Renungan-Renungan Singgih

Cerpen Matahari*

Kalau memang Tuhan ada, Tuhan baru datang kepada Singgih sewaktu pisau hampir menggurat nadinya. Lelaki empat puluh tahun yang malang itu tak tahu jika bunuh diri bisa mengaktifkan inderanya sedemikian rupa. Suara pengajian dari toa rongsokan mushola tiba-tiba terdengar jernih di telinganya. Padahal dia yakin kalau suara adzan saja kadang putus-putus akibat toa tua yang tak pernah diganti meski sumbangan datang ke kotak amal dekat kamar mandi.

“Putus asa adalah bukti bahwa seseorang tidak percaya pada kekuasaan Allah”

Penasaran menghinggapi Singgih. Dia pernah ikut pengajian sewaktu dia kecil. Waktu itu sedang bulan puasa dan ia wajib mencatat seluruh perkataan sang ustad. Enam tahun berturut-turut selama sekolah dasar ia diseret bapaknya untuk shalat tarawih. Singgih telah datang ke tiga puluh pengajian setiap tahun tanpa absen, berturut-turut selama enam tahun. Kalau otak bodoh Singgih tak salah mengira, berarti seumur hidup ia telah mendengar dan menyimak seratus delapan puluh pengajian. Selama itu pula ia tak pernah mendengar ajaran agama tentang putus asa. Singgih pikir, mungkin ia masih bisa menunda bunuh dirinya sebentar.

“Putus asa menggiring umat manusia pada perbuatan paling tercela dan paling besar dosanya, yaitu bunuh diri. Amalan-amalan orang yang bunuh diri tidak akan diterima oleh Allah”

Ah! Bukan masalah besar. Toh Singgih juga tak punya amalan yang bisa dia serahkan nanti pada tuan malaikat.

Sebelum bunuh diri Singgih juga sudah menimbang-nimbang. Dia tak pernah shalat lagi semenjak bapaknya tak mau repot-repot menariknya jumatan dan tarawih tiap Ramadhan. Pun ibunya lebih sibuk dengan arisan dan tak peduli apa pun yang dikerjakan Singgih selama itu tak jadi bahan omongan tetangga. Baru lepas sekolah dasar dia langsung diajari merokok oleh kakak kelasnya. Lalu coba-coba minum dan sesekali menghisap lem.

Pembelaan yang dipersiapkan Singgih nanti pada malaikat, atau mungkin Tuhan kalau dia bisa bertemu langsung, bahwasanya ia tak pernah melakukan kejahatan pada orang lain. Dia tidak pernah berbohong, menipu, mencuri, zina, dan membunuh. Sewaktu lewat masa kawinnya dan masih tiada seorang perempuan pun yang rela ia nikahi, ia menahan-nahan diri supaya tidak pergi ke rumah pelacuran. Bahkan sebenci apa pun dia pada bapaknya sendiri, dia tak pernah berani mengayunkan pisau untuk mengakhiri hidup orang itu.

Singgih sudah siap dihukum. Singgih sudah siap mati. Singgih tahu kalau pasti akan ada azab untuknya. Tapi, ia yakin ia akan dikeluarkan dari neraka saat dosanya sudah terbakar habis.

“Tempat bagi orang yang bunuh diri adalah di neraka, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya”

Pisau di tangan Singgih terlepas. Lantunan ayat suci bergetar pada relung dadanya. Singgih meneteskan air mata meski ia tidak tahu apa arti lantunan itu. Dengan was was ia menunggu penceramah membacakan arti. Rasa takut telah datang pada dirinya meskipun berita buruk belum tersampaikan.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. [QS. An-Nisa’ ayat 29-30]”

Lalu sekali lagi lantunan hadist, Singgih makin takut memungut pisau yang terjatuh dekat kakinya.

“Siapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung hingga mati maka di neraka jahanam dia akan menjatuhkan dirinya, kekal di dalamnya selamanya. Siapa yang menegak racun sampai mati, maka racun itu akan diberikan di tangannya, kemudian dia minum di neraka jahanam, kekal di dalamnya selamanya. Siapa yang membunuh dirinya dengan senjata tajam maka senjata itu akan diberikan di tangannya kemudian dia tusuk perutnya di neraka jahanam, kekal selamanya.” [HR. Bukhari 5778 dan Muslim 109]

Singgih merasa dibohongi. Seratus delapan puluh pengajian yang dia ikuti, tak pernah ada yang bilang kalau bunuh diri bakal membuat dia divonis neraka selama-lamanya. Lelaki itu mau marah, dia mau melempar siapa pun yang sedang ceramah di musholla itu dengan taiknya. Baru saja Singgih mengambil sandal, tiba-tiba suara toa kembali gaduh layaknya kaset rusak dan tiba-tiba pengajian telah lompat ke pembahasan lain.

Singgih terduduk. Barusan hanya rekaman pengajian. Dia bisa saja marah-marah pada garin yang memutar pengajian sialan itu. Tapi sewaktu ia hendak jalan, pisau yang tadi hendak mengambil nyawa dari nadinya justru membuatnya tersungkur ke atas sajadah yang ia tak tahu kenapa bisa terkembang di kamarnya.

Tuhan telah mendatangi Singgih di hari bunuh dirinya. Singgih yakin benar kalau ini pertanda dari Tuhan kalau dia harus kembali ke jalan yang benar. Singgih mengingat-ingat lagi pelajaran TK nya. Dengan terbata-bata, namun penuh keyakinan, Singgih ucapkan dengan helaan nafas paling syahdu sepanjang hidupnya: Asyhadualla ilaha illallah wa asyhaduanna Muhammad rasullullah.

“Kekuatan umat muslim yang paling besar adalah doa. Tidak ada doa yang tidak dikabulkan Allah …..” rekaman pengajian masih terus berputar meski Singgih tak lagi menyimak.

Hari pertama pertaubatannya, Singgih belajar lagi cara wudhu dan shalat. Garin musholla berbaik hati mendampingi lelaki tua itu. Hari ketiga dan seterusnya, Singgih terus hadir sebagai jamaah shaf terdepan. Di minggu kedua dia diajari cara adzan dan dengan kaki gemetaran serta nafas putus-putus pertama kalinya ia mengumandangkan panggilan shalat bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk orang-orang.

Panggilan adzan dari Singgih secara ajaib memanggil hati-hati yang selama ini tak menerima adzan sebagai sebuah panggilan. Segala urusan ditinggal pergi pemilik dan surau berdesak-desakan akibat jamaah yang mau shalat. Meski agak terlambat, saat rukuk rakaat pertama, preman yang sering nongkrong dekat jembatan ikut datang ke surau dengan alasan ingin pipis. Diam-diam mereka menanggalkan tindikan dan membasuh badan mereka sampai seluruh baju mereka basah kuyup. Lalu dengan diam-diam pula mereka menyelinap pada shaf paling belakang yang juga sesak-sesakan. Air dari tubuh mereka mengalir layaknya sungai, membasahi sajadah, sampai ke shaf terdepan, dan rupanya begitu pula dengan semua orang. Namun meski begitu, Shalat mereka, empat rakaat sempurna hingga salam.

Membludaknya jamaah musholla membuat Pak Haji terheran-heran. Seumur hidup ia tidak pernah mendengar suara adzan sejelek itu. Bukankah sudah ada garin yang dibayar untuk megurusi musholla? Kenapa bisa orang yang sepertinya bahkan tidak bisa baca iqra’ malah jadi muadzin di musholla mereka?

Saat Pak Haji bertanya perihal seluruh jamaah yang keluar dengan baju basah kuyup, mereka hanya menjawab bahwa sesuatu mendorong mereka untuk membersihkan diri ujung kaki hingga ujung kepala. Tak pernah dalam sejarah kompleks musholla reot yang hampir ditinggalkan ini ramai pengunjung. Apalagi dengan suara adzan sejelek itu.

