Kisah Kelam Tentang Sebuah Perpisahan

Aku ingin sedikit bercerita padamu. Tentang sebuah kisah yang membuat kita tak akan pernah bisa bersatu sampai kapan pun. Walau sebenarnya kisah ini tak ada kaitannya dengan agama yang kita anut. Jangan lupakan kuatnya ikatan kebudayaan yang juga tak bisa dielakkan begitu saja.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 1357 M. Bertepatan dengan tahun-tahun kejayaan Majapahit sebagai penguasa bumi bagian selatan. Dengan gagahnya menantang kebesaran Mongol sebagai penguasa Utara yang kala itu tengah dipimpin Kublai Khan, putra raja sebelumnya, Jenghis Khan.

Seorang raja yang amat berwibawa dan dicintai rakyatnya tengah mencari seorang permaisuri. Dia dirundung kebingungan. Tak satu pun wanita yang diperlihatkan padanya, mampu menarik hati sang raja. Hayam Wuruk tentu tak akan terlalu ambil pusing dengan permasalahan perempuan. Masih banyak tugas yang harus dia kerjakan. Apalagi Majapahit sedang gencar-gencarnya melebarkan kekuasaan.

Kejayaan majapahit pula tak lepas dari peran penting mahapatihnya, Gajah Mada. Dialah seorang yang tak lagi diragukan kesetiaannya kepada kerajaan. Sebelum Hayam Wuruk dinobatkan menjadi raja pun, dia telah lama mengabdi pada kerajaan Majapahit. Sumpah Palapa adalah pondasi utamanya dalam upaya mempersatukan seluruh wilayah di Nusantara. Tentunya di bawah kekuasaan Majapahit.

Sayang, Mahapatih Gajah Mada menyimpan ambisi pribadi yang tak bisa dibendung. Dia termakan sumpahnya sendiri. Kemenangan demi kemenangan membutakan matanya akan hubungan kasih sayang seseorang. Dan di sinilah kisahnya akan segera dimulai, sayang.

Seorang pelukis kerajaan yang datang dari timur jawa meminta izin untuk melukis kemolekan wajah Dyah Pitaloka Citraresmi. Dialah putri Kerajaan Sunda yang terkenal akan kecantikannya. Katanya, tinggal Putri Citraresmi saja yang belum dia lukis dari sekian banyak putri kerajaan di seluruh nusantara.

Si pelukis tak hentinya memuji kecantikan sang putri. Sembari merampungkan lukisannya, dia yakin kalau Maharaja Hayam Wuruk akan jatuh hati pada Putri Citraresmi.

Setelah selesai dengan lukisannya, dia pun bergegas pergi kembali ke Majapahit. Tanpa berlama-lama lagi, si pelukis menemui sang raja. Berlembar-lembar lukisan dia perlihatkan pada Hayam Wuruk. Tak ada satu pun putri yang mampu memaut hatinya.

Hingga dia sampai di lembar terakhir. Lembar yang baru saja rampung beberapa minggu lalu sebelum kepulangan si juru lukis ke Majapahit. Hanya lukisan Putri Citraresmi yang mampu membuat sang raja jatuh hati. Sang juru lukis menjelaskan dengan gamblang kalau wanita cantik yang ada di lukisan itu adalah putri kerajaan tetangga. Negeri yang paling dekat dengan Majapahit.

Kita akan segera sampai kepada titik permasalahannya sayang, bersabarlah sedikit lagi.

Dalam keadaan hati yang berbunga-bunga, Hayam Wuruk meminta izin untuk meminang sang putri. Keluarga kerajaan pun tak keberatan. Apalagi, jika dilihat dari kaca mata sejarah, Majapahit dan Sunda memiliki leluhur yang sama. Mereka masih terikat tali persaudaraan yang amat kuat.

Salah seorang anggota kerajaan sangat mendukung pernikahan antara Hayam Wuruk dan Citraresmi. Selain sebagai hubungan kisah cinta, pernikahan ini pula dapat mempererat tali persaudaraan kedua kerajaan besar tersebut. Tak akan ada konflik yang menggelayut di antara kedua belah pihak.

Namun, seorang keluarga kerajaan menyarankan agar pihak Citraresmi saja yang datang ke Majapahit. Atas segala pertimbangan, Hayam Wuruk menerima usulan ini. Dia pun segera mengirimkan surat kehormatan kepada Kerajaan Sunda dengan maksud meminang sang putri sebagai permaisuri Kerajaan Majapahit.

