Puisi Vita Zadin

Oleh: Vita Zadin [Septiana Puspita]

SERIBU HARI DI JURANG KERINDUAN

Berlari aku terkatung-katung
Meremas mata yang tak kunjung meneteskan tirta
Padahal luka telah berjejal hingga panas
Di sela-sela tulang hitamku yang mengeras.
 
Tempurungku bagai awan
Mudah terhempas oleh angin malam
Melemas lunglai bak daging yang mau dipanggang
Karena telah seribu hari menanti di jurang kerinduan.

 

PUISI MALAS

Aku malas, memandang mata yang tak mau ku pandang
Mendengar rintik yang tak bisa ku tadah
Meraba hawa yang tak bisa ku hirup
Mencium aroma lezat yang tak bisa ku lahap
Merindu fajar yang enggan bersinar
Aku malas memuisikanmu yang menjagalku

 

DERAIAN DARAH KEHAMPAAN

Panas dingin menyetrum tubuh di kala gulita
Menerobos aliran darah yang tersumbat
Menggetarkan sendi-sendi cinta yang rapuh
Lantas menabrak pori-pori yang berpeluh
 
Aku mengadu pada hujan yang deras
Pada angin yang membadai
Pada atap yang berlubang
 
Mengapa tega mengusikku dalam kehampaan?
 
Jauh sebelum anak-anak meninggal dalam dekapan
Kalian selalu memihak pada runtuyan kesedihan dan kesenangan
 
Tapi mengapa setelah deraian darah datang
Di tembok toko yang ku jadikan sandaran
Yang perlahan hancur oleh ganasnya kerinduan
Kalian tetap menyerangku dengan butir-butir kata yang menancap palung hatiku
 “Dasar pemakan anak-anak tak berdosa !”
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*