Menjemput Cahaya dan Hati yang Ikhlas

Menjemput Cahaya

Oleh : Aziah Alfatih
 

Dentuman suara musik yang menggebu-gebu. Suara yang membuatku merasa bebas. Beban-beban yang ada di benak ku ini terasa hilang dan lepas begitu saja. Aku ingin terus seperti ini, hidup tanpa beban dan masalah yang harus dipikirkan dan dicari solusinya. Aku ingin damai, tentram, bebas tanpa masalah. Sudah cukup!! Hidupku ini dirundung oleh berbagai masalah. Cukup!! Aku lelah. Tolong Tuhan, beri aku waktu untuk terus menikmati hidup seperti ini. Tapi, kenapa aku minta tolong pada tuhan. Tuhan pun seolah tak peduli dengan hidupku yang seperti ini. Jujur, aku sudah muak dengan tingkah mereka yang bermuka dua. Munafik!! Cukup sudah mereka memanfaatkan aku sebagai mainannya. Aku ingin lepas dari genggaman mereka. Mereka yang membuat hidupku menjadi seperti ini. Sungguh sangat kejam mereka pada hidupku. Aku benci mereka. Ingin kubalaskan dendamku ini pada mereka. Tapi sudahlah, aku lelah. Aku ingin hidup seperti ini. Bebas dari cengkraman mereka. Sekarang aku bebas. Aku bebas!!! Dan ini membuatku bahagia.

Kembali ke duniaku saat ini. Iringan musik yang mendayu-dayu, menarik tubuhku ini untuk terus menikmati iramanya tersebut. Ku ambil segelas wine. Inilah minuman yang membuatku bebas, terbang melayang tanpa beban. Tiba-tiba seseorang menarikku ke lantai dansa. Dia mengajakku berdansa, menikmati alunan irama musik yang bergelora. Sungguh aku hari ini merasa hidup. Inilah hidup yang sebenar-benarnya tanpa ada aturan ataupun masalah.

Tahukah kamu? aku sebenarnya mulai bosan dengan hidupku saat ini. Aku merasa seperti seonggok daging yang tak berguna untuk hidup. Terasa monoton hidupku saat ini. Tak ada gairah untuk hidup. Aku mulai bosan. Sungguh terbesit dalam pikiranku ini untuk mengakhiri hidup saja alias bunuh diri. Percuma aku hidup. Untuk apa aku hidup. Sungguh tak ada gunanya aku hidup. Aku bagaikan sampah yang pantas untuk dibuang dan tak berguna untuk digunakan kembali.

Akhirnya kuputuskan untuk mengakhiri hidupku saat ini juga. Otakku berpikir keras, bagaimana caranya aku bisa mati lebih cepat. Dan terbesitlah dalam pikiranku ini. Aku harus minum racun lalu aku lompat dari gedung apartemenku ini. Ya, begitu saja. Itu sudah cukup bagiku untuk bisa mati lebih cepat. lalu kulakukan semua itu, dan “brug” tubuhku akhirnya jatuh. Pandanganku seakan mulai meredup lalu gelap.

Ku dengar lantunan suara yang begitu merdu, menentramkan hati ini. Aku tersentuh mendengarnya, ingin ku dengar terus menerus suara merdu itu.  Namun,suara tersebut hilang dan tergantikan oleh suara jeritan yang begitu memekakkan telinga. Begitu pedih dan sakit telingaku ini mendengarnya. Ketika kulihat ternyata itu temanku. Kaget aku dibuatnya. Kenapa dia disana?? Kenapa dia disiksa seperti itu. Tidak, aku tidak mau disiksa seperti dia. Tiba-tiba kulihat seberkas cahaya yang begitu menyilaukan pandanganku ini. Kaki ini melangkah mendekati cahaya tersebut. Namun seakan ada yang menghalangi ku untuk mendekatinya. Lalu terdengar suara yang membuat tubuhku bergidik ngeri.

“Kamu kotor dan tak suci. Kamu tak pantas tuk mendekati cahaya itu.”

“Jika kamu ingin mendekati cahaya itu,kamu harus suci dan bersih”

Dan aku pun terbangun dari mimpi tersebut. Sesegera mungkin ku sucikan diri ini. Ku ucapkan kembali  dua kalimat syahadat. Ku bertaubat pada-Mu. Ku ingin menggapai dan menjemput cahaya itu. Akhirnya kudapatkan ketenangan yang selama ini aku cari.

