Dongeng di Malam Kamis

Oleh: Omiya

Kamis malam aku terbangun dan terpana melihat sekeliling yang terlihat pasi. Putih bersih dan aroma cat yang baru saja kering menyeruak kedalam penciumanku. Ingatanku begitu samar-samar bahkan gelap, mengapa aku disini? Sejak kapan? Dimana aku?  Semua terngiang-ngiang di kepalaku mencari jawaban. Selang beberapa detik suara pintu terbuka cukup mengagetkanku, spontan aku sedikit menarik ujung selimutku. Jantungku berpacu lebih cepat tanpa disadari, siapa gerangan dibalik pintu itu. Seorang bapak berbaju putih dengan rambut sedikit memutih masuk dan tersenyum. Aku belum pernah melihatnya tapi anehnya ia seperti orang yang tak asing. Dari tatapannya terlihat bahwa ia sangat mengenaliku. 

“Sudah bangun, kamu lapar? Bapak membawa telur mata sapi setengah matang kesukaanmu”. 

“Haaah, bagaimana ia tahu kesukaanku, apa ia seorang penguntit. Jangan-jangan dia adalah penjahat yang membuat ibu menghilang” ucapku dalam hati . 

Melihat raut wajahku yang ketakutan dan bingung, ia akhirnya mendekatiku duduk di samping tempat tidur sambil meletakan piring berisi telur mata sapi. Tatapannya begitu lembut dan menenangkan sehingga rasa takut itu menghilang. 

“Mengapa bangun di tengah malam seperti ini, ada yang membuat tidurmu terganggu?”

“Tii-tidaaak”

Aku sedikit gelagapan menjawabnya karena nyawaku belum terkumpul. Ia mengelus pucuk rambutku sambil bercerita, entahlah tiba-tiba ia bercerita tanpa kuminta. 

“Res, kau pernah mendengar cerita tentang Snow White? “

“haaah, iyaah aku tau si putri tidur itu, aku sudah membaca bukunya di rumah. Ibu juga pernah membacakannya untukku“ 

“Bagaimana ibu menceritakannya?” tanyanya.

“Seperti cerita dalam dongeng, Snow white tertidur karena ulah nenek sihir dan menunggu pangeran tampan datang untuk menolongnya kemudian menikah dan hidup bahagia”. “hmmm.. Aku jadi rindu ibu akhir-akhir ini. Dia begitu sibuk dan sering kali menghilang dalam waktu yang lama”. Aku rindu masa dimana ia akan duduk di sampingku seperti yang kau lakukan sekarang dan mulai bercerita”.

“Apa yang ibumu lakukan sehingga tidak ada waktu untukmu lagi?”

“Aku tidak tahu dia selalu pergi ke seberang jalan yang jauh dan melarang aku untuk mengikutinya. Pernah suatu kali aku menangis karena ingin ikut dengannya namun ia justru memarahiku. Aku tidak mengerti, ia selalu terlihat cantik dengan baju yang sangat cerah. Kupikir ia akan pergi ke pesta atau berlibur ke tempat yang indah, tapi entah aku tidak tahu mengapa ia selalu melarangku. Bukankah aku ini anaknya yang juga harus berlibur dan berbahagia. Bukankah dia ibu yang egois? pergi jalan-jalan sendiri dan berbahagia sendiri. Aku akan memarahinya jika ia datang.” Ucapku sambil menggerutu.

“Hahahah.. kau memang sangat mirip dengan ibumu”

“Memangnya kau mengenal ibuku? Kau ini siapa?” sambil melonjak dari tempat tidur kutatap ia dengan tajam.

“Kau akan tau nanti Resti, sekarang kau mau mendengarkan cerita Snow White versiku?

“Sebentar kau juga tau namaku, dari mana kau tahu? kita baru saja bertemu”

“Bukan dirimu kalau tidak penasaran dan terus mencecar pertanyaan, sangat mirip ibumu, sebentar akan aku ambilkan minum untukmu, tenggorokanmu terasa sangat kering bukan?”

Aku hanya diam menatapnya dengan tajam. Siapa dia ini? Mengapa ia juga bisa tahu kalau tenggorokanku sangat kering. Kemudian dia benar-benar pergi mengambil air minum. Sebentar, dia benar. Tenggorokanku sangatlah kering seperti sudah berhari-hari aku tidak minum. Apakah dia peramal atau jangan-jangan dia hantu di tempat ini. Bulu kudukku meremang memikirkan itu. Selang beberapa menit pintu kembali berbunyi. Kukira si bapak misterius itu. Namun kemudian aku tertegun, ternyata seseorang yang berada dibalik pintu adalah ibu. Dia tampak sangat menyedihkan dengan mata yang merah dan bengkak, bajunya pun tidak seperti biasa terlihat lusuh dan kumal. Tatapannya sangat kosong, dia tidak terlihat seperti ibuku.

