Teror Al Maghrur

Oleh S. Qaini Al Khanza (Jurusan Biologi UPI 2014)

Langit telah gelap. Tiada bebintang meski bulan benderang bulat penuh. Angin lembut mengibas-ngibaskan reranting pohon tanpa daun. Beberapa jam lalu hujan melindas habis daratan kampung sederhana, disertai angin ganas hingga meranggaskan banyak daun belimbing depan rumah. Jendela kamarnya sempurna gambarkan semua. Buat mata coklat remaja putri itu bergerak terus di tengah malam. Rindu memang susana begitu, tapi risau lebih kuat menguasai hati dan fikiran.

Kayanya aku gak bisa pergi, Rin. Teks itu meluncur kepada seorang yang ia panggil “Rina” via media sosial Line. Mengirimkan kegundahan yang ia coba bagi untuk kurangi penat. Tentu bukan kalimat keputusasaan, hanya kalimat dari gambaran kelapangan hati akan takdir yang mesti dihadapi.

Teringat apa kata seorang teman lainnya, “Kamu boleh nangis sejadi-jadinya saat sedih atau gagal. Tapi, gak boleh putus asa karena itu berarti kamu akan ‘tamat’!” Saat ini? Ia memang tak mau putus asa, tapi tak kuat juga untuk menangis. Kesedihan karena pembatalan keberangkatan itu terkalahkan dengan kesedihan lainnya. Huuuf… nafasnya terdengar kasar. Malam itu, semua rasa seperti saling berlomba mencari posisi di dalam hati dan fikirannya. Sesak.

***

ACCEPTED

Kata berbahasa inggris itu jelas terlihat, tepat di kolom samping nama dan universitas asalnya. Beberapa detik selanjutnya terasa membeku. Tak ada mata yang mengedip, bahkan nafas yang berhembus.

“Alhamdulillaah…” akhirnya itulah yang terucap. Syukur dengan mata yang menjadi nanar melihat karena haru. Siapa sangka mimpi yang ia tuliskan dua tahun lalu kini terwujud.

Jepang. Ia akan pergi ke sana. Setelah sebelumnya, satu karya tulis dinyatakan lolos seleksi Pekan Kreativitas Mahasiswa Dikti dan karya tulis lainnya berhasil menembus jurnal internasional Amerika. Kini, hanya menunggu dua bulan lagi, tanah jepang akan ia pijak. Mahasiswa mana yang tak merasa senang dan haru mendapat rentetan prestasi itu? Aah…, jangan tanya bangga dari orang tuanya.

“Ibu…, Nisa lolos,” ucapnya gemetar dalam sambungan telpon dengan ibunya, kala itu ia bahkan terlupa ucapan salam. Tetapi, ibunya terdiam. Ada yang menyekat tenggorokan.

“Al-ham-duli-llaah…” kata syukur itu terdengan terbata.

“Bu, programnya gratis. Nisa ke Jepang gratis bu…”. Seakan mengerti kerisauan hati ibunda, Nisa, menjelaskan semua detil program exchange yang berhasil ia dapatkan dengan tanpa kehilangan sorak senang juga haru bangga.

***

Pagi menjelang. Tiga hari mimpi hal yang sama, menghadirkan suasana pagi yang sama. Haru. Tapi bukan haru bahagia seperti kala itu. Haru telah berganti gundah.

Jika kau ingin mengelilingi dunia,

Jika kau ingin bermimpi setinggi langit,

Tak salah

Hanya tanyalah, untuk apa?

Adakah akhirat di dahimu?

Coretan itu telah menghiasi buku hariannya sepekan ini. Mengiringi perjalanan panjangnya tiap malam, melintasi fikiran dan menanyakan iman juga amal dalam diri.

Bulatkan hatimu, Nis. Takdir Allah tak pernah salah. Ternyata pesan di Line malam tadi telah berbalas. Tapi ia tak menjawab ulang. Membulatkan hati pada injury time tak pernah semudah itu, baginya.

Libur semester telah berlalu dua pekan. Ia mantap untuk tak mengambil program Semester Pendek. Dua bulan ke depan akan digunakan untuk memenuhi kewajiban juga mimpinya di Jepang. Ia lulus sebagai salah satu dari sepuluh delegasi mahasiswa se-Indonesia. Exchange of Genetic Engineering Programe. Program impian di negara impian.  Tapi, terancam gugur sebelum di panen buahnya. Saat dedaun baru tumbuh dan batang merangkai ranting. Ditebang paksa, tapi takkanlah jadi busuk. Pasti jadi pupuk baru benih lain.

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumsalam…”

“Bapak gimana, Bu?”

“Belum membaik, Nak.”

