Cermin yang Berbohong

Pagi itu setelah Eve berangkat sekolah, barang-barang di kamar luasnya mendadak mengadakan perundingan.

Masalahnya adalah Eve–gadis kecil yang baru duduk di sekolah menengah yang merupakan pemilik mereka–mulai menganggap semua cermin berbohong. Semua, kecuali cermin berbingkai emas seharga jutaan yang dibelikan ibunya beberapa hari lalu.

“Yang berbohong pada Eve itu kamu!” seru cermin kecil yang melekat pada kotak pensil di meja belajar. “Semahal apapun hargamu, kamu tidak boleh melanggar aturan yang sudah ditetapkan pada seluruh cermin di dunia!”

“Tapi aku hanya ingin menghiburnya dengan memperlihatkan apa yang ingin ia lihat…” bela si Cermin Mahal.

“Itu ‘kan tugasku.” Kali ini Televisi tipis berlayar lebar yang ditanam di tembok bersuara. “Aku memang diciptakan untuk menayangkan hiburan. Hampir sama seperti Laptop dan si Ponsel Pintar. Tapi kamu tidak sama seperti kami.”

Cermin Mahal sedikit resah. “Bukan hiburan yang seperti it–”

“Gara-gara kamu, Eve jadi tidak percaya pada refleksi yang kupantulkan dan tidak mau menggunakanku lagi!” pekik si Cermin Kecil.

“Hey, ayolah. Aku ingin pembahasan ini cepat selesai. Biarkan si Cermin Mahal menjelaskan dulu,” sahut Jam Dinding membuat semua benda bungkam.

Jika benda-benda itu berwujud manusia, pasti mata mereka sedang tertuju pada si Cermin Mahal, dan ia sendiri hanya bisa meringkuk gemetaran menerima seluruh tatapan menghakimi itu.

Cermin Mahal berkata dengan terbata. “Aku… Aku menyayangi Eve. Aku hanya membuatnya terlihat… lebih cantik di refleksiku. Kupikir itu… bukan kesalahan fatal…?”

Kemudian hening. Hanya ada suara dari jarum detik Jam Dinding yang mengisi kekosongan.

Ponsel Pintar dengan layar yang retak memanjang bergumam. “Mirip salah satu fiturku…”

“Alasanmu tidak bisa diterima,” cetus Cermin Kecil. “Sekali melanggar tetap melanggar!”

“Yah, memang kebanyakan manusia lebih suka kebohongan yang manis daripada kebenaran yang pahit,” komentar Televisi. “Aku sering melihatnya di sinetron.”

“Tapi bohong bukan sifat cermin,” tambah Lampu. “Cermin selalu memantulkan refleksi dengan apa adanya. Persis dan jujur.”

“Anu… Maaf aku hanya ingin menyampaikan dugaanku,” sahut Meja Belajar. “Tadi kau bilang kamu menyayangi Eve? Tapi sepertinya bukan. Kamu takut padanya, ‘kan?”

“Takut?”

Kalau punya wujud manusia, pasti saat ini Meja sedang mengangguk. “Kalian tahu ‘kan rambut Eve hampir sekasar sapu ijuk? Beberapa hari lalu Eve mematahkan sisirnya karena kesal rambutnya tidak mau diatur.”

Tentu barang-barang di kamar Eve mengingat peristiwa itu. Sisir baru yang malang. Kenang-kenangan dari mendiang neneknya itu malah jadi sasaran kekesalan Eve.

“Yah, meskipun lahir di keluarga yang kaya, Eve malas merawat diri. Tapi nyatanya dia sendiri tidak suka melihat penampilannya yang berantakan. Ampun deh.” Meja terdiam sebentar sebelum kembali melanjutkan ucapannya dengan hati-hati. “Cermin itu benda yang lumayan rapuh. Kamu hanya takut membuat Eve kesal. Kamu takut dipecahkan Eve, ‘kan?”

Si Cermin Mahal bungkam. Terlalu malu untuk mengakuinya.

Oleh: Amaris (1 Juli 2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*