Memetik Hikmah dari Sang Pemilik Dua Sabuk (Asma’ binti Abu Bakar)

Perempuan, ialah makhluk mulia dengan segala keistimewaan. Jika ia baik, maka baiklah seluruh anggota keluarganya. Bila keluarga baik, maka baik pulalah masyarakatnya. Dan kalau masyarakat baik, maka negarapun akan baik. Maka kini, ditengah entitas kehidupan modern yang lambat laun kian mengikis jatidiri seorang muslimah sejati sesuai tuntunan-Nya, haruslah kembali dipertanyakan bagaimana sebenarnya peran kaum muslimah sesuai dengan islam? Islam yang telah memposisikan perempuan di tempat yang terhormat, baik keluarga masyarakat maupun negara. Di lingkungan keluarga, perempuan sebagai ibu, istri, dan sekaligus pengurus rumah tangga. Di lingkungan masyarakat, perempuan merupakan anggota yang tidak dapat dikesampingkan karena dialah pencetak dan pembentuk generasi. Sedangklan di lingkkungan negara, perempuan adalah tiangnya, yang apabila rapuh maka negara tidak akan berdiri tegak.

Marilah kita petik hikmah dari perempuan tangguh yang telah mengisi kolom sejarah emas peradaban islam, yang telah mengukir namanya dengan tinta emas perjuangan dien islam tuk berikrar suci layaknya Q.S Muhammad:7. Ialah wanita tauladan sepanjang masa, yang namanya harum semerbak hingga Jannah-Nya. Seorang puteri yang mewarisi darah kemuliaan sahabat terbaik Rasulullah Muhammad Saw, yakni Abu Bakar Ash-Shidiq. Dia adalah wanita utama: Asma’ binti Abu Bakar ash-Shidiq bin Abi Qudhafah. Ibunya adalah Qutailah binti Abdul Uzza bin Abdullah bin As’ad bin Nashr bin Malik bin Hasl bin Amir bin Luay. Saudara kandung dari Abdullah bin Abu Bakar, saudara sebapaknya Aisyah ra. Dialah ibunda Abdullah bin Zubair. Dia pula yang menjadi wanita Muhajirin yang terakhir kali wafatnya, yang telah ditakdirkan berusia 100 tahun. Asma’ lahir tujuh tahun sebelum hijrah. Bersuamikan seorang yang dijuluki ‘lelaki surga’ Zubair bin Awwam sebelum dia berhijrah ke Madinah. Maka tatkala Nabi Saw dan para sahabat sudah tinggal di Madinah, Asma’ berangat berhijrah bersama suaminya. Saat itu pula dia sedang hamil tua, dan sesampainya mereka di Madinah, Abdullah bin Zubair pun lahir. Maka zubair adalah anak pertama yang dilahirkan dalam islam di Madinah, sesudah hijrahnya Rasulullah Saw.

Asma’ masuk Islam sejak dini. Kehidupannya dijalani dengan menolong Agama Islam, gagah berani bak seorang ghazi. Dari Asma’ binti Abu Bakar, bahwasanya dia berkata, “Tatkala Rasulullah Saw. dan Abu Bakar ra. Keluar untuk berhijrah, serombongan orang Quraisy diantara mereka ada Abu Jahal bin Hisyam, datang kepada kami. Mereka berhenti di depan pintu rumah Abu Bakar. Asma’ keluar menjumpai mereka. Mereka bertanya, ‘dimana bapakmu, hai putri Abu Bakar?’ Asma’ menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak tahu dimana bapakku.’ Abu Jahal mengangkat tangannya, sedang dia adalah seorang yang keji dan jahat. Dia menampar pelipisku dengan keras, sampai anting-antingku lepas dan terlempar jauh.” (Sirah Ibnu Hisyam, 1/487).

Asma’ digelari dengan ‘Dzatunnithaqain’ (si pemilik dua sabuk). Mengapa? Hadits berikut inilah yang akan menjawabnya. Dari Asma’ ra dia bercerita: “Aku membuatkan ransum makanan untuk Rasulullah Saw. Di rumah Abu Bakar, ketika beliau hendak berhijrah ke Madinah. Kami tidak mendapatkan tali untuk mengikat ransum makanan dan wadah minuman itu. Aku berkata kepada bapakku, ‘aku tidak mendapatklan sesuatu untuk menguatkannya kecuali sabukku ini.’ Bapakku berkata, belahlah sabuk itu menjadi dua. Gunakan belahan yang satu untuk mengikat wadah minuman dan yang satunya lagi untuk mengikat ransum makanan.’ Aku melaksanakan perintah bapakku itu, dan karena itulah aku dinamakan Dzatunnithaqain.” (Shahih Al-Bukhari, 2979)

Rasulullah saw. bersabda kepadanya, “Allah pasti mengganti sabukmu ini dengan dua sabuk di surga.” Lantas dia dipanggil “Dzatunniqhatain” (wanita yang memiliki dua sabuk) (Al-ishbah , 3/435).

Dua hadits tersebut hanyalah sepenggal kisah keharuman nama Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shidiq diantara ribuan kisah lain yang semestinya dapat kita petik sebagai pelajaran. Sang perempuan tangguh yang tak takut kepada siapapun kecuali Rabb-Nya. Dan begitulah sejatinya seorang muslimah, merasa bangga akan jati diri seorang muslim yang bersumber dari kekuatan dan kejernihan imannya, dan memahami dengan baik tujuan dari penciptaannya sebagai manusia ialah; “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku” (Q.S Adz-dzariyyat:56). Perempuan mana yang tak mau menjadikan namanya semerbak hingga Jannah-Nya kelak? Maka jadilah Asma’ masa kini yang teguh dalam keimanan, taat penuh kepada semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, tak terkikis oleh nikmat duniawi. Semoga kitalah diantaranya..

Allahu ‘alam bi Shawab

Santika, Ketua Divisi An-Nisaa’ KALAM UPI (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2013)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*