Mensyukuri Nikmat-Nya

Oleh : M. Ginanjar Eka Arli (Pendidikan Matematika UPI 2011)

“Eh, Winda, kamu mau beli smartphone aku nggak?”

Lho, kenapa, Li? Bukannya kamu baru beli ini bulan lalu? Ada yang rusak atau kenapa?”

“Hmmm… nggak sih, Win. Cuma, aku baca di internet katanya ada smartphone keluaran terbaru dengan fitur yang lebih canggih! Please, please, ya. Nanti aku traktir bakso deh. Mau ya?” Ucap Lia memelas.

“Ah … kamu mah Li. Itu namanya kufur nikmat!”

“Tapi….”

“Pokoknya aku nggak mau, titik!” Ujar Winda sambil melengos pergi.

***

Sohibul Qolam, pernahkah dirimu merasa seperti itu? Kala diri ini tidak terpuaskan dan memiliki keinginan untuk mendapatkan hal yang lebih dan lebih lagi? Tanpa sadar disana kita telah luput untuk mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, lho. Atau bahasa kerennya itu dinamakan “kufur nikmat”.

Mengapa kita sering lupa mensyukuri nikmat yang diberikan Allah kepada kita? Bisa jadi karena kita terlalu cemburu melihat orang lain memiliki barang-barang yang tidak kita miliki. Kita iri melihat orang lain memiliki sepatu, makanan berlimpah, dan gadget keluaran terbaru. Padahal kalau kita pikirkan kembali, bukankah ada sesuatu yang lebih berharga dari itu semua? Ya, kita memiliki kesehatan fisik dengan seluruh anggota badan kita lengkap tanpa kurang sesuatu apapun. Apa gunanya sepatu tanpa kaki? Makanan berlimpah tapi lidah tak merasa? Serta gadget yang mewah tapi tubuh yang sakit?

Kalau dihitung-hitung ya, nikmat yang Allah berikan kepada kita sejak lahir hingga saat ini banyak sekali, lho! Bahkan jika kita ibaratkan hutan-hutan di seluruh dunia menjadi pena dan lautan dijadikan tintanya, maka itu semua tidak akan pernah cukup untuk menuliskan seluruh nikmat Allah kepada kita. Seperti dalam firmannya, “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl: 18)

Syukur mungkin adalah hal yang sering kita dengar tapi sering juga kita lupakan. Kala mendapat berkah yang berlimpah, sebagian dari kita mungkin langsung bersyukur. Namun sebagian sisanya? Tidak jarang yang menjadi tinggi hati dan menganggap semua hal tersebut bisa didapatkan karena usaha dan kerja keras dia. Padahal Sohibul Qolam, hakikat syukur itu pada dasarnya ada tiga, yakni bersyukur dengan hati, lisan, dan anggota badannya.

Bersyukur dengan hati artinya mengakui dan meyakini bahwa nikmat tersebut semata-mata datangnya dari Allah Swt. dan bukan dari selain-Nya. Seperti dalam firman-Nya, “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…” (QS. An-Nahl: 53). Meskipun bisa jadi kita mendapatkan nikmat itu melalui teman kita, aktivitas jual beli, bekerja, atau yang lainnya, semua itu hanyalah perantara untuk mendapatkan nikmat tersebut. Selanjutnya kita harus mencintai Allah Swt. yang telah memberikan semua nikmat itu kepada kita. Kemudian meniatkan untuk menggunakan nikmat itu di jalan yang Allah ridhai.

Adapun bersyukur dengan lisan adalah memuji dan menyanjung Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut pada kita. Sementara tugasnya anggota badan adalah menggunakan nikmat tersebut untuk menaati Dzat yang kita syukuri dan menahan diri agar jangan menggunakan kenikmatan itu untuk bermaksiat kepada-Nya. Semoga Allah Swt. memberikan pertolongan-Nya kepada kita untuk mensyukuri nikmat-Nya dan menjadikan kita hamba-Nya yang pandai bersyukur.

“Jika kalian bersyukur pasti akan aku tambah nikmat-Ku padamu. Tetapi jika kalian kufur sesungguhnya adzab-Ku amat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*