Maharaja Linggabuana yang waktu itu tengah memimpin Kerajaan Sunda amat terkesan dengan surat kehormatan yang dikirimkan kepadanya. Baginya, surat ini bukan sekadar kehormatan, melainkan keberuntungan. Menjalin hubungan baik dengan Majapahit adalah sebuah karunia yang indah. Mengingat saat itu Majapahit tengah berada di puncak kejayaannya dalam kekuasaan Hayam Wuruk.

Akan tetapi, ada satu hal yang membuat sebagian keluarga kerajaan tidak setuju dengan syarat yang diberikan Hayam Wuruk tentang pihak wanita yang harus datang ke Majapahit. Karena pada saat itu bukanlah hal yang lazim mempelai wanita mendatangi pria. Adalah Bunisora Suradipati, salah seorang anggota dewan kerajaan yang menentang keras kepergian rombongan Citraresmi ke Majapahit. Namun apa mau dikata, Maharaja Linggabuana tetap pengkuh untuk mengantarkan putrinya ke negara tetangga.

Setelah ini, aku akan sangat sedih menceritakan semuanya. Namun kuharap kau tetap membaca apa yang telah kutulis dalam surat ini untukmu.

Singkat cerita, rombongan pihak Kerajaan Sunda telah sampai di Pesanggrahan Bubat dengan diantar 99 prajurit pengawal tanpa peralatan perang. Untuk apa pula peralatan perang, niat mereka pergi ke Majapahit saja bukan untuk peperangan.

Di Pesanggrahan Bubat, mereka kemudian membangun tenda untuk beristirahat. Kabar ini sampai kepada Hayam Wuruk. Seluruh keluarga kerajaan pun bersuka ria dan berniat untuk menjamu mereka lebih awal. Namun Gajah Mada memberi saran untuk menunda penjamuan rombongan dari Sunda. Hayam Wuruk pun setuju.

Sayang, aku tidak tahu cerita ini benar atau tidak. Tetapi aku membaca dua buku yang ditulis oleh orang Sunda dan Jawa. Dan keduanya membenarkan cerita ini.

Gajah Mada yang sedari awal berniat untuk menaklukan Sunda, kerajaan yang sampai sekarang tak bisa dia taklukan, menyusun rencana untuk menjadikan momen ini sebagai kemenangannya. Dia mencegat rombongan Sunda di Bubat dengan berbagai tuduhan yang dibuat-buat. Maka, terjadilah peperangan di Pesanggrahan Bubat. Banyak korban dari Sunda berjatuhan. Mau bagaimana lagi, mereka tak memiliki persiapan sedikit pun untuk berperang.

Mirisnya, Maharaja Linggabuana sendirilah yang menjadi korban dari pembantaian Bubat itu. Kini yang tersisa hanyalah Putri Citraresmi yang hendak dijadikan lambang penaklukan Sunda oleh Gajah Mada. Namun harga dirinya tak semurah itu. Putri Citraresmi tak kuasa melihat seluruh pasukan Sunda dan ayahnya sendiri mati mengenaskan. Dengan amarah bercampur kekecewaan, dia memutuskan untuk bunuh diri seketika itu juga.

Setelah fenomena kelam itu, Hayam Wuruk sangat menyesal atas kebiadaban yang dilakukan mahapatihnya sendiri. Dengan berat hati, dia memberhentikan Gajah Mada dari jabatannya. Lantas membebaskan seluruh daerah penaklukan sebagai bentuk rasa bersalah kepada Kerajaan Sunda.

Begitulah sayang, alasan kenapa orang tuaku tak pernah menginginkan ada rasa cinta yang terjalin di antara kita. Mungkin ini memang sejarah lama yang kita sendiri tak tahu jelas kebenarannya. Namun adat tetaplah adat, mereka sangat pengkuh dengan keyakinannya bahwa sejarah ini benar-benar membawa kutukan.

Aku sendiri bukan orang yang yakin akan adanya kutukan. Bagiku semua itu hanyalah kearifan lokal yang menambah kesan kebudayaan nusantara saja. Cerita-cerita yang patut untuk kita nikmati dan ambil hikmahnya. Walaupun bukan berarti aku bisa mengubah cara pandang keluargaku dengan mudah seperti aku mulai mencintaimu dalam waktu yang singkat. Mereka tetaplah mereka dengan apa yang mereka yakini.

Tapi percayalah. Kalaupun kita benar-benar tak bisa bersatu, akan ada penggantiku yang lebih baik. Dia akan menjagamu seperti dulu kau menjaga perasaanku. Tak apa jika kita berpisah. Kuharap kau belajar untuk ikhlas. Cinta memang sering berakhir seperti ini. Sebab, tak boleh ada pihak yang merasa dirugikan dalam kisah cinta. Sekalipun mereka tak terlibat di dalamnya.

Ttd,

Dari aku yang merindukanmu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*