekolah, istri harus belanja, pajak harus dibayar, perut harus diisi – barangkali ia tak akan melakukan ini. Dia juga akan berkata bahwa membuka lahan setidak-tidaknya akan mengurangi biaya pembukaan lahan pertanian.

“Ah”

“Kenapa?”

“Aku pasrah jika desakannya kebutuhan”

***

Aku tengah duduk di depan seorang dengan kemeja putih dan dasi hitam yang membuatnya selalu tampil hebat. Dengan gaya khas ala-ala; dia akan selalu tampil mengesankan di depan awak media. Penentu kebijakan dan kehidupan orang-orang. Aku tidak paham mengapa pencitraan begitu penting setelah delapan provinsi terbakar dan langit menjadi merah. Aku juga tidak paham mengapa masih mau menyimpan muka pada layar televisi setelah dikecam negara tetangga, lalu dengan santai bilang,

“Penanganan tahun ini lebih baik kok”

Padahal dibalik kata baik itu; ada sesak yang ditahan, ada nyawa yang melayang, ada pohon yang terbakar, ada harta yang hangus, ada pendidikan yang terhenti, ada perut yang lapar, ada anak yang kehilangan ibunya, ada ibu yang kehilangan bayinya, ada istri yang kehilangan suaminya, ada kakak yang kehilangan adiknya.

“Jika seandainya bukan sekedar dampak materiil yang kita pikirkan melainkan psikis, mungkinkah akal kita berpikir bagaimana agar bencana itu benar-benar tidak akan terjadi sama sekali?”

Kemudian aku membayangkan tentang frustasinya seorang ibu yang kehilangan anaknya lantaran kabut asap, suami yang kehilangan istrinya lantaran sesak nafas, anak-anak kecil harapan bangsa yang mendadak harus berhenti sekolah, anak-anak yang kehilangan orangtuanya.

Dan celakanya, dampak itu tidak jelas radiusnya sampai kapan.

***

“Gila!” Kataku frustasi.

Kemudian aku bertanya dan membuat tulisan dengan paragraf pembuka begini,

“Siapa yang lebih gila dari yang gila dari yang gila. Sementara yang gila tidak merasa gila lantaran sudah tergila-gila. Orang-orang juga tidak menyebutnya gila. Barangkali itu adalah sebutan bagi orang sakit yang dirinya sendiri juga tidak tahu apakah dirinya sendiri tahu apakah dirinya sendiri memang gila atau tidak gila. Tetapi bagaimana jika orang gila itu memang tidak tahu apakah dirinya sendiri tahu apakah dirinya sendiri memang sudah gila atau tidak gila tidak gila karena orang-orang tidak menganggapnya gila.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*