Kau, Yang Tidak Pernah Datang

Oleh : Frita Aprillia Niswanti

Bercak tetesan darah dari seorang aktris cantik yang dibopong dengan tandu, menjejaki lantai gedung teater Sydney, wajah cantik sang aktris telah ditutup dengan kain putih yang terbentang dari ujung jari kaki sampai kepala. Hujan di luar melunturkan merah berani darah yang mengotori lantai gedung. Terlihat fenomenal bagi Pascal, tetesan darah berati ada berita untuk diburu. Dia menerobos masuk hingga bagian paling privasi sebuah gedung teater karena menyembunyikan banyak rahasia pertunjukan di sana, yaitu belakang panggung. Ketika matanya menangkap ke arah simbahan darah yang belum dibersihkan, kamera kecilnya dikeluarkan untuk memotret pemandangan cairan horor berbau amis itu.

Gusti Nu Agung!” Pascal terbanting mulus akibat menginjak licinnya simbahan darah tadi, seperti saus tomat yang tumpah padahal tepatnya kubangan darah.

“Auu! Sial!” Bibirnya mengucap lagi karena tulang ekornya sakit, diliriknya pakaiannya dari atas ke bawah sebagian memerah!

“Sial!.” Pascal menyebut lagi kalimat Sebelum melanjutkan umpatannya, dikeluarkan pensil untuk mencatat kasus kali ini.

Aneh, menurut berita angin di luar gedung yang tidak sengaja tertangkap telinga, Rebbeca alias Rena Bella Countess meninggal setelah dia tiba-tiba batuk berdarah sampai muntah! Sepertinya ini ular sihir atau guna-guna, karena alasan kematian Rebbeca di atas panggung tidak masuk akal sama sekali.

“Fantastik, aku harus mengupas berita ini.” Pascal lalu berbalik dan berhadapan langsung dengan wanita bermata panda..

“Kamu siapa? Jurnalis?” Wanita tadi bertanya sambil menatap intest, Pascal menelan ludah.

“Hati-hati.” Setelah itu dia pergi. Pascal melihat wanita tadi penuh tanya selain mata pandanya yang membuat Pascal tertarik, gaun putihnya terlihat banyak tetesan lilin menempel. Rambut panjangnya terjuntai halus lalu melengkung-lengkung seperti mie kocok yang Pascal biasa beli di Bandung dulu. Ya, Pascal bukan orang asli Australia. Pascal adalah mahasiswa Bandung yang setelah mendapat beasiswa di Universitas Sydney dan lulus, dia langsung mendapat pekerjaan sebagai jurnalis.

Wanita ini siapa? Begitulah benak Pascal bergumam, lirikannya masih menelusuri punggung wanita cantik itu yang semakin menjauh . Tiba-tiba dia teringat pada pakaiannya yang kotor, Pascal segera berbalik pergi keluar gedung teater seperti pembunuh yang telah membunuh korbannya hingga belumuran darah. Orang-orang di luar menatapnya jijik karena darah di kemeja putihnya, seorang polisi menghampiri Pascal dengan tatapan marah seperti hendak menuduhnya sebagai dalang sebuah pembunuhan. Namun, ternyata kesimpulan itu salah. Tangisan langit yang tadi menyirami TKP telah berubah menjadi rintikan sepi.

“Apa yang terjadi? Kenapa bajumu berlumuran darah seperti ini, Pascal?” Rupanya polisi berkumis tebal dan bertubuh gempal itu mengenal Fascal Izerbeth alias Pascal alias Faiz, yang ditanya kembali menelan ludah.

“Saya terpeleset darah korban saat di TKP, Pak Abu. Tapi saya tidak sengaja, Pak,” tutur Pascal memasang wajah seperti anak kecil yang dimarahi ayahnya yang galak.

“Terpeleset tidak ada yang disengaja, Nak. Buat apa menjatuhkan diri secara sengaja? Ke atas darah pula.” Pak Abu masih memandang marah pada Pascal sambil mengomel dengan logat mendoknya. Pak Abu juga orang Indonesia yang pindah ke Sydney setelah menikah dengan istri keduanya. Untuk mencari nafkah dia bekerja sebagai polisi, sama seperti saat di Indonesia.

“Baiklah, baiklah, sekarang kami memeriksa sampel muntahan darah korban dan melakukan otopsi,” lanjut polisi gempal itu.

“Saya juga sudah mendapat foto bukti muntahan darahnya di TKP, tapi apa boleh saya melihat hasil otopsi nanti untuk liputan lebih lanjut?.”