“Maaf…. Maafkan ibu, aku memang tidak berguna, aku ibu yang tidak berguna”

Ibu berteriak-teriak. aku tidak mengerti mengapa ia menjadi seperti itu. Kukira dia akan datang dan memelukku setelah sekian lama menghilang. Dia hanya berteriak dan menangis kemudian kembali keluar. Aku mengikuti ibu keluar tapi sepertinya ia sudah berjalan jauh. Aku melihat sekeliling lagi dan tertegun ternyata aku berada di rumah sakit. Aku yakin sekali ini adalah rumah sakit, aku pernah merasakan aroma seperti ini sebelumnya. Aku kembali berjalan mengikuti lorong rumah sakit ini. Selain mencari ibu, juga mencari air minum sebab tenggorokanku benar-benar terasa sangat kering. Saat sampai di ujung pintu lorong aku kembali melihat si bapak misterius itu lengkap dengan segelas air minum, dia benar-benar akan membawakanku minum. 

“Heey, kau keluar dari kamarmu”

“Mengapa aku ada di rumah sakit? apa yang terjadi ?”

“Kau baru menyadarinya bukan? Sekarang minumlah dulu, tenggorokanmu sangat kering. Nanti akan kuceritakan mengapa kau disini bahkan akan ku ceritakan pula mengapa aku juga ada disini  duduk bersamamu dan bercerita”

Seperti ini, pada masa lalu yang sangat jauh hiduplah seorang putri istana yang manja dan kekanak-kanakan. Suatu sore, ia meminta pengawal raja untuk menemaninya berburu rusa bertanduk berlian. Pengawal sudah mengingatkan bahwa hal seperti itu tidak ada di dunia ini, bahkan mustahil. Namun sang putri bersikukuh untuk mencarinya. “Wahai putri, informasi dari manakah yang kau terima jika di hutan terdapat rusa bertanduk berlian?” tanya sang pengawal. “Sudah jangan banyak tanya. Antarkan saja aku kesana”. Hardik sang putri. Pergilah mereka ke dalam hutan walaupun hari sudah mulai gelap. Ditengah perjalanan, sang pengawal yang sudah tidak tahan dengan sikap semena-mena sang putri memiliki rencana jahat untuk meninggalkannya di hutan. “Biarkan saja dia di dalam hutan dan dimakan hewan buas, putri seperti dirinya layak mendapatkan hal itu”. 

Di tengah perjalanan pengawal meminta berhenti karena ingin buang air kecil, namun pengawal itu pergi meninggalkan sang putri. Setelah beberapa saat barulah sang putri tersadar bahwa pengawal tak kunjung datang dan ia berada di tengah hutan yang mulai menggelap. Mulailah dirinya panik dan menangis seorang diri, mencoba berjalan menyusuri tanah yang terjal dan berbatu. “Dasar pengawal tidak berguna. Awas saja nanti kalau aku telah sampai di istana, kuperintahkan untuk memenggal kepalanya di tengah-tengah rakyatku.” Gerutu sang putri.

Setelah berjalan cukup jauh, sang putri mulai kelelahan dan kehabisan tenaga. Ia sudah tidak kuat lagi berjalan walau hanya selangkah, hingga ia mendengar sebuah sorak-sorai yang sepertinya tidak jauh dari tempatnya berdiri. Diantara kelelahan dan terkejut, sang putri jatuh tidak sadarkan diri di depan gerombolan kurcaci yang baru saja pulang bekerja. Tak kalah kaget pula, para kurcaci seketika menghampiri sang putri. “Siapa dia? Cantik sekali” tanya salah satu kurcaci. “Sepertinya dia berasal dari istana, lihat pakaian yang dikenakannya” kurcaci lain menimpali. “Kita harus menolongnya, jika tidak mungkin saja dia dimakan binatang buas atau di culik hantu”. “Baiklah ayo kita angkat bersama-sama ke dalam rumah”.

