Tetangga Tak Kasat Mata

Oleh: Frita Arthelia

Belum lama ini aku dan Lepita pindah ke sebuah rumah di perumahan elit, meskipun elit masih ada beberapa rumah tertinggal yang memiliki isu mistis. Saudara kembarku memang tidak percaya akan adanya hal mengerikan seperti hantu dan makhluk fiksi seram lain. Jika harus pindah ke rumah berdekatan dengan ruang angker bukan menjadi masalah serius. Lebih baik bertetangga dengan makhluk tak kasat mata dari pada manusia yang ribut dan suka membuang sampah di tong tetangganya.

Tidak sekali atau dua kali aku mendengar suara langkah kaki berlari, tapi aku dan Lepita selalu berpikir itu hanya kucing atau anjing yang masuk ke sana. Yah, selagi tidak menganggu kami di sini itu sama sekali tidak masalah. Namun, hal yang lebih aneh terjadi.

Lepita dan aku sedang membersihkan halaman belakang, dan dengan santainya kami menyiram tanaman bunga matahari kami di samping pagar rumah angker itu. Karena bunga matahari relatif tinggi maka kami harus menyiram setinggi bunga itu dan bisa dikatakan setinggi pagar pemisah rumah. Percikan air selang kami sama sekali tidak bisa membasahi rumah itu. Air tadi seperti tembus ke dalam, dan malam harinya saluran air rumah itu berbunyi aliran air yang mengalir. Bukankah rumah itu kosong dan tidak mungkin ada yang mencuci di sana?

Pekerjaanku sebagai seorang arsitek seolah tercoret oleh kejadian-kejadian di bagunan sebelah rumah kami, hingga Lepita dan aku memutuskan untuk masuk ke sana di siang hari dan mencari tahu apa yang ada di dalam. Sekali lagi rumah itu biasa tertinggal saja seperti rumah pada umumnya, bau debu dan lembab, lantainya kasar berpasir-pasir, sarang laba-laba di mana-mana, dan gelap meskipun siang hari karena tidak ada lampu yang masih berfungsi.

Aku bahkan mengambil kerak temboknya untuk menguji apakah anti air atau tidak seperti kejadian saat aku dan Lepita menyiram bunga. Hasilnya mengejutkan! Potongan tembok itu basah! Ternyata tidak ada yang spesial dari cat atau semennya. Lalu apa yang membuat rumah ini begitu “mistis”? Inilah yang menjadi misteri buatku.

“Lepina, menurutku yang aneh bukan pada bangunannya… sepertinya tanah bangunan itu yang justru aneh. Maksudku ada kekuatan mistis yang melindungi rumah itu,” kata kembaranku dengan suara bergetar, sejak kapan dia peduli dengan hal-hal mistis seperti itu. Kalau pun memang begitu, harusnya ada sesuatu yang lebih mengerikan dari pada bunyi kaki dan tembok super. Malam itu juga aku melihat kain melayang seolah ada yang memakainya menjadi jubah di jendela rumah itu. Sepertinnya ucapan Lepita ada benarnya.

Setelah memikirkan berkali-kali ide gila ini, akhirnya Lepita dan aku serius menginap di rumah kosong itu sehari, tanpa tidur!

Kami menyiapkan senter untuk malam hari, berhubung di siang hari rumah itu sudah gelap, apalagi malam. Masuklah kami ke rumah dengan suasana tak terurus itu. Bau lembab dan tetesan air dari atap bocor menyambut kami, saat itu juga bunyi langkah kaki dari ruang sebelah mengagetkan bulu kuduk kami hingga berdiri. Ada yang tidak beres!

Lepita menggengam lenganku erat sambil mengikuti langkah kakiku menuju ruang sebelah, betapa terkejutnya kami melihat barang-barang yang melayang di langit-langit ruang itu! Namun dugaan kami benar, langkah kaki itu memang berasal dari hewan berkaki empat, tepatnya kucing yang berlari di rumah ini.

Lepina bergetar, tangannya semakin kuat mencengkram lenganku bahkan tatapannya kosong. Ini tidak beres!

“Kak, kita ke rumah saja yuk kayanya gak beres ini tempat.” Lepita perlahan menarikku menuju pintu, aku setuju dan melangkah mundur ke pintu.

PRANG!

Aku menyandung sebuah botol dan nyaris terjatuh! Rasanya badan ini seperti tersentrum kaget, tiba-tiba enteng karena aku tidak jadi jatuh dan masih bisa bartahan.

“Kakak! Kakak terbang!” jerit Lepita masih memegang lenganku yang melayang di udara, nyaris menempel langit-langit rumah! Setelah membantuku turun menapak tanah lagi kami berlari ke luar dari semua kegilaan di rumah itu. Akhirnya kami bisa menghirup dan menghela napas dunia yang cerah. Belum malam hari saja hal mistis sudah terjadi.

“Kita pindah lagi yuk, Kak… aku gak mau ih tinggal sebelahan rumah aneh gitu. Masa semuanya melayang kaya di luar angkasa…” mendengar ucapan kembaranku otakku seperti mendapat kejutan yang membuat mata sampai melotot. Aku melempar beberapa batu ke pintu rumah itu dan hasilnya sama seperti saat aku nyaris terjatuh, batu-batu itu terbang!

“Kakak ngapain sih? Nanti kalau penunggunya marah, hidup kita gak tenang gimana?” Kembaranku sudah tidak tenang, bahkan pikirannya kejauhan sampai mengatakan hidup kita tidak tenang. Kemudian aku mengeluarkan gawai dan menunjukan sebuah artikel padanya.

“Kamu tidak perlu khawatir, rumah ini aman. Hanya saja gaya gravitasinya rendah sama seperti lokasi-lokasi di artikel ini. Benda apa saja yang dibuang ke bawah gak akan menyentuh tanah,” terangku santai. Lepita terbelalak, dibacanya baik-baik artikel itu kemudian dia melempar beberapa benda lagi kea rah rumah itu, semuanya tidak ada yang menyentuh tanah. Itu sebabnya tembok rumah itu tidak basah saaat disemprot air dan alasan lotengnya lembab sampai bocor, air berkumpul di langit-langit rumah itu, tidak ada hal mistis dan makhluk tak kasat mata yang menjadi tetangga kami.

“Kalau ini rumah alien gimana, Kak?” Lepita masih belum yakin sepertinya.

“Kalau rumah alien harusnya ada telur alien kan?” aku menjawab asal dengan pertanyaan tidak logis.

“I-iya juga ya…” Dia mengganguk.

“Terus barang yang terbang itu gimana dong? Kan gak mungkin dia terbang gitu aja kalau sebelumnya gak jatuh, gak mungkin kan jatuh begitu saja.” Lepita masih belum puas bertanya.

“Kan ada kucing tadi di sana, pasti pada kesenggol waktu lari,” jawabku tenang. Kembaranku mengganguk lagi. Setelah itu kami pergi ke rumah Pak RT dengan semangat seolah menemukan harta karun di rumah “angker” itu untuk memberi kabar menggelikan yang kami temukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*