Dunia Marta dan Kura-Kura Kota

By Omiya

Pintu berbunyi, dua anak gadis berbaju biru langit sedang membawa lumba-lumba mainan. Mengeluarkan suara aneh, dan buih-buih sabun menembus lubang atap yang terlihat sudah lama menganga. Si gadis yang lebih kecil hendak berlari namun terjatuh didepan tungku, beruntung tidak ada api didalamnya hanya ada ikan pepes yang terbengkalai 4 hari. Beberapa jam lalu suasana disini menjadi sangat ramai dan bising, sepertinya berkat kehadiran dua gadis itu. Anehnya aku tidak mendengar suara Boy akhir-akhir ini, kemanakah dia? Menelantarkan orang tua sepertiku tanpa sesuap makanan sedikitpun. Tubuhku sangat lemas, kakiku tak mampu berjalan. Jangankan itu, sekedar menggerakkannya saja aku tak mampu. Andai aku tidak terkurung disini, ditempat bulat aneh. Apakah kehidupan memang seperti ini, gelap, sunyi, berdebu dan sempit.

“Hei berhentilah mengeluh! Dunia ini tidak sempit seperti yang kau kira, ia luas tak terhingga. Sebelumnya perkenalkan namaku Grace , aku berasal dari negeri merah muda. Kalau boleh tau siapa namamu? Sejak kapan berada disitu?“.

Nama???

“Apa itu nama , sungguh aku tidak tahu dan apa kau bilang berasal dari negeri merah muda ? Memangnya ada tempat seperti itu?”

“Kau sungguh tidak tahu, di tempat tinggalku yaitu negeri merah muda, kau akan menikmati kecerahan layaknya negeri dongeng. Aku tinggal dengan beberapa kawan. Ada Moly, Dave, Jhon dan masih banyak yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu. Namun, kawan baikku tetaplah Marta yang selalu menemaniku setiap malam, mendengarnya mendongeng ataupun meracau tidak jelas. Seperti sekarang aku ikut pergi berpetualang bersama dengannya dan bertemu denganmu. Hei kau belum menjawab pertanyaanku, sejak kapan kau disitu?”

“Aku tidak tahu sejak kapan aku disini. Saat pertama kali ku membuka mata, hanya ada anak berseragam SMA yang rutin menghampiriku untuk memberikan sebuah tomat kecil sekaligus busuk sebagai santapan makan siang dan malam. Kau bilang tempat mu secerah negeri dongeng. Apa itu dongeng?“

“Kau ini bagaimana? Ini tidak tahu! Itu tidak tahu! Apa yang kau tahu sebenarnya? Jangan-jangan kau sudah sangat lama disini, tanpa kawan yang menemani. Kau terjebak di tempat sempit dan sunyi”.

Pintu kedua kalinya berbunyi setengah di dobrak, kali ini si gadis yang lebih besar datang. Rambut pirang dan panjangnya bergerak-gerak kesana kemari, sambil berteriak-teriak.

“Grace dimana kamu? Grace ayo kita akan pergi berjalan-jalan lagi, kamu dimana aku punya kawan baru untukmu. Dia lucu dan menggemaskan, pipinya menggelembung seperti balon. Ditempat gelap dia bisa menyala terang berkedip-kedip”.

“Bundaaa, Grace ku hilang dimana dia yah, bundaaa”. Teriak Marta sambil mondar-mandir. Setelah sekian lama, Marta mendengar cipratan air tidak jauh dari tempatnya berdiri. Saat mendekat, betapa antuasias dan senang Marta melihat seekor kura-kura sedang mengambang didalam bak yang penuh dengan lumut. Di samping terdapat Grace yang sedari tadi dicari. Namun perhatian Marta teralih, seketika ia langsung mendekat dan memegang kura-kura yang sangat lemas itu”.

“Hei namaku Marta, kamu pasti lapar. Tubuhmu terlihat begitu lemas, kau suka roti, keju atau susu aku punya banyak jika kau mau. K au akan tumbuh besar dan kuat”. Marta membawa kura-kura itu keluar dan mengajaknya bermain, seperti biasanya Marta akan meracau tak karuan, apapun akan keluar dari mulut mungilnya itu. Hingga akhirnya Boy datang dengan sepeda besarnya sambil membawa sebuah kail, dan seketika merah padam ketika melihat kura-kura miliknya sedang diberi makan keju dengan paksa. Namun sekali lagi dia meredam amarahnya karena terlihat Marta pelakunya.

