Pemudaku Senjataku

Oleh: Rima Hildayanti

Tidak jarang, Pemuda disepelekan. Tidak sedikit, Pemuda yang kurang dalam hal
Pendidikan.

Pendidikan adalah senjata, yang efeknya tergantung pada siapa yang
memegang ditangannya, dan pada siapa itu ditujukan”, ungkap Joseph Stalin.

Banyak yang bilang, bangsa yang maju adalah bangsa yang berilmu.
Ketika Indonesia mempunyai peluang untuk maju, akan sangat sulit jika
senjatanya belum mampu bersaing dengan negara-negara lain. Pemuda merupakan
tonggak keberhasilan suatu bangsa. Apalagi bagi mereka yang telah menjadi
Mahasiswa, kontribusi mereka di masyarakat dapat menjadi aset penting suatu
negara.

Bersamaan dengan HUT Indonesia yang ke-100 tahun, “Menyongsong
Indonesia Emas tahun 2045“ adalah konsep yang akhir-akhir ini menjadi sebuah
perbincangan. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Mengapa demikian? Karena
menurut data kependudukan, pada tahun 2045 Indonesia berada tepat dipuncaknya
dengan mayoritas penduduk berusia produktif yang berkisar antara 15 – 64 tahun.
Diperkirakan penduduknya adalah yang sekarang duduk dibangku PAUD dan SD.
Hal tersebut dipercayai sebagai bonus demografi, karena penduduk berusia
produktif lebih besar dibanding usia non produktif. Tekadang orang hanya fokus
pada yang berbau positif hingga lupa terhadap hal negatifnya. Demografi dapat
dikatakan bonus jika didalamnya dihuni oleh manusia-manusia yang berkualitas.
Sedangkan apabila tidak, peluang tadi bisa menjadi sebuah petaka. Penduduk
seperti apa yang dikatakan berkualitas? Yaitu penduduk yang mampu mengatasi
permasalahan di bangsa itu sendiri. Misalnya korupsi. Korupsi berasal dari
mereka yang sejak dini memang sudah terbiasa hidup tanpa adanya aturan. Lebih
tepatnya, peraturan yang ada hanya dijadikan hiasan tanpa diterapkan. Bunga
tidak akan tiba-tiba tumbuh tanpa adanya benih yang ditanam.

Salah satu kebiasaan sederhana yang seringkali dilakukan anak sekolah
adalah menyontek. Penipu-penipu yang besar dan koruptor-koruptor yang
menyesatkan rakyat, berasal dari mereka yang menerapkan pola pikir bahwa
mencontek adalah jalan terbaik untuk menjadi yang terbaik. Bahkan guru pun
seringkali keliru membedakan antara siswa yang cerdas dan pintar. Yang menjadi
titik utama nilai adalah segalanya. Seperti yang kita ketahui, Nilai bagus hasil
nyontek akan di cap pintar ketimbang nilai kecil hasil kejujuran. Siswa yang
kurang paham dalam pelajaran memang diberi ruang untuk bertanya, tetapi disatu
sisi guru menilai bahwa anak tersebut mempunyai pemahaman yang kurang.
Hingga secara tidak langsung mencontek adalah jalan pintas yang seiring dengan
berjalannya waktu menjadi semakin tertanam dalam diri siswa. Hal yang menjadi
peluang berikutnya, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang sekarang
duduk dibangku para pejabat, hingga dapat dengan mudah mengapresiasikan
kebiasaan jeleknya yang berlangsung sejak zaman sekolah.