“Ya itu yang bakal bapak sulit mengerti. Justru karena suara adzannya sejelek itu, segugup itu, kami jadi merasa tidak hanya orang suci macam Bapak yang dipanggil untuk sholat” jawab pentolan preman jembatan menjawab pertanyaan Pak Haji.

Pak Haji yang masih belum terima menerobos masuk ke musholla. Hampir saja pria tua itu tersungkur akibat lantai yang basah. Untungnya tangan tua itu sempat berpegangan pada sosok yang baru saja mau ia hujat. Singgih tersenyum ramah saat Pak Haji mengucapkan terimakasih.

Minggu-minggu dan bulan berikutnya, musholla berlantai basah jadi terkenal ke penjuru negri. Banyak preman sengaja datang ke kompleks hanya untuk membuktikan kebenaran rumor itu. Pak Haji telah melaporkan keresahannya berkali-kali ke Pak RT akan banyaknya preman yang datang ke kompleks mereka. Namun tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali memperbesar musholla dan mendirikan warung-warung jajan bagi wisatawan yang berkunjung dan rela menunggu demi mendengar adzannya Singgih.

Pesona adzan Singgih memancing jamaah membuat kompleks ikut kebagian berkah. Warung, rumah makan, dan penginapan, jadi ramai pelancong. Sayangnya, kedekatan Singgih pada Tuhan justru membawa berkah kepada semua orang kecuali dirinya.

Ditengah pergulatan batin, Singgih mogok adzan, semua warga kompleks silih berganti datang kepada lelaki empat puluh tahun itu. Ada yang memang tulus menanyakan kapan ia bisa mendengar adzan yang memanggil dirinya untuk datang menyucikan diri. Ada yang sekedar datang menanyakan apakah Singgih sakit dan menawarkan makanan. Dan ada pula yang datang karena protes dagangannya sepi karena pelancong semakin hari semakin sedikit.

Singgih tak ambil pusing. Memang sejak awal ia tak punya niatan menjadi magnet bagi para pendosa di musholla itu. Ia hanya ingin kembali menjadi orang taat yang doanya bisa cepat dikabulkan.

Jadi, meskipun kini orang-orang balas menghakim sebab ia berhenti adzan, ia sama sekali tak peduli. Hal yang kini memenuhi kepala Singgih justru adalah perdebatan paling awal yang menghantarkannya sampai pada keajaiban-keajaiban aneh ini.

Shalat dan doa yang ia kerjakan jauh membuat hatinya lebih tenang dan merasa aman. Tapi ia masih saja miskin, kesepian, dan tak memiliki cinta. Orang-orang menganggapnya mendapat barokat dan berebutan salam. Ini malah membuat kehidupannya jauh lebih sulit dibanding kehidupan sebelum pertaubatannya.

Dulu saat ia sakit hati, ia bisa nge-fly dengan sepersekian tube lem. Kini saat ia sakit hati dan hendak mengadu pada Sang Pencipta, ada yang tiba-tiba merobek sarungnya, ada yang mencuri pecinya, menarik sehelai rambut, bahkan mencium kakinya. Ia tak kuat jadi orang saleh. Singgih berharap doanya bisa cepat dikabulkan.

Tangan keriput Singgih mantap menggenggam pisau tepat menghadap urat nadinya. Dalam hati dia terus meyakinkan diri kalau ia tidak sedang akan bunuh diri. Dia hanya ingin membuktikan apakah doanya telah dikabulkan Tuhan. Dengan begitu dia tidak perlu khawatir akan vonis neraka selama-lamanya. Dia sudah punya pembelaan. Kan Tuhan sendiri yang bilang kalau tidak ada doa yang tidak dikabulkan. Tentu saja doanya meminta mati juga termasuk.

END

*Satu kata, nama yang sudah cukup mewakili doa-doa khusus dan harapan: Matahari. Penikmat kisah-kisah dan mimpi. Alumni Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Anggota CSSMoRA UPI jurusan Teknologi Pendidikan. Email matahari@student.upi.edu Instagram @riri_matahari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*