Keesokan paginya, sang putri terbangun dan berteriak. “Haaaah… dimana aku, mengapa semua benda disini berukuran kecil?”. “Kau sudah bangun, mari sarapan dengan kami. Ada roti dan susu yang bisa kita makan bersama-sama” ucap salah satu kurcaci. Sang putri yang terbiasa hidup mewah di istana dan manja menolak makanan yang telah disediakan oleh segerombolan kurcaci dan meminta hal lain. “Aku tidak suka rasa roti ini, rasanya tidak seperti di istana” tolak sang putri dengan angkuh. “Wahai putri, disini tidak ada roti yang kau maksud. Kalau kau lapar silahkan makan, jika tidak yah sudah”. Jawab kurcaci dengan sarkas. “Memangnya dia siapa? Sudah untung kita menolongnya dari binatang buas, dasar tidak tahu diuntung” timpal kurcaci lain sambil menggerutu. 

“Jika kalian tidak mau menuruti perintahku, akan aku hukum kalian dengan memenggal kepala di depan khalayak ramai” ancam sang putri. “Hahahaha… sebelum itu terjadi, kepalamu akan kami penggal terlebih dahulu wahai putri yang arogan” jawab salah satu kurcaci. “Sudah..sudah kita akan terlambat bekerja, wahai putri jika kau lapar makan saja apa yang ada disini dan kau harus menyadari bahwa ini bukan istana” tegas sang pemimpin kurcaci.

Hari berganti tidak ada tanda pihak istana datang menjemput sang putri. Lambat laun dia mulai terbiasa dengan kehidupan barunya bersama kurcaci, walaupun sifat arogannya tidak pernah berubah. 

“Lalu apa yang terjadi selanjutnya pada sang putri?” tanya Resti ketika bapak misterius itu berhenti bercerita.

“Belum selesai ceritanya, Res. Kau tidak sabar sekali” jawab bapak misterius sambil tersenyum.

“Tapi kau bilang ini cerita tentang Snow White, tapi ku rasa ini bukan cerita Snow White. Mengapa ia tampak jahat dan menyebalkan”

“Sudah kubilang ini cerita versiku”

“Mengapa cerita versimu berbeda, memangnya boleh? aku tidak suka jika Snow White menjadi tokoh yang jahat”

“Kita lanjutkan saja ceritanya Res” ucap bapak misterius itu sambil tersenyum.

Suatu malam saat semua orang terlelap, sang putri diam-diam mencuri berlian yang dimiliki para kurcaci. Berlian itu mirip sekali seperti apa yang dicari olehnya selama ini yang menurut desas-desus terdapat dalam tanduk rusa. Sang putri bahagia bukan main dan terkejut bahwa apa yang dicarinya selama ini dapat ia ditemukan di tempat yang tak pernah diduga. Namun malam itu salah satu kurcaci melihat apa yang dilakukan oleh sang putri. Kurcaci tersebut akhirnya memberitahu kurcaci lain dengan pesan berantai secara diam-diam. 

Malam yang hening itu mereka anggap seolah-olah tidak ada kejadian apapun. Sang putri tetap tenang dengan menyimpan berlian di balik baju yang dia kenakan dan pagi-pagi buta berencana untuk pergi dari rumah itu. Begitupula dengan para kurcaci mereka tetap tidur dengan tenang seolah-olah tidak mengetahui apapun. 

Pagi datang saat sang putri sudah bersiap-siap untuk melarikan diri. Namun tanpa diduga para kurcaci sudah terbangun dan menawarkan sang putri untuk sarapan seperti biasanya. 

“Baiklah aku sarapan bersama dahulu, sebentar lagi mereka akan bekerja dan saat itu aku akan pergi dari tempat ini” ucap sang putri dalam hati.

Sang putri tidak menyadari bahwa sarapan yang dimakannya telah dicampur racun yang membuat dirinya tidak akan pernah bangun kembali selama-lamanya. 

Setelah bapak misterius itu berhenti bercerita, aku merasa ada yang aneh dengan kepalaku, rasanya sangat pusing dan menyakitkan. Beberapa potongan kejadian berputar-putar di kepalaku. Tiba-tiba aku berada di dalam sebuah mobil dan entah bapak misterius itu sedang mengendarai mobil dan bercerita tentang Snow White yang tadi sudah diceritakan. Tidak hanya itu, sebuah ucapan-ucapan yang tidak asing menari-nari dalam kepalaku. 

“Hei mengapa kau sangat menyukai Snow White, dia putri yang manja dan menyebalkan”. 

“Apa katamu? Dia tidak menyebalkan, dia putri cantik dan baik hati”. 

Bersamaan dengan itu sebuah truk besar dari jalur kiri melaju kencang dan semakin mendekati mobil yang aku tumpangi. Kemudian bruuug.. menghantam bagian samping mobilku dan aku melihat bagaimana tubuhku berputar-putar di dalam mobil yang terjatuh ke dalam jurang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*