Contoh lainnya adalah pemuda seringkali melakukan aksi mabal sekolah.
Dengan sekedar mengisi jam pelajaran dengan jajan dan kumpul-kumpul dikantin,
mengikuti kegiatan pembelajaran lalu melompati gerbang sekolah dengan cara
menunggu satpam lengah, atau bahkan melakukan strategi tipsen, atau titip absen.
Absen ditandatangani oleh temannya, sedangkan ia berangkat sekolah hanya dari
rumah dan ntah pergi kemana. Jika teman tidak mau membantu strategi tipsen,
dianggap tidak kompak, tidak ada kerjasamanya, tidak punya solidaritas. Nah,
disinilah letak kesalahannya. Solidaritas dan kerjasama yang bagus lebih
diarahkan pada hal-hal negatif dibanding diterapkan pada hal-hal yang positif.
Coba jika pemuda Indonesia saling bekerjasama dan kompak dalam kegiatan
masyarakat, sedikit demi sedikit hal tersebut mampu memberi pengaruh baik di
masa depan.

Kehidupan hari ini menentukan kehidupan di masa yang akan datang.
Terutama Pemuda yang menjadi peran utama. Kita sendiri mampu menilai
bagaimana keadaan Indonesia dan bagaimana kualitas pemudanya. Indonesia
peringkat ke-4 dengan penduduk terpadat Sedunia, KKN marak dimana-mana,
penyalahgunaan narkotika dan kerusuhan seringkali terjadi khususnya dikalangan
para pemuda. Semisal dalam kegiatan pembelajaran pun, jumlah perempuan lebih
banyak di banding jumlah laki – laki. Itupun ide dan kekreatifan laki – laki kalah
saing oleh perempuan yang rajin dan ada kemauan. Dibangku sekolah, banyak
perempuan yang ingin menjadi ketua kelas, padahal disitu posisinya laki-laki
masih ada. Hal tersebut terjadi karena secara tidak langsung perempuan pun bisa
menilai. Yang sering melanggar peraturan, tidak mengerjakan tugas, membuat
rusuh dikelas dan hal-hal negatif lainnya kebanyakan dilakukan oleh laki – laki.
Bahkan dikalangan masyarakat pun, pemuda lebih banyak dinilai memberi efek
negatif ketimbang kontribusinya. Jika begitu, bagaimana Pemuda mampu
menjadi tonggak bagi bangsa?

Dari segi lainnya, yang kemungkinan terjadi pada tahun 2045 adalah
adanya Revolusi Mental. Pegawai yang saat ini berlangsung akan menjadi lansia
pada tahun 2045. Bisa dikatakan mereka sudah berada pada masa pensiun. Pada
posisi mereka tersebut beriringan dengan berkurangnya kegiatan komunikasi yang
baik, juga menurunnya tingkat kemampuan untuk mengelola tugas, karena adanya
keterbatasan manusia dalam faktor usia. Revolusi Mental akan menjadi pengaruh
buruk apabila masa lansia mulai berjalan tetapi kita sebagai generasi penerus
belum mempunyai bekal dan kemampuan yang baik. Siap tidak siap, mau tidak
mau keberhasilan negara sudah berada dalam genggaman. Tapi, revolusi mental
juga mampu menjadi bonus apabila Pemuda hari ini sejak awal sudah dibekali
ilmu Pengetahuan dan Pendidikan yang baik, atau bahkan menjadi bonus plus
plus, apabila Generasi Penerus mampu berkolaborasi dengan mereka yang telah
memasuki masa lansia tetapi masih memiliki kemampuan yang baik.

Dari banyaknya segi negatif yang kita ketahui, barulah demografi bisa
dikatakan bonus. Itupun jika beberapa permasalahan diatas telah ditemukan cara
penanganannya. Perubahan dapat dimulai dari hal yang paling sederhana,
dilakukan secara berulang dan bertahap, lama-lama terbiasa, hingga membuat
ketagihan.

Saat ini, bisa dikatakan kita berada ditengah-tengah. Mengetahui rumitnya
permasalahan yang ada di Indonesia dan memahami konsep Demografi yang akan
terjadi pada tahun 2045. Sebagai generasi muda, apakah kita hanya akan diam
berada ditengah tengah saja? terombang – ambing dan terbawa oleh arus? tidak!
dan jangan sampai!