“Marta jangan diberi keju, dia tidak makan itu. Kasih tomat ini“. Ucap Boy dengan mimik penuh kesabaran karena tahu Marta adalah sepupunya yang baru saja tiba dari kota. “Mas itukan tomat busuk pasti rasanya tidak enak, kasihan dia harus menelan makanan tidak sehat. Lihat ini, dia terlihat lemas tak berdaya, pasti ini karena mas memberinya tomat itu”. Jawab Marta dengan ucapan penuh retorika. “ hmmm .. iya deh terserah Marta aja”. Ucap Boy.

***

Ternyata macet tidak hanya terjadi di ibukota, di ujung pulau seperti ini tetaplah terjadi. Sudah 2 jam lamanya Marta dan keluarga harus terjebak kemacetan. Si gadis kecil sudah menangis tidak henti karena panas menggila, ditambah persediaan air minum sudah habis sedangkan warung atau minimarket masih jauh didepan. Saat semua orang didalam ingin berteriak namun hanya bisa diam, disanalah Marta tetap ceria dalam dunianya, menciptakan imajinasi untuk meredakan kekalutan. Dengan suara setengah berbisik ia berbicara dengan kura-kura dalam kotak bening bertutup merah muda.

“Hei kura-kura, hari ini kita akan ke pantai. Kau tau, aku akan membawamu ke tempat dimana dirimu berasal, tapi kau harus sabar karena sepertinya kita akan sampai lebih lama dari seharusnya”. Bisik Marta

“Haloo Marta, tempat ini sangat menyenangkan. Aku berfikir tidak akan pernah keluar dari tempat bulat gelap itu. Apa ini tempat yang diceritakan Grace? Negeri merah muda itu?” Jawab kura-kura.

“Maafkan Mas Boy yah, karena menempatkanmu ditempat tidak layak seperti itu, harusnya sudah kuberi pelajaran dia sedari dulu. Negeri merah muda? Kau sudah bertemu Grace. Aku mencarinya sedari tadi, dimana dia sekarang kasihan aku tinggalkan sendiri”. Ucap Marta dengan wajah lesu.

“Dia berdekatan denganku saat kau datang. Sepertinya kau terlalu fokus padaku hingga melupakan kehadiran Grace, dia bercerita tentangmu, negeri merah muda, dan kawan-kawannya. Aku menjadi penasaran bagaimana rupa tempat yang diceritakan”.

“Kau ingin tahu? kita bisa pergi kesana saat perjalanan kembali pulang 2 hari kedepan. Aku akan membujuk Mas Boy untuk mengizinkan membawa kamu kesana”.

“Benarkah?? Asyiiik aku akan pergi ikut berpetualang seperti Grace. Tapi apakah Grace tidak masalah jika aku ikut?”

“Dia teman baikku kau tidak usah khawatir, dia akan baik-baik saja”.

Peluh keringat terbayarkan seketika semilir angin pantai menghempas tubuh. Hamparan laut biru tak berbatas itu membuat semua orang akan takjub melihatnya. Tak lupa ada beberapa kuda yang sedang ditumpangi anak kecil dan bapaknya berjalan santai ditepian pantai. Menara pabrik yang berada jauh dari pantai terlihat mengeluarkan asap-asap tebal ke langit lepas, namun sekilas terlihat seperti mercusuar yang sedang berjaga. Bunda turun dengan gadis kecil dan Marta dibantu ayah untuk turun. Tidak lupa membawa semua barang-barang yang dibawa Marta, papan tulis kecil, spidol, kura-kura, topi, semua kecuali Grace yang tertinggal didapur pagi tadi. Mereka berkumpul dipinggir pantai sembari memesan es kelapa yang konon katanya terenak di seluruh penjuru pantai. Marta menghadap kepada ayah untuk meminta izin bermain dan berenang di pantai. Tapi diluar dugaannya, ayah justru melarang karena angin yang sedang berhembus tidak baik untuk tubuh. Marta marah dan melempar papan tulis dan spidol kemudian berlari membawa kura-kura jauh dari jangkauan ayah. Dibalik batu karang Marta duduk sambil melihat deburan ombak dengan senyap.

“Aku benci ayah, ini waktu yang sudah lama aku tunggu. Berenang di pantai dan membawamu merasakan indahnya kembali ketempat dimana kamu dilahirkan”. Ucap Marta kepada kura-kura.

“Hahahahaaha, tempat dimana aku dilahirkan? Ada-ada saja kau Marta, aku tidak mengenal tempat ini. Saat pertama kali tiba aku tetap merasa asing berada disini, aku tidak tahu seperti apa aroma yang disebut tempat kelahiran, yang kutahu hanya sebuah tempat bulat berwarna gelap, sempit dan sunyi. Aku hanya terbiasa melihat kendi, aroma asap yang keluar dari tungku, dan aroma tomat busuk dari Boy. Sesekali cahaya masuk dari balik bilik atau dari atap yang sudah menganga, mungkin itu yang disebut tempat kelahiranku Marta”.