 

Hati yang Ikhlas

Oleh : Aziah Alfatih
 

Guncangan demi guncangan datang silih berganti. Membuat retakan yang dibuat semakin tercetak dengan jelas. Kami bergidik ngeri melihatnya. Tanah yang selama ini dipijak kini merekah, terbelah menjadi dua. Terlihat bangunan yang dulunya berdiri kokoh pun tak kuasa menahan guncangan ini. Dia kalah dan akhirnya roboh juga. Rumah yang kami bangun dengan hasil kerja keras selama ini, hilang runtuh bak ditelan bumi. Hilang sudah semuanya, tak bersisa sedikitpun.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh air yang begitu keras, menghantam semua bangunan. Mengejar kami yang lari terpontang-panting. Sekarang apalagi Tuhan, Kau turunkan musibah apalagi? Dan akhirnya kami menyadari itu adalah tsunami. Setelah gempa tadi yang mengguncang dan memporak-porandakan rumah-rumah kami. Tuhan, tak cukupkah Kau menambah kesedihan yang kami alami. Apakah amal kami selama ini kurang cukup?? Kami selalu taat pada-Mu. Kami jalankan semua perintah-Mu dan kami jauhi segala larangan-Mu. Apakah ini balasan nya?? Sungguh dunia ini tak adil. Kami ingin protes. Kenapa semua ini terjadi pada kami?? Kenapa Tuhan?? Kenapa?

Sisa-sisa puing bangunan berserakan di depan kami. Aroma busuk begitu menusuk penciuman kami. Kami menatap nanar. Hati ini merasa sedih. Engkau memberikan kami kesedihan yang begitu mendalam. Kami kehilangan semuanya. Kami kehilangan rumah, harta dan keluarga. Sekarang kami tak memiliki apapun. Kami miskin. Kami lapar. Kami haus. Kami ingin menangis. Kami lelah.

Tuhan, seberat inikah ujian-Mu pada kami sebagai hamba-Mu. Tolong izinkanlah hamba-Mu ini tuk mengeluh. Untuk meratapi semua yang telah terjadi. Izinkanlah sekali saja, kami untuk mengeluh. Terasa perih hati ini. Kami masih belum menerima semua ini. Kami hanya bisa menangis, mengadu pada-Mu.

Tuhan, kapan semua ini kan berakhir?? Kami lelah. Kami ingin kehidupan yang dulu kembali. Kami rindu pada keluarga. Kami rindu kehidupan yang dulu. Kami rindu desa permai. Kami rindu alam tenang. Kami rindu alam bersahabat. Kami rindu semua itu.

Tuhan, kami menunggu, menunggu dan tetap menunggu pertolongan dari-Mu. Kami selalu percaya pada pertolongan-Mu selama ini. Tak henti-hentinya kami memanjatkan doa pada-Mu. Karena Engkaulah tempat kami bergantung.

Lama kami berpikir merenungi semua yang telah terjadi. Akan tetapi kami akhirnya menyadari satu hal. Seharusnya kami bersyukur. Karena Tuhan masih memberikan kesempatan pada kami untuk hidup. Ya untuk hidup.  Sungguh kami baru tersadarkan akan hal itu. Kami terlalu terlena dengan kesedihan. Kami lupa untuk bersyukur akan kesempatan ini.

Akhirnya, kami mencoba untuk ikhlas dengan semua yang telah terjadi. Mencoba hati ini untuk mengikhlaskan semuanya. Dan sudah saaatnya kami untuk bangkit dari keterpurukan ini. Sudah saatnya kami untuk move on. Sudah saatnya kami bangun kembali desa ini menjadi lebih baik lagi. Atas izin dari-Mu Kami yakin, kami pasti bisa.

 

Assalamu’alaikum
Aku seorang perempuan kelahiran Majalengka yang sekarang menetap di Bandung. Aku maba UPI jurusan IPAI tahun 2018. Aku mulai suka menulis karena termotivasi oleh Tere Liye. Karena karya-karya yang dia hasilkan sangat imajinatif dan menarik untuk dibaca.
Aktif di medsos berikut:
IG : tmrfauziah
FB : Tamara Fauziah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*