Rapatkan Barisanmu!!

Oleh: Tamara Fauziah

Tetesan air diantara ranting menyisakan kelembapan dan aroma khas pun menyeruak menyesap dalam setiap pernapasan makhluk hidup yang sedang berteduh dari ganasnya air yang turun dari langit tanpa diminta. Diantara makhluk hidup tersebut ada segerombolan wanita dengan rincian dua orang berhijab sedangkan dua orang lainnya tidak berhijab dan salah satunya adalah aku tak berhijab. Berbaur dan melebur dalam percakapan mereka yang terkadang tak ku mengerti namun raut wajahku tetap menunjukkan sebuah senyuman manis sebagai bentuk menghargai mereka. Tak lama berselang waktu, terdengar suara orang terdengar seperti menyanyi menurut pendengaranku namun ketiga temanku segera berhenti dari obrolannya dan terdiam sejenak seolah menghargai orang yang sedang menyanyi dan itu bukan hanya teman-temanku saja yang berhenti dari aktivisnya tapi hampir semua orang di sekitarku pun ikut berhenti menyimak apa yang di dengarnya. Selepas suara berhenti lalu mereka menengadahkan kedua tangannya seraya seperti orang yang meminta. Jujur baru kali ini aku melihat pemandangan seperti ini secara ekslusif. Berbagai kalimat tanya bermunculan dalam benakku, kesal dengan rasa penasaran yang membuncah akhirnya bibir ini memberanikan diri untuk bertanya.

“Sal, apa yang kalian lakukan tadi? Kenapa kalian berhenti saat ada suara orang menyanyi itu? Dan kenapa kalian menengadahkan tangan seakan sedang meminta sesuatu? Maaf jika pertanyaanku terlihat lancang ataupun anehlah tapi aku penasaran saja dengan hal yang tadi kalian lakukan.” pertanyaan dari benakku tercurah sudah dengan derasnya. Namun Salsa hanya tersenyum dan temanku yang lainnya pun begitu.

“begini Maria suara yang tadi kamu dengar adalah bukan nyanyian melainkan seruan panggilan dari Tuhan agar kami segera menghadap kepada-Nya untuk beribadah yang diwajibkan oleh Tuhan kami dan ketika seruan panggilan tersebut berhenti kami di anjurkan untuk berdoa lalu bersegera besuci untuk bisa beribadah dengan khidmat.” penjelasan yang terucap oleh temannya cukup memberikan pencerahan akan jawaban yang diinginkanku.

“Maria, kami shalat dulu ya kamu tunggu disini.” aku hanya tersenyum seraya menganggukan kepala mempersilahkan. Kini saatnya aku kembali menyelam dalam lamunanku mengenai penjelasan Salsa tentang seruan panggilan untuk beribadah. Lantunannya begitu menyentuh hati dan membuat tentram ketika mendengarnya. Ada apa dengan pikiran yang semakin liar ini? Cukup Maria!!! Teriakan dalam hati semakin membuat pikiranku kalang kabut. Ku putuskan untuk tak terlalu memikirkannya.

Dikala aku bercakap ria bersama temanku Salsa, berbagai pertanyaan menyeruak kembali. Entah apa yang merasukiku hingga lisan ini memberanikan diri untuk bertanya lagi.

“Sal kenapa kamu berbeda dengan yang lain? Kenapa kamu mau memakai baju yang besar dengan penutup kepala menurutku begitu terlihat risih ketika memakainya.” pikiranku semakin liar lagi dan pertanyaan yang ku ajukan pada temanku terkesan kurang sopan. Namun, Salsa sama seperti sebelumnya, menampilkan senyum manisnya lagi.

“begini Maria, dalam agamaku sudah menjadi kewajiban seorang wanita agar bisa menjaga kehormatannya dengan cara berhijab seperti aku. Dengan cara seperti ini, para wanita akan terlindungi dari ancaman orang-orang hidung belang dan apa yang kulakukan adalah perintah dari Allah maka aku pun mematuhi dengan apa diperintahkan oleh Allah.” penjelasan salsa malah membuat pikiranku semakin liar dan ingin mengajukan pertanyaan kembali.

“tapi Sal, mengapa hanya sedikit sekali perempuan yang memakai hijab sepertimu? Padahal aku lihat banyak perempuan sama agamanya denganmu namun tidak melaksanakan perintah Tuhanmu?” Salsapun kembali tersenyum dengan manis khasnya.

“Maria, memang setiap orang memiliki rasa sadarnya masing-masing. Berpakaian sepertiku ini di zamannya kita masih jarang, salah satu penyebabnya adalah kurangnya ilmu mereka mengenai perintah dari Allah ini.” aku hanya mengangguk dan tersenyum pada Salsa dan tak ku lanjutkan kembali sesi tanya jawab dengan Salsa. Aku merutuki pikiranku entah mengapa semakin liar dan menimbulkan keraguan dalam hati. Tapi semakin ku bertanya maka semakin pula pikiranku untuk berpindah agama. Saat mendengar seruan panggilan kala itu, hati yang dirasa saat itu adalah rasa damai dan tentram dan seolah aku menemukan suatu hal selama ini dicari, ku dapatkan disini jawabannya. Terbesit untuk segera berpindah agama, namun banyak konsekuensi dihadapi. Namun semakin lama kupikirkan semakin yakin hati untuk berpindah agama.

Akhirnya sebuah keputusan besar diambil olehku. Namun bagaimana cara agar aku bisa masuk agamanya Salsa. Kuberanikan diri untuk bertanya kembali pada Salsa.

“Sal, bagaimana cara agar kita bisa masuk agama kamu?” pertanyaan yang kuajukan sontak membuat Salsa terkejut.