Lalu, apa saja yang akan kita siapkan? Hal apa yang mampu kita lakukan?
Khususnya bagi Para Pemuda. Mulailah dari hal yang paling kecil dan lakukan
secara bertahap. Tidak ada yang perlu diratapi dan disalahkan. Tugas kita adalah
memulai dan memperbaiki.

 

1. Di lingkungan Sekolah

Apabila kita menjadi seorang Guru cobalah menerapkan strategi
pembelajaran dan sistem penilaian yang tidak terpacu pada nilai. Nilai boleh
menjadi patokan tapi cara memperolehnya lebih diutamakan. Sehingga tidak ada
lagi siswa mencontek karena menganggap yang cerdas kalah sama yang pintar.
Tidak ada lagi siswa yang bolos, karena berpikir bahwa nilai bisa juga didapatkan
oleh mereka yang tidak mengikuti pembelajaran, hingga meremehkan pentingnya
Pendidikan.

Mengetahui maraknya perilaku mencontek, mulailah membiasakan diri
untuk berperilaku jujur. Meskipun seringkali merasa sakit hati ketika merasa
kalah saing dengan mereka yang pintar tapi tidak cerdas, setidaknya kita telah
bersikap jujur kepada diri sendiri. “Kejujuran dan Tanggung Jawab merupakan
Modal Utama dalam meraih Kesuksesan.”

Tidak perlu merasa salah karena tidak sejalan dengan yang lain. Terkadang
kita harus menjadi beda untuk berada di tingkat yang berkualitas. Cobalah juga
memberanikan diri untuk menjadi pemimpin. Selain mrmimpin diri sendiri,
setidaknya kita bisa menjadi ketua kelas atau bahkan jika mampu menjadi ketua
dalam kegiatan organisasi. Hal ini dapat menumbuhkan jiwa kepemimpinan,
karena Pemuda suatu saat akan menjadi Pemimpin.

 

2. Di lingkungan Masyarakat

Sedikit – sedikit mulailah belajar aktif dalam kegiatan dimasyarakat.
Contohnya, seperti ikut serta dalam kegiatan Jum’at Bersih, mengadakan
kegiatan pos kamling, memimpin acara agustusan, ikut serta dalam
kegiatan pengajian bagi yang beragama Islam, dll.

Tidak perlu bersusah payah ingin dinilai baik oleh orang lain, karena
jika kita telah berusaha, secara otomatis orang lain pun akan menilai.”

Strategi lainnya adalah menjadi Pemuda Indonesia yang mampu berinovasi dan
berkreasi. Dengan memanfaatkan tekhnologi yang ada, cobalah sedikit demi
sedikit menciptakan sesuatu yang baru. Tidak hanya menjadi penikmat hasil karya
orang luar. Sudah saatnya Indonesia melahirkan pribadi – pribadi yang berani
maju dan mampu bersaing dengan negara-negara lain. Indonesia secara alamiah
sudah menjadi negara yang kaya akan Sumber Daya Alam. Ketika kita sebagai
penghuni tidak mampu memanfaatkan, secara tidak langsung kita sudah memberi
jalan kepada negara lain untuk masuk dan mengambil alih peluang tersebut.
Sehingga, kemungkinan besar kita sebagai pribumi hanya akan menjadi rakyat
yang dipimpin oleh negara lain di negara kita sendiri. Banyak negara lain yang
begitu terpikat terhadap kekayaan di Indonesia. Bahkan yang telah berhasil
menciptakan banyak karya pun masih saja mengincar Indonesia.

Jadi, Konsep Indonesia Emas adalah suatu pilihan yang disebut sebagai
Bonus Demografi. Dikatakan Bonus apabila Pemuda sebagai Generasi Penerus
sudah dibekali dengan Ilmu Pengetahuan.

Jadilah Pemuda yang berkarakter, haus akan Pendidikan dan Prestasi.
Karakter yang Unggul adalah sebuah jembatan, sedangkan Pendidikan dan
Prestasi akan mengantar kita menjadi seorang ahli.
( 20 September 2019 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*