Salam di Suatu Komplek

Salam di Suatu Komplek
Frita Arthelia

“Assalamualaikum!”
“Assalamualaikum”
“Ayah pulang!”
“samlekom”
“Mekum!” Seperti biasa setiap sore semua pintu rumah di Kompleks Harum Manis akan dibuka oleh para kepala rumah. Pada pukul jam lima tepat, seluruh keluarga akan menyambut kepulangan kepala keluarga dari kantor. Meski Sebagian salam itu adalah asal sebut dan keliru penyebutannya, tetapi ini adalah sebuah penanda bahwa senja telah tiba dan waktunya untuk masuk rumah di Kompleks Harum Manis.
Sedikit warga Harum Manis adalah seorang pegawai kantor dan selebihnya memiliki pekerjaan lain, tetapi jam pulang mereka selalu sama sehingga bukan hal yang wajar setiap senja anak-anak yang bermain di luar akan segera berlari untuk melompat ke pelukan sang ayah dan menyambut kepulanganya di rumah.
“Assalamualaikum” Sore itu hanya terdengar satu salam di Kompleks Harum Manis, hanya satu anak yang menyudahi permainannya di luar rumah dengan teman-teman untuk berlari menyambut ayahnya. Anak-anak lain melanjutkan permainannya sampai magrib menjelang dan para ibu datang menjemput mereka, Sebagian merengek keras dan Sebagian lagi bertanya kemana ayah mereka yang tidak kunjung pulang.
“Papah belum pulang, Mah?” tanya seorang bocah perempuan dengan bau amis keringat dan suara serak karena pilek.
“Hari ini papah lembur, jadi nanti malam Adek kerjain PR sama Mamah ya,” jawab ibu yang memakai piyama kuning dan sandal jepit karet. Anaknya masih berceloteh tidak berujung menanyakan kemana papahnya yang sudah berjanji akan membantu dia untuk mengerjakan tugas menggambar.
Keesokan harinya, anak-anak bermain sepeda di jalanan komplek, nyaris tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang di sana sehingga mereka bisa bermain sepeda dengan lega. Sampai saat suara mobil BMW terdengar, seorang anak bergegas melajukan sepedanya ke rumah. Iya, ayahnya pulang.
“Papih!” jerit anak laki-laki itu saat masuk ke garasi, papihnya hanya tersenyum. Biasanya mereka berpelukan dan saling tukar kecup sayang di pipi. Anak-anak lain ikut berpulangan ke rumahnya dan menjerit-jerit.
“Assalamualaikum! Ayah? Ayaahhh?” Buk, ayah udah pulang?” Seorang Anak laki-laki berbadan gempal menerobos masuk ke rumah dengan heboh.
“Ayah lembur, Nak. Moga aja ayah bisa cepat pulang ya, Nak.” Ibunya yang juga berbadan gempal menjawab sambil memberikan anaknya handuk agar dia segera mandi. Raut wajah anak itu berubah menjadi kusut.
Kembali lagi pada anak yang tadi mengejar mobil BMW, dia sudah mandi dan sudah siap makan malam dengan keluarganya. Saat duduk di depan meja makan, mata kecilnya melihat kea rah jendelan yang mengarah ke jalanan Komplek. Ada salah satu temannya yang duduk di depan gerbang rumah sambil bermain ponsel, tetapi raut wajahnya tidak terlihat senang.
Bunyi jangkrik sudah terdengar, aroma masakan mamah sudah tercium, tetapi sampai saat itu temannya masih belum pergi dari depan gerbang. Mendengar bunyi tangisan temannya, anak itu langsung melompat dari kursi dan berlari ke luar rumah.
“Nini kenapa? Kok nangis?” tanya si bocah itu pada temannya. Anak yang bernama Nini itu masih terisak, temannya sekarang berjongkok di depannya sampai daster merah jambunya mengenai aspal.
“Ayah sama ibu belum pulang, huhuhu” jawab Nini. Sesekali dia menyedot ingus yang mengalir dari lubang hidungnya agar masuk lagi ke hidung, bedak belepotannya hampir luntur karena air mata.
“Lho terus Nini makan malam sama siapa dong?” Teman Nini bertanya lagi. Nini hanya menggeleng.