“Malam ini gilirran Nisa ya, Bu, jaga Bapak di Rumah Sakit. Ibu istirahat di rumah.”

Ia menarik nafas panjang diantara kaliamat yang menggantung di udara. Tak terjawab oleh Ibunda. Terbayang sisa waktu yang dimiliki hanya dua hari ini saja.

“Pergi saja, Nak. Bukankah itu mimpimu sejak lama? Bapak pasti sedih jika kau membatalkan keberangkatanmu hanya karena ia sedang sakit.” Ibu selalu tahu kerisauan apa yang menggelayuti anaknya. Tanpa bahasa lisan.

“Bu, Nisa akan lebih sedih meninggalkan Ibu sendiri dan Bapak dalam kondisi kritis. Nisa bisa kejar mimpi itu lagi. InsyaAllah, nanti.”

“Mestinya kau liat begitu ia bangga saat tahu…”

“Mestinya ibu tahu, Nisa begitu teramat sayang Ibu dan Bapak hingga mimpi besar Nisa ada bersama kalian bukan pergi ke Jepang.”

Untuk pertama kalinya, ia meninggikan suara kepada Ibu. Tapi malah isak dalam peluk balasan ibunda. Tanda haru nan bangga. Dari hidup sederhana bahkan segala kurang, dapat mendidik gadis cerdas nan shalihah bernama Khaerunisa Nur Aini.

***

“Nis, ayo dong pulang yuk! Udah hampir tengah malem nih. Parah, loe. Nanti dimarahin Pak Satpam kampus, ih. Jam segini masih berburu wifi. Ayo…!” Entah itu menjadi bujukan Rina untuk keberapa kalinya. Sahabat Nisa yang selalu menemani. Teman satu kost-an.

Ih bentar, lagi. Liat tuh, filenya belum ke upload. Deadline-nya kan jam 00.00 sekarang, jadi ini kesempatan terakhir.” Nisa tak kalah keukeuh membujuk.

“Ya kamu sih, tau kosan kita miskin sinyal internet, kirim gituan selalu dadakan!”

Failed? Hah… berisik sih loe, liat gagal, kan? Aku harus ngulang. Waktunya kan tinggal satu jam lagi. Itu artinya kamu harus diem dan tunggu aku lagi!” Geram Nisa. Desah Rina makin keras.

Bagi mereka, sudah tiada sungkan dan marah yang benar masuk dalam hati. Semua telah ter-cover dengan ukhuwah yang lebih kuat terajut.

***

“Nisa…” suara lirih dan terdengar berat itu membangunkan Nisa di malam petamanya menemani bapak di rumah sakit. Suara Bapak yang terbangun menghentikan mimpi Nisa yang berbeda. Atau tepatnya, putaran ingatan Nisa.

“Kapan pergi ke Jepang, Nak?

“Masih lama, Pak. Bapak sehat dulu saja ya. Nanti pasti Nisa kabari,” jawabnya, coba berbohong. Keberangkatan itu hanya satu pekan lagi dengan konfirmasi ulang terakhir adalah hari ini. Ia telah bulat membatalkan keberangkatan. Melepas satu mimpi untuk mimpi lainnya, bakti pada orang tua. Berat memang, tapi baginya membayangkan saja siksa yang mungkin akan diterima kelak, lebih berat.

Membatalkan berarti harus membayar punishment. Program tersebut memang full founded yang berarti gratis 100%. Tapi tidak, jika delegasi terpilih membatalkan perjanjian. Ia akan dikenai sejumlah uang denda sebagai hukumannya. Bilangannya? Seharga dua kali lipat pengobatan Bapak yang masih terseret-seret untuk dibayar tiga hari ini. Tapi, tak ada yang tahu kecuali diri Nisa dan Allah tentang itu. Bungkam. Dengan satu alasan yang sama akan pelepasan mimpi itu.

Allah memang begitu lembut, Al Latif. Hingga teguran-Nya begitu terasa romantis. Ujian-Nya begitu terasa manis. Mimpi datang saat Bapak sakit keras. Hadirkan pembelajaran akan tujuan dan pilihan hidup di dunia semu ini. Jikalau tingginya hati dan rendahnya iman membelenggu, mimpi indah bisa saja buat diri tertipu (al maghrur) telak, akan hidup dan akhirat. Lupa tafakur, lupa tasyakur.

Kini, Nisa tahu bagaimana mimpi itu dapat terwujud dan bagaimana nikmatnya berbakti pada orang tua. Mimpi itu tak akan hilang. Ia hanya akan menjelma menjadi pupuk bagi mimpi dan langkah hidup lainnya. Alhamdulillaah….

0 Replies to “Teror Al Maghrur”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*