Harta dalam Mimpi

Oleh: Lia Wati-Kadiv Pemasaran UKM Al-Qolam 2016

*Cerpen ini meraih penghargaan juara 1 lomba cerpen Jasmine P3RI

 

Aku telah lama mengubur diri, pada ke dalaman gelap yang semakin menghantui. Berharap menemukan pengganti yang mampu mengubah hidup hingga penuh arti. Tetapi sayang, semesta telah lama mengkhianati. Menguburku pada batas-batas mimpi.

Aku setengah tertatih menyusuri hutan. Berharap mendapatkan ketenangan sambil mencari ranting-ranting pengganti kayu bakar. Menjadi manusia yang tidak berguna sepertiku adalah kesedihan. Jika tubuhku yang ringkih ini diterkam hewan buas pun tak akan ada yang mencari. Mungkin yang melakukannya hanyalah seorang istri yang terus setia meski mempunyai suami yang tak berguna sepertiku.

 Sesalku menjadi manusia yang tak sepadan. Jangankan untuk membeli rumah mewah, bisa makan pun hidupku terselamatkan. 

Lelah menahan langkah, sejenak aku terduduk di bawah pohon rimbun. Perlahan membawa pada ruang putih nan luas. Sayup mataku menangkap seorang kakek berbaju putih yang datang menghampiri. Ia tersenyum ramah. Memintaku untuk mengajukan tiga keinginan. Tentu yang paling pertama kubutuhkan adalah harta.

“Pergilah ke sebuah gua di ujung jalan, di belakang pohon rimbun berkanopi. Di sana kau kan temukan harta yang sejati. Bawalah sesuatu dari sana. Jangan pernah kau ceritakan pada siapapun mimpi ini.”

Aku terkesiap. Pijaran cahaya mentari jatuh di pipi menerobos melalui celah dedaunan. Mimpi itu menuntunku pada sebuah gua yang ternyata benar adanya. Ada kekuatan yang mendorongku hingga tak meragukan lagi untuk masuk. Tak ada yang istimewa di sana. Hanyalah terdapat banyak bulatan tanah liat sebesar ibu jari yang berserakan. Aku memungut beberapa.

Sepanjang jalan pulang, aku terus memperhatikan gumpalan tanah liat yang tidak ada maknanya sama sekali. Kesalku menggunung, hingga bulatan tanah liat itu kulemparkan di sepanjang jalan hingga bersisa sebuah saja.

Tiba-tiba langit memuntahkan bulir-bulir air. Meluruhkan tanah liat terakhir yang sejak tadi kugenggam. Aku terhuyung, tanganku bergetar karena yang kudapati adalah berlian yang berlumur lumpur. Kantong yang tadinya berisi tanah liat kini kosong. Tak ada sisa tanah liat yang kumiliki.

Langkah kakiku kembali berbelok. Sebulir berlian di telapak tanganku menghilang entah kemana. Angan membumbung tinggi. Gua tadi di penuhi oleh banyak butiran tanah liat yang sama persis, aku hanya perlu membawa semuanya.

Telah cukup jauh aku berlari, tak kudapati kembali gua itu. Bahkan tanah liat yang sejak tadi kulempar di sepanjang jalan telah menghilang di telan semesta. Aku tersungkur menyesali diri.

***

Sebelum fajar menampakkan wajah di permukaan bumi. Aku telah berpamitan pada istriku yang sejak tadi melantunkan bacaan kitab suci. Wajah lusuhnya yang jika saja di poles make up, tak akan kalah cantik dengan kembang desa. Ia telah terbiasa tersungkur pada batas gravitasi bumi sebelum aku terbangun.

Aku kembali menyusuri jalanan di tengah hutan. Persis seperti hari kemarin. Terduduk di bawah pohon rimbun. Memejamkan mata, hingga ruang putih memenuhi dan membawaku pada pertemuan dengan kakek tua berpakaian putih lagi. Ia tersenyum ramah.

“Apa keinginan keduamu?”

Aku berpikir sejenak. Telah lama aku hidup dalam kemiskinan, terlunta-lunta dalam ketidakberdayaan. Aku teringat pada seorang saudagar terkaya di desa. Ia begitu congkak apa lagi terhadap orang sepertiku, hingga pikiran di luar akal ini muncul.

“Aku ingin bertukar raga dengan orang terkaya di desa ini. Hingga tercukupi semua kebutuhanku.”

Langit dengan pijaran fajar kini tiba-tiba membeku, serta merta gumpalan hitam memenuhi. Gemuruh kilat menyambar. Perlahan langit menitikkan air. Namun beberapa saat tak kurasakan lagi sentuhannya.

Aku terkesiap mendapati ruang terang benderang cahaya lampu. Tanganku mengusap kain lembut yang terhampar di atas dipan. Ku angkat kepala dan mendongakkan wajah ke arah cermin yang menempel pada lemari besar. Kedua telapak tanganku mengusap pipi menyadarkan, tetapi ini bukanlah mimpi. Aku telah benar-benar bertukar raga.

Menjadi pemilik beberapa toko, peternakan sapi perah, bahkan banyak rumah mewah rasanya begitu menyenangkan. Sejak pagi aku hanya perlu mengurusi beberapa catatan. Tunggang lenggang di halaman menyesap kopi.

Anehnya tak kutemui siapapun di sini. Tetapi ribuan pertanyaan yang menghantuiku memudar. Mbok Inem, tadi pagi terheran-heran ketika aku menanyakan mana istriku. Ia mengakatan bahwa kami telah berpisah lima tahun lalu. Istri yang lebih muda sepuluh tahun menipuku. Pergi dengan laki-laki lain dengan membawa beberapa keping emas.