“Hhm, iya benar juga, kamu masih butuh foto dan cacatan hasil otopsi ya?. Kalau begitu kita bertukar informasi saja, jadi tolong kirimkan semua foto yang kamu ambil tadi di TKP, siapa tahu ada yang terlewat dari pandangan kami.”

“Siap Pak, siap. Saya balik dulu.”

“Hati-hati terpeleset lagi!.” Setelah mendengar ucapan dari Pak Abu, Pascal pergi terburu-buru menuju apartemennya untuk membersihkan diri dari darah yang mengotori seluruh pakaiannya. Belum sempat dia masuk ke pintu apartemen, mata Pascal menangkap sesuatu.

Seorang wanita yang tidak asing dari rambutnya yang seperti mie kocok bandung itu, tidak salah lagi itu wanita tadi di gedung teater. Dia sedang berdiri menatap jendela ruang tamu Pascal.

“Hallo? Kita bertemu di gedung teater tadi, Masih ingat saya?” Tanya Pascal berbahasa Inggris dengan sopan. Wanita itu tersenyum kecil sambil mengganguk.

“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” Wanita yang ditanya tidak menjawab, dia hanya menyodorkan sebuah kartu identitas bergambar foto Pascal di tangannya.

“Itu milikku!” Pascal tersontak, ketika itu juga petir memecahkan keheningan, sepertinya hujan akan turun lagi. Pascal segera berlari ke pintu bergegas membuka pintu tapi dia berbalik lagi.

“Hei, masuklah! Hujan akan turun!” Pascal mempersilahkan wanita bergaun putih itu masuk, dia mengikuti Pascal dari belakang sebelum Pascal menutup pintu.

“Silahkan Nona,” ucap Pascal dengan wajah bingung dan mata celingak-celinguk.

“Tuan, jika tidak keberatan bolehkah saya membuat teh hangat sementara Tuan membersihkan diri?” Wanita itu akhirnya buka suara. Dia menuju ke arah pantry di sebelah kiri pintu masuk.

“Baiklah, buat dirimu nyaman.” Segera Pascal memasuki kamarnya. Karena pakaiannya bersimbah darah akhirnya dia putuskan membawa pakaian itu ke kamar mandi untuk ikut dibasuh dengan tubuhnya di bawah shower. Sejenak Pascal menundukan kepala dan memejamkan mata, entah kenapa kepalanya terasa berdenyut. Dia menoleh ke arah kaca berembun di wastafel, memastikan wajahnya tidak pucat.

Pascal mengusap kaca berembun itu agak bayangan dirinya terlihat jelas di sana, Perlahan leher dirinya berputar searah jarum jam hingga leher Pascal terlilit! Napas Pascal berderu, matanya masih menyaksikan bayangannya di cermin yang kepalanya sudah 360 derajat berputar dengan wajah senyum menyeringai dan mata merah!

Gusti Nu Agung!” Pascal segera melepas pakaian lalu melemparnya ke ember, lalu membilas diri lagi tanpa sedikit pun berani melirik kaca! Keluarlah dia dari kamar mandi dan buru-buru berpakaian.

Tok tok tok!

Pintu kamar Pascal yang berwarna biru kelabu itu terdengar diketuk dari luar, disusul suara wanita yang berkata teh hangat sudah siap. Pascal keluar sambil membawa sisir kemudian duduk di seberang wanita tadi, dia melihat wanita cantik bermata panda itu sedang meniup ujung cangkir teh. Namun jantung Pascal masih berdetak kencang hingga dirinya sendiri bia merasakan detakannya seolah meronta ingin ke luar dari dadanya.

“Kita belum berkenalan, siapa namamu sebenarnya, Nona?” Pascal sibuk menyisir rambut sambil terus menatap wanita di hadapannya.

“Oh, aku tahu kamu.” Wanita itu menunjuk Pascal dengan telunjuk lentiknya.

“Kamu jurnalis berdarah Indonesia, lahir di Bandung dan namamu Fascal Izerbeth,” lanjutnya lancar.

“Wow, aku tidak tahu bahwa aku sudah terkenal. Nona tenyata tahu siapa aku.” Mendengar respon Pascal wanita itu terlihat tersenyum dari balik cangkir teh yang dia minum. Pascal sendiri tersipu.

“Lalu, kenapa kenapa kamu disapa Pacal, bukan Fascal?” tanya wanita berambut mie kocok itu.

