Kau Cabut Sayap Untukku

KAU CABUT SAYAP UNTUKKU

Oleh: Percikan Senja

 

“Detik itu dimana tangisanmu dan tangisanku menandakan kemenangan besar.”

Tak terlukiskan kebahagiaan Anna Clarissa saat pertama kali ia tahu ada kehidupan di dalam rahimnya. Anna sangat menunggu hari dimana bayi yang ada di rahimnya keluar. Setelah sembilan bulan menunggu, hari yang di nanti pun tiba. Cakrawala hadir sebagai benih kebahagiaan di kehidupan Anna Clarisa dan Yoga Rahardian yang bersatu sejak lima tahun yang lalu. Proses melahirkan yang harus merasakan sakit sangat perih terbayar saat tangis kecilnya memecah keheningan malam. Anna dan Yoga sangat bahagia di malam itu. Bersyukur kepada Tuhan yang telah mempercayai mereka untuk merawat seorang anak. Cakra adalah bayi yang sangat lucu. Tidak pernah rewel bahkan ia seolah mengerti kelelahan Anna dalam mengasuhnya sehingga tangisnya hampir tak pernah terdengar di malam hari.

Anna sedang berada di taman rumahnya bersama Cakra, menunggu kedatangan kepala keluarga mereka yaitu Yoga. “Kita nunggu ayah pulang ya, Sayang.”

Anna mengeluarkan secarik kertas. “Bunda sudah membuat puisi spesial untuk kamu. Bunda bacain ya.”

Hai, Anakku
 
Nak…
Ingatkah sembilan bulan kebersamaan kita?
Saat kita berada dalam satu detak
Berbagi kehidupan dalam secuil ruang
 
Pecahnya ketuban
Mulasnya kontraksi
Sekarang ini lah waktunya
Sekarang ini lah saatnya.
 
Sosok malaikat mungil yang terlahir dari rahimku sendiri
Selamat datang anakku
Bunda selalu ada untukmu

 

“Bunda emang jagonya kalau buat puisi!” Yoga yang baru sampai rumah langsung menghampiri istri dan anaknya yang sedang duduk di taman rumahnya.

“Assalammu’alaikum, Bunda.” Yoga mencium kening istrinya yang sangat ia cintai, dan Anna mencium telapak tangan kanan suaminya. “Assalammu’alaikum, Cakra.” Yoga mencium kening Cakra yang sedang berada dipangkuan istrinya.

“Wa’alaikumsalam, Ayah,” ucap Anna membalas salam suaminya dengan gaya seperti anak kecil, dan tersenyum sangat tulus. Cakra hanya diam tanpa tersenyum.

—-

“Ketika langit menurunkan hujan yang membuat bumi pecah dan membuncah.”

Ketika bulan merambat hingga menjelang satu tahun usianya. Cakra tidak pernah tersenyum jika diajak bermain atau bercanda, dan yang membuat hati Anna bagai direnggut dari tempatnya adalah ketika Cakra membentur-benturkan kepalanya ke dinding hingga memar-memar dibagian keningnya. Dibenak Anna terlintas ketidakyakinan pada sebuah kata “Autisme”. Anna langsung menghubungi Laura, sahabat sekaligus dokter spesialis anak. Laura akhirnya datang ke rumah Anna, dan langsung memeriksa Cakra.

“Anna, dari pemeriksaan yang aku lakukan, memang terdapat gejala Autisme pada Cakra,” ujar Laura yang membuat Anna seolah disambar oleh petir.

“Sejak lahir ia baik-baik saja, tetapi kenapa tiba-tiba harus terkena Autis, Ra?” tanya Anna cemas dengan air mata bersimbah jatuh.

Laura langsung memeluk Anna yang tidak percaya akan hal itu. “Biasanya, orang yang terkena autisme disebabkan keturunan, atau bisa disebabkan karena obat-obatan. Setelah aku periksa tadi, dia bisa terkena autisme, karena obat-obatan yang sudah kamu konsumsi saat Cakra masih di dalam kandungan, Na. Pasti kamu mengonsumsi obat Thalidomide kan? Untuk mengatasi gejala mual, muntah, serta insomnia selama kehamilan?”

Anna mengangguk. “Emang itu salah, Ra?”

“Salah, Na. Bayi yang terkena obat-obat tertentu seperti Thalidomide ketika dalam kandungan memiliki risiko lebih besar mengalami autisme.” Laura mengelus punggung Anna. “Tapi, ini bukan salah kamu kok, Na. Dibalik ini semua mungkin Allah menyiapkan kebahagiaan yang lebih besar.” Selang beberapa menit, Laura pamit pulang.

Yoga yang berada di samping Anna langsung menarik tangan Anna dengan paksa untuk berdiri. “Berdiri, Bun! Ini semua salah, Bunda! Ayah adalah keturunan yang bersih, tanpa cacat! Cakra bisa jadi autis gara-gara, Bunda! Bunda yang sudah mengonsumsi obat-obat itu!”

Anna yang sebelumnya sudah berhenti menangis, menjatuhkan air matanya lagi sebab perlakuan kasar dari Yoga. “Tetapi aku nggak tahu kalau jadinya kayak gini, Yah. Maaf.”