***

Beberapa hari menjadi saudagar kaya ternyata membuat kepalaku semakin berdenyut. Terlalu banyak hal yang tak terjangkau pemikiran. Hasil peternakan sedang turun drastis, salah satu rumah kebakaran. Beberapa pekerja menuntut dinaikan upah. Bahkan brangkas yang baru aku tahu tempat penyimpanannya hampir saja di bobol dini hari tadi.

Rasanya aku mau mati saja. Teringat hidupku yang sederhana. Aku ingin kembali hidup di pinggir desa kemudian bercengkrama saat senja tiba.

Kegamangan membawa pada wajah cantik istriku di gubuk sana. Beberapa hari berlalu masihkan ia ingat padaku? Aku bertanya pada diri sendiri.

Aku ingin kembali pada diriku, ragaku yang dulu. Dimana emas dan berlian hanyalah mimpi, namun hidupku begitu berarti.

***

Sejak sebelum fajar beberapa hari lalu suamiku telah pergi dan tak kunjung datang. Biasanya ia kembali ketika matahari hendak terbenam persis seperti sekarang. Sejak ia pergi aku telah melakukan rutinitas seperti biasa. Melupakan kegamangan dan terus memanjatkan doa untuk keselamatannya.  

Aku menanak nasi dengan lauk pauk seadanya. Gubuk yang kutinggali sejak pernikahan kami menjadi saksi. Entahlah, bagiku hidup bersamanya adalah kebahagiaan. Kegigihan membahagiakanku sepertinya menuntunnya untuk bekerja keras.

Pintu dengan anyaman bambu yang menyambungkan ruang depan dan dapur mengerat. Aku tersenyum menyambut kepulangannya. Tubuhku berbalik, namun senyumku pudar seketika. Aku tak menemukan suamiku, yang masuk ke rumahku bukanlah ia. Aku segera memegangi sebilah kayu yang dapat kujangkau tak jauh dariku berdiri.

Pikiranku memutar kejadian beberapa tahun yang lalu. Ia adalah saudagar kaya di desa, sedang aku adalah kembang yang mekar di tengahnya. Dengan kekuasaan dan keangkuhan ia melamarku. Bagaimana bisa aku menikahi laki-laki yang lebih pastas menjadi ayahku? Belum lagi tingkah lakunya yang selalu congkak.  

Beberapa hari sebelum pernikahan dengan persetujuan sepihak. Aku pergi dan terus berlari hingga ke ujung desa dekat hutan.

“Selamatkan aku,” seruku pada pemuda satu-satunya yang kutemui.

Beberapa hari ia merawatku. Aku tak sanggup menjelaskan apapun selain terlarut dalam kebisuan. Tak lama kemudian ia berhasil membuatku jatuh hati dengan kepolosan dan ketulusannya.

Genangan air di pelupuk mata menyadarkanku. Laki-laki itu masih mematung di hadapan.

“Ini aku suamimu.”

“Suamiku sedang mencari kayu bakar. Lihat apa yang akan dilakukannya jika tahu kamu di sini.” Aku masih memegagi sebilah kayu sambil terus waspada.

“Ini aku suamimu,“ ucapnya lagi.

“Kita dapat hidup di rumah baru, tidak di gubuk seperti ini,” tambahnya sebelum aku menyela.

“Lebih baik aku mati menunggu suamiku daripada ikut bersamamu.” Aku berhasil mendorong dan menyuruhnya segera pergi.

Genangan air di pelupuk mataku tumpah ruah. Seketika dadaku sesak menahan rindu. Dimana dirimu?

***

Bagaimana aku lupa pada harta terbaik yang terpendam dalam istriku? Ia selalu tersungkur dalam isaknya sebelum aku terbangun. Bacaan kitab suci terdengar lirih selalu dilantunkannya.  Memohon pada Tuhan untuk keselamatan. Kesetiaan dan kesabaran menghadapi manusia sepertiku. Manusia yang tak lagi mampu bersyukur, hingga aku lupa pada harta yang sesungguhnya.

Aku berlari ke tengah hutan sambil berteriak.

“Aku ingin kembali pada diriku sendiri!”

Gema suaraku membelah hening. Aku terisak di bawah pohon berkanopi. Dan entah bagaimana caranya  untuk kesekian kali aku telah masuk dalam ruang putih. Kakek dengan pakaian putih kembali menghampiri. Ia tersenyum ramah, lebih dari sebelumnya. Aku masih terisak hingga tak mampu membalas senyumnya.

“Apa keinginan ke tigamu? Ini adalah yang terakhir. Jangan kau ceritakan pada siapapun mimpimu ini,” ia bertanya sambil terus tersenyum.

“Aku ingin kembali seperti dulu. Kembali pada ragaku, pada istriku. Hidup tenang dalam kesederhanaan. Aku tak membutuhkan harta berlebihan lagi.” Dadaku masih terasa sesak.

Kakek itu mengusap kepalaku. Persis seperti orangtua yang datang menghentikan tangis anaknya.

“Nak, kamu tahu apa artinya berlian yang terbungkus tanah liat yang kamu temukan di dalam gua? Itu seperti dirimu. Kamu adalah berlian yang terbungkus dalam tanah liat. Ada sesuatu dalam dirimu yang dapat mengubah hidup dengan cara yang benar. Tanpa harus menjadi orang lain. Hanya saja masih terkubur dalam hingga kau masih belum menyadari keberadaannya.”

Ruang putih itu semakin memudar. Aku mengerjap. Sedetik kemudian kembali berada di bawah pohon rimbun berkanopi. Kutepuk-tepuk pipi. Kemudian memperhatikan inci demi inci tubuhku, dari ujung jari hingga ujung kaki. Aku telah berubah kembali menjadi diriku sendiri. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*