Tiga Puisi Hanifah

Oleh: Amalia Hanifah

HARAP SIRNA

Dalam hingar bingar kota,
Berbalut tudung sinar mesra
Meratap sendu, beratap himpit Mega..
Berliuk, menggulat sepi
Mengkhayat tatkala seorang diri
Berlalu lalang, saling berebut pada kosa kata..
Tertunduk mengkaji Ilham
Tampak berderet insan tegap
Terduduk tepat di garis trotoar,
Menjadi pengamat dalam sikon.
 
Pedangang kalang kabut akan pengusir olehnya..
Petuah tersampaikan oleh gema riuh
Menjulang tinggi, tertindah, lalu menghilangkan.
 
Bergelut pada teriknya Surya
Membakar, mengutuk pori-pori
Keringat bercucur seakan membanjiri
Pusat kota nan indah..
Pantang berbelok mundur
 
Dengan segenggam harapnya lalu berjuanglah dia..
Berhujankan debu,
Tak bersudut pada layu
Pastikan terbata bukan sekedar semu..
 
Bertumpu pada doa,
Berangkat bersaku harap
Senyum merekah, terlihatnya..
Kala keluar dari singgasana.
Terngiang teriak lembut..
“Hati-hati dijalan, nanti kita jalan-jalan.. Pak!” Menyayat luka basah,
Layaknya berbekal janji,
Pulang tertusuk belati..
Terbawalah mereka, duduk berjejer diatas besi kota berjalan.
 
Kemudian…
Hancur berkeping senyum pada ujung bibir kelunya.
 

Bdg, 05 Mei ’19

 

SANG ASING

Kau asing melanda,
Asing, pada tengah simpangan
yang lengah kau sadari.
 
Kau, sejauh selangkah melangkah
Persendianmu terselok lemah,
Baja beban terpanggul oleh mu
Bukan, sekedar baja rongsok
Tergeletak, bersandar damai pada tembok peot itu.
 
Bukankah kau asing?
Kau asing, yang tepat diranah peraduanmu,
Ranah yang terpijak,
yang kau asing damba, lalu entah berujung.
Berujung asing yang manis atau asing tragis.
Sengsara, kau asing..
Tentu, telah mendarah daging.
 
Bermula, merasa jinak berpijak
Berdiri atas kaki yang kau yakini,
Berpondasi bagai tumpu hidupmu.
Namun keras, jelas keras.
Kepala batumu tak mampu tergepok oleh setonggak besi berkarat,
berselimut lumut..
 
Bermodal tekat membakar,
Terlambung jauh ke angan bebas.
Tekat kuat kau wahai sang asing,
Terbawa bersakukan dari jejak tanah pertama,
Kau tergolek berlumurkan darah.

Bdg, 13 Januari ’19

 

DERETAN RINDUKU

Siang itu tampak kelabu
Menggrombol embun memanas,
Lalu menghitam.
Terduduk ku pada bukit, bertembok kokoh mahsul dari pabrik termuka tanah air.
Tercipta deret seret, ku ciptakan dari gesekkan dua logam tergenggam.
 
Meratapi kepergian sang Surya yang terenggut oleh penghitaman uap air.
 
Sunyi mengusik diri,
Berontak tak berujung
Jubah kusut tersampir, bergelantungan berlambaian,
Akan mengerti rinduan mendera..
 
Rindu dekap peluk hangat tubuhnya
Penuh haru dalam pangkunya,
Bertolak pada jati diri yang kokoh
Namun hancur tak berwujud dalam peluknya.
 
Rindu,
Mudah terbesit susah terurai, berkecamuk menguras pikir..
Berderai menyangkal turun air pada ujung mata.
 
Rindu,
Pada sepasang tangan yang mulai keriput, tapi kuat dalam menggenggam.
Bisik lembut membuat baterai kembali terisi penuh,
Senyum murni takkan semu,
Menderita tatapi tak menampak.
 
Meratap nasib mereka sang rantau
Berkurung pada ujung bambu runcing,
Goresan yang bisa mengulitinya
Berjuang, berbekal keyakinan.
 
Berharap berbuah hasil setimpal
Rasa perih seperti sohib baginya
Seakan hal besar menunggu pada ujung,
Terus mengejar pada ujung, semakin buram tak tampak.
 
Gigih berdiri lalu berlari lagi
Bila terhenti, terseret bayang harap
Lari lagi menuju lari pada ujung
Lalu,
Terjatuh bersimpah darah
Kegagalan menerjangnya.
 
Bagai gempur konvoi siang ini
Merindu menjalar tak beralaskan
Lalu berteriak “ibu, aku rindu!”
Menumpahkan seluruh air pelupuk mata.
 
Menjerit lagi “aku merana, ingin pulang..”
Pulang pada pangkumu..

Bdg, 06 Juli ’19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*