Yoga menghempas tangan Anna yang tadi berada digenggamannya. “Semua salah, Bunda! Ayah nggak mau mempunyai keturunan autis! Ayah mau pergi dari sini. Silahkan, Bunda urus sendiri Cakra.” Yoga pun bergegas ke kamarnya, untuk memasukkan bajunya ke dalam koper, lalu meninggalkan Anna dan Cakra di kehidupannya.

—-

“Dunia yang terkadang aku ciptakan karena aku merasa tidak diterima sebagaimana adanya aku.”

Cakra bertumbuh dewasa sudah sedikit lancar berbicara, berumur sebelas tahun, kelas lima sekolah dasar. Dia bersekolah di sekolah umum. Setiap hari dia selalu jadi bahan ejakan oleh teman-temannya karena kadang perilakunya yang aneh dan membingungkan teman-temannya.

“Cakra, teriak-teriak lagi dong, atau enggak kamu lari-larian nggak jelas aja kayak biasanya,” ucap Brian salah seorang temannya yang sering meledek Cakra. Cakra hanya diam saja, tetap fokus dengan lukisan yang sedang ia buat. Tiba-tiba saja lukisan tersebut ditarik oleh Brian. Cakra tidak terima, langsung teriak, marah, dan memukul-mukul badan Brian. Ketika Brian sudah puas, akhirnya dibalikannya lukisan itu ke tangan Cakra. Cakra menatap sinis Brian. Ketika hendak duduk di kursinya lagi, tiba-tiba kursi tersebut ditarik oleh Leo, temannya Brian. Cakra terjatuh ke lantai, teman-temannya seketika langsung tertawa. Brian dan Leo tertawa sangat kencang, keluar dari kelas. Cakra duduk di kursinya, dan melanjutkan lukisannya tersebut.

Anna sudah tahu jika Cakra dilakukan sepeti itu oleh teman-temannya. Anna hanya bersabar, dan berusaha yang terbaik untuk kebahagiaan Cakra. Anna merawat Cakra sendirian, karena Yoga yang tidak pernah kembali semenjak Cakra divonis gelaja autisme. Anna selalu menenangkan Cakra ketika Cakra sedang membentur-benturkan keningnya di dinding, melompat dan berlari tiba-tiba. Sampai dewasa, Cakra tidak pernah menyebut Anna dengan Bunda, karena jika ingin sesuatu, Cakra lebih suka menunjuk tanpa bicara.

Suatu ketika, Anna mendapat telepon dari nomor yang tidak diketahui oleh dirinya.

“Assalammu’alaikum.” Suara dari seberang telepon.

“Wa’alaikumsalam. Ini siapa ya?”

“Saya Keira Bramasta.”

“Oh, pelukis terkenal itu ya? Saya Anna Clarissa.”

“Iya benar. Niat saya telepon Kak Anna, karena saya ingin izin ke kakak kalau lukisan bergambar malaikat bersayap yang dibuat oleh Cakra, anak kakak, ingin saya publikasikan di pameran lukisan saya. Apakah berkenan?”

“Kok kamu bisa tau anak saya melukiskan gambar tersebut? Dan dapat darimana nomor telepon saya?”

“Saya tadi sempat bertemu dengan Cakra yang membawa lukisan tersebut di sekolah ketika saya ingin menjemput adik saya. Saya tertarik akan lukisannya. Lalu saya bertanya kepada adik saya nama anak tersebut siapa. Setelah saya tahu, saya mendatangi guru yang berada di ruang guru. Akhirnya saya diberi nomor telepon Kak Anna. Gimana kak? Apakah diizinkan?”

“Oh, begitu. Baik, saya izinkan.”

Ketika pameran berlangsung, lukisan bergambar malaikat bersayap seperti sangat menarik perhatian pengunjung. Lukisan tersebut digemari oleh banyak orang. Anna yang berdiri di samping lukisan tersebut, menatap tidak percaya akan orang-orang yang menggemari tulisan anaknya. Cakra hanya diam menatap sekitar.

Tiba-tiba ada wartawan berita mendatangi Anna dan Cakra. Di wawancarailah mereka berdua. Wartawan berita bertanya kepada Cakra, “Kenapa kamu melukis gambar seorang malaikat bersayap?”

Dengan terbata-bata Cakra menjawab, “Sa-sa-yap Bu-bun-da ter-lihat ber-sinar.” Anna langsung menangis, memeluk, dan mencium Cakra. Untuk pertama kalinya, Cakra mengucapkan kata Bunda. “Ma-maka-sih, Bu-bun-da,” ucap Cakra lagi dengan terbata-bata. Anna sangat senang dan menangis bahagia. Lukisan bergambar malaikat bersayap tersebut akhirnya terkenal dipenjuru dunia. Teman-teman Cakra tidak pernah meledek lagi, karena mereka bepikir Hargailah kekurangan yang seseorang itu punya, sebab kita juga sama-sama terlihat manusia di mata Allah, bisa jadi kita lebih tidak normal dibanding seseorang yang terlihat tidak normal sekalipun, karena kita yang selalu merendahkan orang lain.”

[Maka hawa nasfu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi]

Q.S Al-Maidah:30

END

 

Bandung, 22 September 2019.

Dyah Ayu Arimbi (Pendidikan Sosiologi UPI 2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*