“Tidak! Yang kutahu seekor kura-kura berasal dari pantai. Mungkin saja kau berasal dari pink sands beach harbour island, pantai dengan pasir pink seperti mawar atau jangan-jangan kau berasal dari pantai laskar pelangi Bangka atau kau berasal dari pantai di Papua sana”. Ucap Marta dengan mata berbinar-binar

“Tidak penting aku dari pantai sebelah mana Marta. Aku tidak peduli aku berasal dari mana, satu hal yang kuinginkan adalah kebebasan. Aku bosan tinggal disana bersama Boy. Hei lihat matahari akan tenggelam, ayah dan bunda pasti sedang khawatir mencarimu. Ayo kita kesana sebelum semuanya menjadi gaduh”. Marta berjalan menuju tempat tadi dan seketika terlihat bunda sudah kalang kabut khawatir karena tak kunjung menemukan dia. Dipeluk dan dicium pipinya kemudian digendong dirinya menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari sana. “Marta jangan pergi seperti itu lagi yah, bunda takut jangan ulangi lagi yah”. Kemudian Marta hanya mengangguk.

***

Hari ini bunda sibuk membereskan barang-barang dan mengemasnya, juga Marta jangan sampai ada yang ketinggalan. Saat itulah ia menemukan Grace tergelatak di samping tungku.

“Hai Grace, aku mencarimu kemana-mana tapi tidak ketemu. Akhirnya, kemarin aku tidak mengajakmu ke pantai bersama kura-kura, ooh yaah kalau aku bawa kura-kura ke negeri merah muda, apa kau tidak keberatan?”

“Benarkah?? aku bahagia karena mempunyai teman baru, tapi aku sedih karena dirimu terlalu fokus dengan dirinya. Kau seolah-olah melupakan aku”.

“Maaf Grace , aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu”. Ucap Marta dengan raut menyesal.

“Sudah semuanya dikemas Marta, sebentar lagi kita akan berangkat”. Tanya Bunda tiba-tiba.

“Iyah sudah Bun, tapi aku ingin membawa kura-kura pulang ke negeri merah muda bun, boleh tidak?”

“Itukan punya Mas Boy, coba Marta minta izin untuk membawa kura-kuranya ”

“Hmmm baiklah”.

Marta menghampiri Boy untuk meminta izin membawa kura-kura ke negeri merah muda. Awalnya Boy tidak mengizinkannya namun melihat kesungguhan dan kecintaannya terhadap kura-kura tua itu, akhirnya ia menyetujui. Marta senang bukan kepalang, segera ia berlari ke tempat kura-kura untuk menyampaikan kabar gembira ini.

“Kura-kura kau mau tahu apa yang akan aku katakan?” . Tanya Marta sumringah.

“Kau terlihat sangat bahagia sekali. Apa yang terjadi?”

“Mas Boy mengizinkanku untuk membawamu pulang. Kau akan pergi ke negeri merah muda bersamaku dan Grace. Kau mau kan ikut kita?”

“Waah tentu saja aku mau, siapa yang tidak ingin keluar dari tempat ini.”

Pukul 13.00 semua sudah selesai dimasukkan kedalam mobil, semua sudah siap berangkat untuk perjalanan. Butuh persiapan yang matang agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Ayah memanaskan mobil, Bunda mendandani si Gadis kecil dan Marta bersamaan. Grace pun ikut menjadi bagian yang didandani. Dengan telaten Marta menyisir rambut Grace yang sebenarnya tidak bisa disisir itu. Mengganti baju yang dikenakan Grace dengan baju milik si Gadis kecil. Saat waktunya sudah tiba, mereka berpisah dan Marta membuka jendela mobil melambaikan tangannya pada Mas Boy karena mungkin bisa bertemu kembali di tahun yang akan datang. Mobil melaju perlahan-lahan menjauhi tempat yang akan dikunjungi kembali setiap tahunnya. Selalu ada hal baru di tempat ini, dan keinginan untuk kembali selalu hadir walaupun melelahkan.

“Bunda sayang sekali pada Marta, sehat selalu nak dan bunda yakin kamu sosok luar biasa. Sebuah hadiah yang dikirim Tuhan untuk hidup bunda”. Ucap bunda sambil membelai rambut Marta yang tertidur sejak tadi.

Macet memang momok paling menyebalkan dalam perjalanan, dikabarkan terjadi kecelakaan beruntun yang mengakibatkan macet panjang mengular ini. Tapi untungnya sudah dekat dengan rumah.