“Etnis saya, biasa menuturkan huruf ‘F’ menjadi ‘P’ dan itu sudah menjadi kebiasaan saya bahka saat menyebut nama sendiri.” Pipi Pascal terasa panas.

“Ngomong-ngomong, saya suka rambut Nona, terlihat seperti mie kocok, makanan khas di daerah saya.” Alih-alih menutupi peluh yang mengalir di pelipis, Pascal menoleh ke jendela. Di luar hujan deras, hari juga mulai gelap, sorot mata Pascal berubah menjadi sayu.

“Ada apa Tuan?” tanya sang wanita setelah meminum tehnya.

“Oh, tidak. Saya hanya bertanya-tanya kapan hujan ini berhenti. Saya harus ke rumah sakit dengan rekan kerja saya di kepolisian untuk mencatat hasil otopsi Rebbeca,” jawab Pascal panjang lebar. Wanita di depannya tersenyum lagi.

“Kamu tidak perlu melakukan itu buru-buru, nikmati saja teh hangat dan dengarkan hujan yang damai itu.” Sang wanita tidak menghapus senyumannya, dia ikut-ikutan menatap hujan dari jendela. Suara petir sesekali memecahkan keheningan di antara mereka yang masih diam seribu kata bahkan bahasa.

Pascal sudah meminum setengah gelas tehnya, dia bangun dari duduk untuk mengambil gawai di nakas, sebuah pemberitahuan pesan muncul di layar. Itu dari Pak Abu.

Hallo Pascal, saya harap kamu tidak perlu buru-buru pergi ke rumah sakit untuk meliput data korban. Saya akan kirimkan foto jenazah Rebbeca dan hasil otopsinya.

Sebuah pesan lain masuk, Pascal segera membuka pesan yang menyala-menyala di layar seolah minta dibongkar isinya. Sebuah foto yang masih dalam proses diunggah oleh gawai Pascal. Pupil Pascal langsung melebar ketika foto yang dibuka telah sepenuhnya terekspos di layar.

Jenazah Rebbeca masih terbuka mata dan mulutnya, bahkan mulut itu terbuka lebar seperti matanya sang mayat yang melotot. Terlihat seperti tercekik, tetapi bukan itu yang membesarkan pupil mata Pascal. Dia baru menyadari yang sejak tadi dia minum bukan teh, tapi darah!

PRANG!

Gelas itu mendarat kasar dan hancur berkeping-keping di lantai.

“Tuan, pernahkah kamu mendengar sebuah ramuan cinta dari paranormal di pinggir kota?” Suara wanita di balik punggung Pascal membuat bulu kuduknya berdiri. Pascal menoleh perlahan.

“Ra-ramuan cinta?”

“Iya, ramuan itu bisa mendatangkan orang yang kita suka pada kita,” lanjut si cantik dengan senyum yang memamerkan gigi putih. Semakin lama jarak antara dia dan Pascal semakin dekat. Pascal berjalan mundur hingga punggungnya menabrak tembok.

“Setelah itu, mereka akan bersatu.” Kalimat si cantik berhenti saat jaraknya dan Pascal hanya terhitung sepuluh senti. Pascal melihat ke bawah, gaun putih wanita itu menutup seluruh kakinya, atau jangan-jangan malah kakinya tidak menginjak tanah!

“Tidak, Nona.” Pascal berusaha bicara tanpa ada getara yang terdengar.

“Aku sudah mencoba ramuan itu, Tuan. Akhirnya orang yang selama ini aku sukai datang padaku.” Kata wanita itu sambil meletakan tangannya di leher Pascal.

“Berbulan-bulan aku berharap kau datang menonton teaterku, Pascal. Akhirnya aku menemukan cara agar kau datang padaku,” lanjutnya tanpa berhenti tersenyum.

“Aku minum ramuan cinta itu, dan… Akhirnya kau datang padaku sambil terpeleset di muntahan darah! Hahahaha!” Suara si cantik jadi meninggi, leher Pascal diremasnya sampai menimbulkan bekas keunguan. Pascal terangkat ke langit-langit apartemen, meronta-ronta. Sedikit demi sedikit darah segar mengalir dari mulutnya.

“Pascal sayang, saatnya kamu dan aku, sang aktris cantik berjodoh!” Remasan itu semakin kuat melilit leher Pascal hingga urat nadinya tidak mampu berfungsi lagi lalu jatuh tersungkur tanpa napas dan leher yang patah.

Catatan kaki:
Gusti Nu Agung: Tuhan Maha Besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*