“Mia! Mia kenapa ke luar?” Suara mamah anak yang berdaster merah jambu terdengar dari depan pintu rumahnya.
“Nini nangis, Mah! Mamah-Papahnya belum pulang!” jawab anak bedaster pink yang ternyata Namanya Mia.
“Sini Mia sama Nini, Nini di rumah Mia aja sini!” Mama Mia memanggil mereka dengan menggerakan tangan memanggil. Mia megandeng Nini ke rumahnya. Nini hanya ikut berjalan dan menghapus air mata di pipi yang belepotan bedak.
Setelah mereka semua makan, Nini Kembali menatap ponselnya. Tiba-tiba raut wajahnya berubah. Mia yang sejak tadi duduk diam melirik ke ponsel Nini.
“Itu siapa yang pakai masker?” tannya Mia menunjuk ponsel Nini.
“Ibu aku, ibu kerja di rumah sakit jadi harus pakai masker kalau kerja,” terang Nini yang suaranya sekarang tidak lagi terisak.
“Kalau papah kamu, kerja apa?”
“Ayah juga kerja di rumah sakit, hari ini ayah sama ibu katanya sibuk jadi nggak bisa pulang,” Nini tersenyum kecil dengan bangga.
“Ibu sama ayah bantuin banyak orang biar sehat!” lanjutnya sambil menggerakan kakinya yang bergelantungan di kursi meja makan.
“Ih keren! Kalau papah aku kerjanya depan laptop ngetik-ngetik!” Mia menirukan Gerakan papanya saat bekerja di depan laptop.
“Papahmu main game ya?” tanya Nini yang senyumnya jadi lebar.
“Hahaha bukan Nini, Om lagi ngetik laporan kantor.” Papanya Mia menyela perbicaraan kedua bocah itu.
“Yaudah Nini bobok di rumah Mia aja ya malam ini, nanti Om sama Tante SMS ke Papa-Mama NIni.” Papa Mia mengeluarkan ponsel lalu mengetik sesuatu. Mia dan Nini kegirangan karena mereka bisa bermain semalaman.
Setelah merapikan mainan, Mia menuju dapur untuk minum. Di sana mamanya sedang duduk dan minum dengan mata merah. Mia tentu saja khawatir melihat mama tercinta menangis.
“Ih, Mamah kenapa?” Mia menyenderkan kepalanya ke paha sang mama.
“Gak apa-apa, Nak. Kamu temenin Nini bobok sana. Kasian dia mama papanya gak bisa temenin dia, jadi kamu harus baik terus ya sama dia.” Mama Mia mengelus kepala anaknya yang dikuncir dua. Mia mengangguk sambil mengelap pipi mama.
“Udah sana bobok, udah malam.” Mama mengiring Mia ke kamarnya. Saat melihat Nini dan Mia hatinya terasa pedih membayangkan bocah kecil yang sendirian di rumah tida bisa melakukan apa-apa. Sebelum air matanya tumpah lagi, mama menutup pintu kamar anaknya lalu pergi.
“Assalamualaikum!”
“Mekom!”
“Samlekom!”
Sore itu, Kompleks Harum Manis Kembali terdengar salam-salam di depan pintu. Beraneka bunyi salam yang dirindukan bocah Kompleks Harum Manis selama musim pandemi. Semua pelukan hangat usai bermain, dan kecupan sayang di pipi. Nini berlari ke arah ibunyaa dan memeluk erat, sebelum akhirnya bertanya…
“Bu, ayah mana? Kok gak ikut pulang?”
“Nak…” jawaban itu terpotong.
“Ayahmu sudah lebih dulu pulang ke surga Allah,” Ibu Nini berusaha memasang ekspresi sebaik mungkin.
“Ayahmu hebat dan baik, nanti ibu ceritakan gimana perjuangan ayah merawat pasien yang kena virus waktu kerja di rumah sakit, ya?” Mendengar jawaban sang ibu, Nini terdiam dulu lalu mengganguk pelan. Sore itu semua kepala keluarga pulang. Sore itu semua anak berhenti bermain dan pulang. Sore salam-salam Kembali terdengar. Sore itu Nini punya cerita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*