“Hai kura-kura, sebentar lagi kita sampai di negeri merah muda. Kau pasti sudah tidak sabar bukan melihatnya. Akan ku perkenalkan dengan Moly, Dave dan yang lainnya. Mereka semua adalah kawan-kawan yang setia mendengarkan aku mendongeng. Kau pun ingin mendengarkan aku berdongeng bukan? Aku punya banyak cerita menarik yang belum sempat aku ceritakan. Tentang pangeran menyebalkan yang sok bijak, pangeran pemalu atau putri yang bodoh. Namun yang menarik sekarang adalah aku ingin menceritakan tentang dirimu, kura-kura yang tidak punya tempat kelahiran”. Marta meracau.

“Sudah kubilang tempat kelahiran ku adalah rumah kemarin yang kau singgahi, mungkin aku lahir disana, tapi kita sedang dimana Marta? Mengapa gedung-gedung ini begitu tinggi? Mengapa semua terlihat padat dan runyam? aku pusing melihatnya. Tapi aku suka melihatnya, kotak kubus simetris berdiri tidak beraturan namun kokoh. Matahari terlihat diantara dua gedung dengan simetris yang keren berbentuk segitiga kerucut, dan itu gedung apa? Terlihat seperti lilin yang ditempatkan diatas mangkok hahaha lucu sekali”.

“Apakah kau suka dengan pemandangan di sini, aku bisa mengajakmu berkeliling sesuka hatimu. Kita bisa membeli rambut nenek dan lollypop di perempatan dekat rumah, dan kau juga bisa melihat gereja tua yang sering disinggahi burung-burung dengan suara yang menawan. Kau bisa melihatnya dari negeri merah muda, akan terlihat jelas menggunakan teropong “.

***

Matahari bersinar terang menembus jendela kamar yang terbuka sebagian. Bunda bergegas membangunkan Marta untuk pergi ke sekolah, sebab liburan panjang telah usai dan saatnya beraktivitas seperti biasanya.

]“Sayang bangun sudah siang, sekarang hari pertama sekolah bukan? Ada tas baru untuk anak bunda yang pintar “.

“Serius Bun…”

“Iyaah dong, lihat disana tasnya sudah tidak sabar dipakai oleh anak cantik dan pintar”

Marta senang dan bergegas ke kamar mandi lalu pergi sekolah dengan semangat. Marta sudah terbiasa mengurus dirinya sendiri, memakai baju, merapikan tempat tidur serta menyiapkan mata pelajaran yang dipelajari hari ini. Dengan tas baru pemberian bunda, ia bergegas keluar. Sebelumnya seperti biasanya dia akan berdiri diambang pintu dan meracau kepada kawan-kawannya.

“Hai semua.. Selamat pagi penghuni negeri merah muda, aku berangkat sekolah dulu yah, setelah pulang dari sekolah ayo kita berpetualang lagi. Aku sayang kalian”

“Pagi juga Marta, semoga pagi mu indah”. Ucap Moly

“Selamat bersekolah kembali Marta, kau cantik sekali hari ini”. Ucap Jhon

“Aku mencintaimu Marta, terimakasih untuk mengajakku berpetualang dan melihat negeri merah muda” . Ucap kura-kura.

Kemudian dia menutup pintu dan turun kebawah. Sudah ada ayah, bunda dan si gadis kecil menunggunya untuk bergabung. Sebelum berangkat, Marta sarapan nasi goreng Padang kesukaannya. Tak lupa segelas susu buatan bunda di minum habis. Marta diantar ayah ke sekolah karena hari ini pertama masuk sekolah, bunda akhirnya ikut mengantar. Selama perjalanan Marta tidak lupa menceritakan petualangannya bersama Moly, Dave, Grace, Jhon dan sekarang ditambah kura-kura tadi malam. Ia bercerita kita berlari menghindari monster berbentuk bintang berwarna kelabu, Jhon hampir saja menjadi korban santapan monster tersebut. Namun digagalkan oleh Marta menggunakan pedang ajaib pemberian peri baik hati. Akhirnya monster tersebut mati dan kedamaian di negeri merah muda masih terjaga. Tidak terasa sudah sampai di gerbang sekolah, Marta bersalaman kepada bunda dan ayah. Kemudian turun dan melambaikan tangan di balik kaca mobil yang buram. Dibawah plang bertuliskan “ Selamat Datang di Sekolah Luar Biasa Harapan Bangsa“ Marta mengeluarkan papan tulis kecilnya juga spidol dan menulis “Aku sayang ayah dan bunda selamanya”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*