“Maria?? Apa kamu mau masuk Islam?” Salsa malah balik bertanya padaku.

“Hmm sepertinya iya. Tolong jawab Sal” terlihat Salsa yang begitu sumringah.

“Masyaallah Maria. Oke,oke aku kasih tahu ya. Dalam agama ku ketika hendak masuk Islam maka kamu cukup mengucapkan dua kalimat syahadat di depan seorang ustad dan ucapan syahadat tersebut harus dari lubuk hati yang dalam.”

“Oke Sal, aku ingin masuk agamamu.” Perkataan terlontar dari mulutku sontak membuat Salsa senang dan memelukku dengan erat.

“Alhamdulillah akhirnya kamu mau masuk agama Islam. Oke Maria besok kamu bersiap-siap untuk pergi ke masjid dan aku akan menemani kamu menemui ustad yang akan membimbingmu dalam pengucapan kalimat sakral yakni syahadat.” Salsa kembali memelukku dengan erat. Aku hanya tersenyum bahagia melihatnya.

Keputusan telah diambil dan diputuskan. Kalimat syahadat pun sudah terucapkan oleh lisanku. Walaupun mengenai keislamanku ini tanpa diketahui oleh keluargaku disana. Sengaja kulakukan karena aku tak mau dihakimi oleh keluarga sendiri. Kuputuskan untuk menyembunyikan keislamanku saat ini. Tetapi disaat aku sudah beragama Islam dan menjadi seorang mualaf, Salsa sahabat terbaikku pergi ke luar negeri mengikuti orang tuanya. Rasa hampa datang menghampiri seiring berjalannya waktu. Kehilangan sosok sahabat terbaik yang bisa mengantarkanku hingga memasuki babak kehidupan yang baru. Sebenarnya masih banyak pertanyaan berkeliaran dalam pikiranku hingga saat ini. Merasa hidup tak tentu arah, aku memutuskan untuk menyelami dunia malam hingga aku menemukan seorang teman bersama dalam dunia yang sama. Berbagai hal berkaitan dengan dunia malam ku lalui tanpa ada beban. Obat-obatan terlarang serta minuman-minuman keras memabukkan ku lakoni tanpa henti.

Tiba suatu kabar menyesakkan hati, sahabat di dunia malamku meninggal dunia karena efek overdosis sabu-sabu yang digunakan. Terketuk hati dan berbagai penyesalan datang menghampiri bertubi-tubi dalam pikiranku. Sebenarnya apa yang selama ini kucari? Tujuan hidupku ini untuk apa? Aku sudah Muslim tapi semakin bobrok moralku. Apa yang salah dengan diriku? Ahhhhh…. Kesal!!! Umpatan dalam hati semakin menyesakkan. Berjalan kelimpungan tak tentu arah hingga suara itu terdengar lagi dan entah mengapa langkah kaki berjalan mengikuti asal suara tersebut. Lalu tibalah raga ini di tempat aku menemukan ketenangan hati. Ku langkahkan kaki menapaki bekas jejak dahulu, termenung dalam lamunan paling serius. Tiba-tiba sebuah tepukan di pundak membuyarkam lamunanku.

“Teh, mari shalat berjamaah.” ucap seorang ibu tua.

Aku hanya tersenyum mengiyakan ajakan ibu tua dan bersegera mengikuti shalat berjamaah. Tapi jujur saja, aku sudah lupa gerakan dan bacaan shalat selama ini kuabaikan sehingga yang bisa kulakukan hanya mengikuti orang lain walaupun dengan keadaan bingung tak mengerti. Selepas shalat berjamaah terasa lega hati seakan beban berat meluruh sepenuhnya. Dalam hati ku bertanya, Tuhan apakah ini yang disebut dengan nikmatnya iman? Apakah ini cahaya hidayah dari-Mu?

Kuberanikan diri menghampiri petugas tempat suci ini.

“Pak, maaf mengganggu waktunya. Saya hendak bertanya bapak mengerti tentang agama Islam dan mampu menjawab berbagai pertanyaan yang bermunculan dalam pikiran saya?”

“Iya silahkan apa yang hendak kamu tanyakan, nak?”

“Pak sebenarnya apa tujuan hidup seorang manusia di dunia ini? Bagaimana rupa nikmat iman dan bisa mendapatkan hidayah dari-Nya? ”

“Allah menciptakan kita di dunia untuk beribadah pada Allah salah satunya dengan cara kita bisa bermanfaat bagi orang lain dan rupa nikmat itu ketika kita merasakan ketentraman hati dalam beribadah.” jawaban dari bapak ini membuka mata hati selama ini terselibungi kegelapan.

Setelah sekian lama berbagai rintangan dan masalah kehidupan dilalui dengan keadaan hati bingung tak tentu arah dan cahaya itu datang menghampiri tanpa diundang. Maka aku putuskan untuk mengabdi di tempat suci orang Islam alias masjid dimana aku menemukan babak baru kehidupan yang lebih terarah dan bermakna.

Berawal dari keresahan hati akan masalah yang ada di depan mata mengenai masalah shaf atau barisan shalat masih kurang rapi dan lurus maka aku berinisiatif untuk menjadi petugas khusus dalam merapikan barisan shalat di masjid tersebut.

Walaupun banyak celaan, makian dan cacian mengenai kebijakan yang ku buat. Namun lambat laun mereka mulai menerima dengan kebijakanku mengenai petugas yang khusus merapikan barisan shalat sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah.

Menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain kini menjadi tujuan hidupku dan kontribusi yang kulakukan untuk umat agar bisa membantu menghasilkan sebuah peradaban Islam yang unggul dengan dimulai dari merapikan dan merapatkan barisan shalat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*